• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

.

Pendidikan Anak

oleh : farihik    

Pengarang : Farih Ibnu Khozin

keteladanan adalah pembelajaran terbaik
oleh Farihik
Ketika menghadiri wisuda akhirussanah kyai Sobrun, tokoh
RT 4 di dusunnya sempat terkaget-kaget mendapat lontaran pertanyaan dari Kapten Suarjo wali siswa, seseorang yang alumnus Magister Universitas di Puncak Kejayaan dan menjadi tokoh Kadipaten di Bojonegoro.
” Kyai benarkah efektif keteladanan itu mampu mendidik anak ?”
Kyai Sobrun yang tidak mengerti arah pertanyaan hanya kaget saja, tidak mengerti makna pertanyaan Sang tokoh Kadipaten. Tokoh RT ini hanya lulusan SLTP ndesa dengan status terdengar lagi.
” Maksud sampeyan ? ” tanya kyai tokoh RT itu.
”Apakah dengan keteladanan saja kita mampu mendapatkan keberhasilan dalam mendidik anak kita, padahal saya telah mengunakan berbagai teori belajar dari konstruktifisme Gagne, teori media Siberman, revolusi belajar Dryden and Voss, he-e anak saya tetap sulit melakukan ibadah-ibadah sunat, jangankan sunat yang wajib aja susah !” panjang lebar penjelasan Sang Kapten.
” Apa iya?” logat kebomenek kyai Sobrun datang.
” Iyalah, seluruh ibadah sunat itu telah saya laksanakan yang wajib apalagi, e ternyata anak saya tidak mau mengikuti malah susah diperintah untuk menjalankan yang wajib ” lanjut Sang tokoh Kadipaten berapi-api.
” Lah Sampeyan telah istiqomah dalam memberi keteladanan itu?” tanya kyai Sobrun.
” Maksud Kyai ?” kali ini Tokoh Kadipaten gantian ndak ngerti rupanya. ” Satu – satu ” dalam hati kyai Sobrun berujar. ” Sudahkah Sampeyan memberikan contoh ibadah sunat atau yang wajib itu secara terus menerus, sehingga mampu membangun kebiasaan anak dalam melaksanakan ibadah yang itu merupakan media langsung yang dilihat anak Sampeyan, sehingga ia mampu mengubah perilaku tidak baiknya menjadi kebiasaan-kebiasaan baik ” dengan suara agak meninggi kyai yang penyabar itu memberi ulasan dialognya.
” Lah itu yang belum saya laksanakan bagi anak-anak saya ” Tokoh Kadipaten menimpali.
” Terus segala teori kontruktifisme ganye, media sibermen, revolusi driden en vos dimana Sampeyan tempatkan dalam mengajarkan ibadah kepada anak Sampeyan? ” ujar Kyai Sobrun.
” Saya menerapkannya dengan pembelajaran yang membangun dia agar mandiri, sekali diberi contoh dia dimotivasi agar terus mengembangkan sendiri secara leluasa, dengan media cd kaset untuk memberi contoh yang tepat dalam beribadah sehingga muncul keinginan untuk melaksanakan ibadah itu”. Penjelasan Sang Tokoh.
” Sampeyan terus menerus apa ndak dalam membangun kemandirian itu agar menjadi kebiasaan setidaknya anak terbiasa untuk melaksanakan ibadah sebelum dengan media sidi kaset tadi” tanya kyai Sobrun.
” Oh ya terus saja saya berikan motivasi agar ia mandiri melaksanakan ibadah itu, melalui khadimat atau ibunya karena tugas-tugas saya tidak mungkin selalu berada di rumah” jelas Sang Tokoh.
” Benarkah hal itu terus diberikan kepada anak Sampeyan untuk menjadi kebiasaan atau hanya dikatakan terus oleh ibunya atau khadimat ?” kejar kyai Sobrun.
” Itu yang hanya dilaporkan pada saya ” kata Sang Tokoh.
” Inilah masalahnya mungkin saja ada ABS (asal bapak suka) agar ndak ribut-ribut, maka dilaporkan telah dilaksanakan. Padahal keteladanan melalui kontruktifisme, media atau revolusi belajar harus terus menerus dijalankan akan membangun kebiasaan anak untuk melaksanakan ibadah. Tidak boleh hanya pada saat tertentu ketika ingin saja dijalankan ketika tidak, ditinggal misalnya diberi keleluasaan sebebas-bebasnya. Secara terus menerus inilah yang dinamakan dengan keteladanan secara istiqomah. Sepertinya pembelajaran Sampeyan belum mencapai kebiasaan bagi anak sehingga kontruktifisme, untuk membangun kebiasaan ala Sampeyan masih runtuh dan belum membentuk kebiasaan bagi anak untuk melaksanakan perilaku yang baik, ibadah misalnya baik ibadah wajib ataupun ibadah sunat.” jelas sang kyai.
” Kalau begitu saya harus membangun kebiasaan itu untuk keluarga saya juga kyai ? ” Tanya Sang Tokoh.
” Lho memangnya pembiasaan ibadah itu belum dibangun pada keluarga, ibadah sunat misalnya puasa sunat atau shalat sunat ? ” jawab kyai yang menjadi pertanyaan lagi.
” Belum, lha ibadah sunat khan tidak harus dilaksanakan, lagian berat juga kalau harus puasa Senin- Kamis sementara tugas-tugas sehari-hari sangat banyak ibunya yang kerja, khadimat yang wong ndesa, kasihan saya mau membebani tugas-tugas itu “ jelas Sang Tokoh.
“ Begitulah ketidak-istiqomah-an Sampeyan dalam melaksanakan pembelajaran, saat tertentu dibangun dengan keteladanan tapi terus diruntuhkan lagi dengan contoh nyata melalui ketidak-istiqomah-an keluarga Sampeyan sendiri. ya begitulah hasilnya. Jika Sampeyan mau bersusah sedikit memulai dari keluarga sebelum Sampeyan punya anak dengan pembiasaan baik itu, dengan kebiasaan melaksanakan ibadah wajib dengan sunatnya sekaligus, maka tidak lagi akan menjadi berat, khadimat di tempat saya orang yang baru dari ndesa juga ikut puasa sunat, walaupun sebelumnya tidak pernah dilakukan ketika di keluarga saya semuanya melaksanakan ibadah sunat. Karena itu keteladanan dimulai dari diri kita, keluarga, maka lingkungan kita akan mengikuti kebaikan itu selagi kita istiqomah malaksanakannya ”. jelas sang kyai bersamaan dengan itu pembawa acara mempersilahkan agar kyai Sobrun memimpin doa penutupan. Kyai membacakan doa agar seluiruh hadirin diberi istiqomahdalam melaksanakan kewajiban, terutama mendirikan sholat karena ialah tiang dinul Islam, beserta seluruh keturunannya.
Rabbanaa la tuzigh qulubanaa ba’da idz hadaitanaa wa hablanaa min ladunka rahmah
Rabbana ij’alnaa muqiima ash-sholati wa min dzurriyyatinaa innaka samii’ut du’aa.
Diterbitkan di: Oktober 24, 2008
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.