• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Seni & Humaniora>Drama Penerimaan CPNS; Nasib Manusia dalam Mitos dan Ritual Mutakhir

.

Drama Penerimaan CPNS; Nasib Manusia dalam Mitos dan Ritual Mutakhir

oleh : DedePramayoza    

Pengarang : Dede Pramayoza
Membaca Formasi; Sebuah Eksposisi
Ada suatu fenomena menarik yang hampir bisa kita saksikan setiap
tahun akhir-akhir ini, yaitunya ketika pengumuman formasi penerimaan pegawai negeri di publikasikan di media massa. Ribuan orang (rata-rata sarjana) secara serempak di berbagai tempat berburu media cetak (biasanya koran harian) untuk memperoleh informasi tersebut. Bahkan, jika mereka tidak mendapatkannya karena kehabisan persediaan, mereka akan rela mengeluarkan beberapa ribu rupiah untuk membeli fotokopiannya di copycentre-¬ copycentre¬ (yang secara sporadis juga mulai melirik bundel fotokopian tersebut sebagai pemasukan ekstra). Yang jelas, mereka (ribuan orang itu) merasa harus mendapatkan informasi tersebut, dengan cara apa saja.
Mereka yang telah mendapatkan koran yang memuat pengumuman tersebut, atau memperoleh fotokopiannya (selanjutnya disebut ‘pembaca’), biasanya membacanya langsung tanpa menunggu sampai di rumah. Sebagian besar dari mereka, bahkan menjadi tidak lagi menyadari di mana ia berada. Seringkali dapat disaksikan, para ‘pembaca’ ini berjalan tanpa memperhatikan lingkungannya, atau bahkan lupa bahwa ia sedang berada di tengah keramaian, atau sedang duduk di boncengan kendaraan bermotor. Untuk beberapa saat, mereka teralinasi dari lingkungan fisiknya dan seolah-olah terbang meninggalkan jasad kasarnya masing-masing. Pikiran mereka, memasuki suatu spektrum harapan, yaitunya harapan memperoleh pekerjaan sebagai PNS. Sebuah harapan, yang di negeri ini terlanjur dianggap koheren dengan harapan kehidupan.
Menggerakkan jari telunjuk mengikuti urutan daftar formasi (dari kanan ke kiri, lalu ke bawah, lalu dari kanan ke kiri lagi, dst), dengan bola mata fokus mengikuti jari pada tabel-tabel yang menyajikan kesempatan pekerjaan tersebut, menjadi tingkah-laku yang khusus pada hari itu. Selanjutnya, seulas senyum sambil melipat baik-baik lembar koran (atau fotokopian), atau menarik nafas panjang dengan wajah murung, sambil melipat sembarangan (atau juga membuat menjadi gulungan) segera memberi informasi tentang nasib para pembaca ini. ‘Laku’ yang pertama, rata-rata adalah bentuk ungkapan kegembiraan, yang memantulkan harapan, sedang yang ‘laku’ kedua adalah ungkapan kekecewaan, yang memantulkan kebuntuan.
Bisa ditebak, bahwa ‘laku’ yang di tunjukkan oleh ‘pembaca’ seperti di atas, menandakan bahwa si ‘pembaca’ pertama menemukan apa yang di carinya, sedang ‘pembaca’ yang kedua tidak. Jika ditanya tentang ‘apa’ yang dicari, agaknya semua orang bisa memberikan jawaban. Tentu saja adalah peluang pekerjaan sebagai PNS, di mana formasi yang dicari (yang diumumkan dalam koran tersebut) cocok dengan bidang ilmu atau keahlian para ‘pembaca’ ini. Adapun keahlian dan kemampuan tersebut sudah tentu pula merujuk pada selembar ijazah yang mereka miliki.
Namun, mungkin sedikit orang saja yang memperhatikan bahwa aktifitas para ‘pembaca’ tersebut, bukan sekedar ‘laku’ untuk menemukan peluang Pekerjaan. Pada dasarnya, ‘laku’ tersebut adalah bentuk ritus, di mana para ‘pembaca’ tersebut sedang berhubungan dengan yang transedental, yang ‘ilahiah’. Dengan menatap nanar jejeran formasi pekerjaan pada lembar koran tersebut, para ‘pembaca’ itu tengah menawar nasibnya. Koran (yang memuat pengumuman pekerjaan) tersebut, sesaat menjadi penghubung antara manusia yang ‘membaca’ itu dengan ‘sesuatu’ yang diimaninya sebagai “Yang menguasai” kehidupannya. Tidak aneh, jika mereka yang seumur-umur tidak menjalankan ‘syariah’ agamanya pun, akan memulai membaca dengan menyebut nama Tuhan. Sebuah usaha invokatif, yaitu memohon pertolongan kepada kekuatan di luar dirinya.
Karena itu, aktifitas-aktifitas mereka yang membaca pengumuman ini juga dramatik. Ia memantulkan berbagai emosi yang memperlihatkan sisi ‘manusia’ terdalam dari diri masing-masing ‘pembaca’ tersebut. Kegembiraan, harapan, kekecewaan, kebuntuan, kesedihan dan emosi lainnya, tanpa sadar menjadi suatu motivasi performatif, yang menjadi impuls bagi suatu ‘perilaku’ tubuh yang khas. Betapa tidak, sebab selama ‘membaca’ pengumuman itu, para pembaca terlibat dalam sebuah ‘ketegangan’ yang semakin meningkat seiring dengan semakin sedikitnya daftar yang akan di baca, sementara apa yang dicari belum juga ditemukan. Di samping itu, mereka yang ‘membaca’ tersebut juga menemukan ‘kejutan’ ketika menemukan apa yang mereka cari, dan sebaliknya mengalami khatarsis (pemahaman akan realitas) ketika tidak menemukannya.
‘Laku’ tubuh dari para ‘pembaca’ ini, tidak saja mengungkapkan perasaan tertentu, melainkan juga menjadi aspek dari sebuah ritus muthakhir. Sebagai sebuah ritus, tingkah laku dari para ‘pembaca’ tersebut sebenarnya, momentum dan repetitif sifatnya. Momentum, sebab tidak setiap hari para ‘pembaca’ tersebut khusuk dengan aktifitasnya ‘membaca’ tersebut. Bahkan, bukan tidak mungkin, para ‘pembaca’ ini sehari-harinya tidak membeli dan membaca koran. Kekhusukan semacam yang digambarkan di atas, hanya mereka lakukan pada momen khusus, yaitunya momen ketika formasi penerimaan CPNS diumumkan. Sedangkan repetitif, sebab kegiatan yang sama sebenarnya dilakukan berulang setiap tahunnya. Bahkan, kegiatan itu diulangi langsung hari itu juga di tempat yang sama (tidak harus menunggu waktu setahun atau menunggu pengumuman musim selanjutnya). Terutama, bagi mereka yang tidak menemukan apa yang mereka cari, akan mengulanginya sekali lagi dengan lebih khusuk, dan berharap bahwa ada yang terlewatkan. Harapannya, pada pembacaan yang kedua mereka akan menemukan apa yang mereka cari.
Demikianlah, ‘membaca’ formasi penerimaan CPNS menjadi ritual baru dalam kehidupan muthakhir kita. Sebuah aktifitas, yang bukan sekedar ‘membaca’ dalam pengertian harfiah, yaitu menyerap arti kata dari sebuah pengumuman, tapi lebih dari itu, adalah juga ‘membaca’ nasib, membaca kualitas hubungan manusia (mikro-kosmos) dengan ‘tangan tak-terlihat’ (makro-kosmos) yang menguasai kehidupannya. Sebuah aktifitas yang menjadi kekhusukan tersendiri bagi para ‘pembaca’-nya setiap tahun, yang sekaligus merefleksikan sebuah ironi tentang sedikitnya peluang kerja di negeri ini. 
Diterbitkan di: Januari 10, 2009
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.