TKI ku sayang TKI ku malang
Pagi itu kota Wamena terasa indah, hembusan angin pagi mengantar "Hasna" gadis kecil mulai menyusun program sekolahnya yang sudah lama ia tinggalkan, maklum Hasna terlahir dari keluarga yang kurang mampu. sudah sekitar 2 minggu ia meninggalkan bangku sekolah, karena malu memiliki tunggakkan yang belum ia lunasi. 3 bulan sudah Hasna tidak membayar SPP, sehingga pihak sekolah memintanya untuk meninggalkan sekolah untuk sementara dan di ijinkan untuk masuk kembali bila ia mampu melunasi SPP yang tiga bulan itu.
keseharian Hasna ia lewati penuh dengan derita, maklum di negara ini kemiskinan menjadi momok. yang miskin semakin miskin, yang kaya semakin menggila.
sudah 18 tahun Hasna hidup dalam bayang-bayang kemiskinan, sehingga ia memiliki niat untuk mengadu nasib bekerja keluar negri, maklum memang di Indonesia menjadi pembantu untuk negri orang sudah menjadi profesi yang mendarah daging, padahal negara ini terlihat makmur tapi mengapa rakyatnya masih tersungkur? negri ini terlihat subur tapi mengapa rakyatnya malah hancur?
dengan penuh impian dan angan-angan Hasna memulai langkahnya demi meraih masadepan cerah secerah hari yang pernah ada untuknya........
menjadi TKI bukanlah hal yang mudah. namun demi impian meraih masadepan yang lebih baik Ia menjalani walau memang terasa berat.... memang tidak enak menjadi orang miskin. gerak dan ekspresi pun terbatas oleh kekuasaan.
3 tahun sudah Hasna di taiwan, impiannya mulai tertata, cita-citanya mulai terasa dekat dan wajahnya pun mulai terbalut dengan senyum tanpa paksa. tidak seperti hari-hari yang telah lama ia tinggalkan dulu....saat ini terasa indah, Hasna mampu membahagiakan orangtuanya, saudaranya dan orang-orang terdekatnya.
namun semuanya sirnah hilang tanpa jejak, impian yang sudah lama dibangun dengan sangat mudah terenggut dari genggamannya.
Hasna divonis memiliki kangker payudara, entah kapan penyakit itu datang? mengapa ia tidak boleh manyicipi indahnya hidup berkecukupan? apaka dunia tidak menghendaki keberadaanya? tapi mengapa Ia tercipta dan terlahir ke dunia ini?
memang tidak akan ada yang bisa menolak takdir "Tuhan" siapapun dia,dimanapun dia, kapanpun ia mau Ia akan menjemput. memang tidak adil terasa, namun apalah daya sebagai manusia biasa yang ia mampi hanyalah berdoa dan berusaha....
sendirian saja Hasna melewati hari- hari yang menyengsarakan ini.tiada orang tua dan saudara. sudah sering pihak tempatnya bekerja memintanya untuk pulang tapi demi cita-cita dan angan Hasna menolaknya. hingga saat itu tiba, Hasna terkulai lemas di atas kasur, mengerang kesakitan tanpa teman. terasa ini adalah hari terakhir baginya. orang-orang dirumah memang mengetahuinya tapi apalah daya mereka tidak mampu menjemput karena memang tidak ada biaya untuk kesana. sebagai tukang becak sangat tidak mungkin ayah Hasna mampu membayar tiket untuk menjemput anak kesayangannya....
tapi Hasna tetaplah Hasna, kesengsaraan adalah bagian dari hidupnya. Ia pun mencoba untuk tabah dan berjuang untuk merebut kembali kebahagiaan yang pernah terenggut dari hidupnya....... namun Hasna tetaplah manusia biasa yang lemah dan tak berdaya. ia mati meninggalkan hutang yang tidak pernah bisa ia lunasi. hutangnya terhadap kebahagiaan dirinya dan keluarganya serta angannya untuk menjadi manusia yang lebih berguna untuk dirinya dan orang disekitarnya.....
kau pergi dengan luka dihati negri ini. namun luka tinggallah luka semoga deritamu tidak tersebar menjadi hutang derita anak bangsa yang memiliki nasib sepertimu di negri ini Indonesia tercinta.....