Nashruddin pergi ke sebuah kota pada saat daerahnya mengalami musim paceklik. Di kota itu ia melihat penduduk bersuka ria
dalam kemegahan hidup. Mereka semua berpakaian baru dan wangi sembari menikmati suguhan makanan termahal yang serba lezat. Mereka sungguh riang.
Dengan perasaaan heran, Nashruddin bertanya,
“Mengapa kota ini berekonomi tinggi dan masyarakatnya hidup dalam kemakmuran dan kesejahteraan? Apa penyebab penduduk di sini semua kaya-raya dan bahagia, sedangkan penduduk daerahku sedang mengalami
krisis pangan?”
Salah seorang warga kota yang mendengar gumaman Nashruddin menjawab,
“Tahukah Anda bahwa kami sedang berhari raya? Semua orang menghidangkan minuman dan makanan paling lezat, lebih lezat dari makanan dalam setahun…”
Nashruddin sejenak berpikir, lalu berkata,
”Andaikata setiap hari adalah hari raya, maka penduduk daerahku tentu akan selamat dari kekurangan makanan. Tentu, penduduk daerahku akan bahagia sepanjang hari…”
Nashruddin terkesan konyol. Jika logika yang dipakainya dibawa ke tengah gaya hidup hari ini, Nashruddin akan mendapat cibiran.
“Oi, Nashruddin, kamu tahu tidak, hari raya itu hanya dua kali dalam setahun. Itu sudah ketentuan Tuhan. Dialah yang memberi kita hari raya!” teguran semacam ini sangat mungkin diterima Nashruddin. Agar Nashruddin cepat-cepat memulihkan cara berpikirnya yang sedang abnormal.
Akan tetapi, satu-dua orang mungkin akan sepikiran dengan Nashruddin. Berusaha memetik prinsip dari anekdot Nashruddin, seorang sufi yang lahir 1206 di Desa Hortu dekat kota Sivrihisar di bagian barat Anatolia Tengah (Turki Tengah) ini. Prinsip berhari raya yang bisa dipetik itu barangkali berkisar seputar bagaimana mengekspresikan kemenangan spritual tanpa menanggalkan gairah sosial dalam kehidupan modern. Pertanyaan yang melatarinya: kenapa hanya pada hari raya saja orang bisa berbagi, makan-minum, berpakaian baru, dan bahagia bersama?
Di hari-hari yang lain, orang kembali masyuk dengan rutinitas pemenuhan kemakmuran jasmani masing-masing. Orang-orang kembali terikat pada sistem sosial tertentu yang tidak memiliki visi keilahian. Orang-orang seakan lupa bahwa ajaran yang tersirat dari berhari raya itu adalah refleksi seberapa parah
individualisme merusak tatanan hidup bermasyarakat? Jika dalam setahun hanya sekali dua kali orang bisa bersama layaknya pada hari raya, betapa banyak hari-hari yang berlalu dalam kemasing-masingan. Sangat jauh perbandingannya.