• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Seni & Humaniora>Menakar NILAI JUAL SASTRA

.

Menakar NILAI JUAL SASTRA

oleh : wimonline    

Pengarang : ZELFENI WIMRA
Penerima reward utama Kathulistiwa Literary Award dihargai dengan 100 juta rupiah. Penerima Anugerah Pena Kencana menerima
uang tunai 50 juta rupiah. Para pemenang pada sejumlah sayembara menulis karya sastra mendapat hadiah pada kisaran satu sampai 10 juta rupiah. Angka-angka yang tidak bisa dikatakan sedikit.
Ini belum lagi honorium yang diperoleh penulis sastra atas pemuatan karyanya pada koran, majalah, atau jurnal sastra. Ada koran yang sudah berlabel nasional menghargai satu cepren dengan satu juta rupiah; 800 ribu rupiah; 500 ribu rupiah; dan rata-rata 300 sampai 400 ribu rupiah. Kalau koran lokal, berkisar antara 50 ribu sampai 150 ribu.
Takaran ini memperkokoh status nilai jual sastra telah mendapat tempat dalam dinamika perekonomian di negeri ini. Sastra adalah bisnis dan pekaryanya adalah pebisnis. Sastra itu komoditas pasar dan pihak mana pun yang terlibat dalam pengelolaannya adalah manejer.
Organisme penggiring sastra tersebut, disadari atau tidak telah terbentuk sejalan kebutuhan masyarakat akan sastra. Barangkali, ini juga di antara alasan mengapa perguruan tinggi sastra itu penting eksistensinya dan perlu dijaga keberlangsungan dan pertumbuhan kualitas pengajarannya. Selain membekali peminat sastra sebuah keterampilan layaknya bekal seorang pebisnis sebelum memasuki pasar, keahlian di bidang sastra pun masuk ke dalam daftar profesional yang keabsahannya telah disertifikasi oleh negara. Tentu saja ini bisa menjawab kebutuhan khalayak akan pekerjaan formal, setidaknya di musim-musim penerimaan CPNS.
Membahas sastra sebagai salah satu mata usaha, mata bisnis, mata pencarian, tidak ditemukan perbedaan pendapat atau perdebatan yang berarti. Wacana yang muncul paling hanya mengenai isu-isu bagaimana ketika sasatrawan masuk ke dunia bisnis yang selalu diasumsikan “kaku”.
Ada yang berpendapat, manajemen sastra menuju pasar mestinya dipegang bukan oleh sastrawan sendiri. Mekanisme mungkin mirip dengan cara kerja seorang konsultan calon legislatif menjelang Pemilu. Bisa juga seperti cara kerja seorang manejer pengorbit selebriti, bintang film atau artis dangdut. Individu pekarya cukup bekarya saja. Pikirkan saja bagaimana supaya kualitas karyanya terjaga dengan baik. Bagaimana menghadapi pasar sudah diurus sedemikian rupa oleh sang manejer.
Dalam aktivitas sastra, aplikasi pendapat dan cara kerja semacam ini masih dalam proses perkembangan. Boleh dikatakan masih abu-abu. Toh, masih banyak sastrawan yang bekerja sendiri. Menulis dan mengirim karyanya sendiri. Melobi penerbit sendiri. Untung-untung good will pemerintah daerahnya sedikit peduli membantu biaya si penulis menerbitkan buku. Untuk merealisasikan sinergitas ini pun, rata-rata penulis melakukan sendiri. Jadi masih bisa dihitung dengan jari, siapa saja seorang penulis karya sastra dimanejeri.
Diterbitkan di: Nopember 17, 2008
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.