.
12.5pt; line-height: 115%; font-family: 'palatino linotype';">Kesuksesan
penyelenggaraan
pemilu 2004 tak urung membuat bangsa ini berbangga dan
berbesar hati. Tak sedikit kata-kata pujian dialamatkan kepada diri
sendiri: kita adalah bangsa besar dan demokratis; Indonesia adalah
negara
demokrasi terbesar di dunia setelah India dan USA.
Tentu tidak etis juga menyangkal kenyataan itu. Memang benar, Pemilu 2004 berjalan damai, tanpa insiden dan intimidasi. Rakyat
menikmati kebebasan dan kedamaian dalam memberikan suaranya di
tempat-tempat pemungutan suara. Monster Orde Baru, dalam rupa kehadiran
petugas keamanan (militer) secara mencolok, yang membuat Pemilu selalu mencekam sudah terkubur.
12.5pt; line-height: 115%; font-family: 'palatino linotype';">Tetapi
apakah itu yang dimaksudkan dengan demokrasi? Sudah sempurnakah
demokrasi kita dalam wujud pemilu 2004? Kita ibarat anekdot tentang
orang buta yang memegang kaki gajah lantas mendeskripsikan gajah
seperti batang pohon.
Pemilu yang damai dan bebas belumlah figur utuh dari demokrasi. 12.5pt; line-height: 115%; font-family: 'palatino linotype';">Atmosfere
demokrasi dalam pemilu 2004, berupa kebebasan dan kedamaian tidak dapat
dipisahkan dari eforia sosial politik masyarakat kita waktu itu, yang
berharap banyak pada reformasi. Reformasi telah dinobatkan sebagai
kemenangan rakyat atas kediktatoran Orde Baru.
Pemilu 2004 seakan-akan diimpikan sebagai suatu gerbang terbuka menuju masyarakat adil makmur serta bebas merdeka. 12.5pt; line-height: 115%; font-family: 'palatino linotype';">Harapan
seperti itu, tentu saja wajar. Rakyat berhak mengimpikannya dan
menuntut bahwa dengan pemilu impian itu menjadi kenyataan.
Sekarang
kita menjelangi pemilu 2009. Lima tahun terlewatkan tanpa ada perubahan
berarti. Bukan bahwa tidak ada perubahan. Soalnya bahwa perubahan itu
tidak menyapa dan menyentuh apalagi menjawab kebutuhan serta
kepentingan masyarakat. Mengapa demikian? Karena pemilu yang damai dam bebas barulah bungkusan atau kulit luar demokrasi. 12.5pt; line-height: 115%; font-family: 'palatino linotype';">Substansi
atau isi demokrasi adalah kedaulatan dan partisipasi rakyat dalam
setiap proses dan pilihan kebijakan pembangunan, karena muara atau
tujuan akhirnya tidak bisa lain yakni: sebesar-besarnya kemakmuran dan
kesejahteraan rakyat. Persis inti dan substansi demokrasi itulah yang
tidak tercapai selama periode lima tahun pasca pemilu 2004.
Kita
berandai bahwa pemilu kala itu adalah mahkota demokrasi, ternyata
demokrasi kita baru sebatas bungkus dan kulit luar: demokrasi
seolah-olah.