DUDUKLAH wahai Adikku. Aku kualunkan gubahanku. Jangan tanya untuk apa, karena ini hanyalah
sebuah kegundagulanaan. Jawaban atas kegundahgulanaanku ini hanya kau yang memilikinya. Bukan Aku.
Setiap kali kutatap matamu, terpencar kesedihan dicerminan matamu. Di sana kutemukan wajah-wajah beringas yang selalu saja menusuk sukmamu. Engkau telah diperkenalkan sebentuk
kekerasan di tubuhmu. Aku tak tahu semua itu wahai Adikku, apakah ini semacam perkenalan kampus, pendidikan, pengajaran sesat dotrin sesat, salah persepsi, atau malah dendam kusumat turun-temurun.
Teramat sulit untuk menjawab atau menyimpulkan semua itu wahai Adikku, karena masing-masing orang punya jawaban, termasuk engkau wahai Adikku.
Memang, mencari jawaban tidaklah begitu muda di tengah kekerasan ini, karena jawaban yang diberikan dianggap sebagai prasangka, pembual, penghianat tradisi juga dianggap tak mengerti. Tapi percayalah, tidak berarti kita kehilangan jawaban? Tidak. Jawaban tetap ada, walaupun kerongkongan seakan tercekit, bibir gemetar dan terpaksa berteriak, “Iya” walaupun sesungguhnya sukma mengatakan “Bohong”.
Rasanya, dalam banyangan pikiranmu, terasa sudah mulai ditancapkan lambang, semacam bendera. Setidaknya ada semacam semangat simbol menambatkan diri dalam suatu kelompok fakultas. Mereka saling menancapkan dan mengibarkan bendera masing-masing dan menjanjikan solidaritas sesama fakultas. Kibaran bendera itu seakan-akan bertuliskan; ini adalah kelompok kami, bukan dia juga mereka. Pengetahuan ini kudapatkan bukan dari dosenku dik, tapi dari instinku.
Bendera itu dianggap sebagai asal kita, di mana semacam tempat berdiri dan menpertahankan egois fakultas kita. Kita bertengkar karena kita memang ditelah diperkenalkan sektarianisme. Ini juga tampaknya membuat lingkungan kita suram dari harmoni lambang kebersamaan di bawah payung universitas. Akibatnya, kita pun dipetakan dan melangkah dalam pengkotakan, bukan persambungan ruang gerak kita di bawah atap yang luas ini.
Memang merisaukan Adikku, karena semangat yang tertancap dalam dotrin tidak selamanya mengenakkan kebebasan akan jiwa kita. Tapi juga menyedihkan. Ketika semangat yang tertancap itu tidak lagi bermakna kemerdekaan berpikir. Kita pun pada akhirnya saling mengecilkan dengan saling mengklaim: Kita yang terbaik. Apa boleh buat, kita mesti mengatasi kesepian dan kesendirian kita dalam upaya meraih semangat kebersamaan universitas.
Banyak mungkin yang kecewa, mencibir bahkan menganggap kita sebagai penghianat ketika kita mencoba melintasi peta fakultas yang menghimpit ruang batas gerak kita. Karena kebersamaan katanya punya batas.
Kebersamaan yang mereka dotrinku itu sesungguhnya kepalsuan kebenaran. Mungkin juga kebersamaan itu ternodai ketika kebencian person merasuk di tengah massa dan menyebarkan kebencian atas tetangga fakultas kita di sana. Kalau kebersamaan seperti ini selalu terulang wahai adikku, apa boleh buat, kita harus selalu terpaksa mengulangi sejarah buruk, perkelahian massal. Betapa menyedihkannya semua itu, karena kita seperti keledai.
Kebersamaan memang membuat kita kuat dan tegar, ketika kita harus menghadapi kesewenang-wenangan kekuasaan. Tapi apa arti semua itu, ketika kebersamaan tidak lagi sebagai keleluasan bergerak. Kebersamaan yang menggangu stabilitas pikiran kita. Kebersamaan untuk saling memangsa antara satu fakultas dengan fakultas lainnya.
Pada saat semangat kebersamaan menggelora, seakan semangat tak peduli lagi tentang tenggang rasa. Semua ini justru membuat gap antar kita. Kita berada di bawah naungan kebersamaan semu, kita setuju atas kebersamaan itu, tapi sesungguhnya jiwa kita tak menerima kebersamaan untuk saling menghancurkan solidaritas persatuan kita.
Catatan : Klik foto atau
ishak_zainal untuk melihat kumpulan tulisan lainnya