.
Soekanto SA Penulis Cerita Anak-Anak (2)
none" align="center">
Soekanto SA Penulis Cerita Anak-Anak Indonesia
(2)
Oleh: A.Kohar Ibrahim
Selain dua buku berupa kumpulan cerpen berjudul "Buku Merah" (Balai Pustaka, 1958) dan "Buku Harian Anakku" (Gaya Pavorit Press, 1981), dan selain 30-an buku bacaan untuk anak-anak, Soekanto S.A. juga menyusun buku-buku lainnya yang mengungkapkan tokoh-tokoh yang Islami seperti Mohamad Husni Thamrin Matahari Jakarta (1973), Si Pitung Hanya Sekali Kita Mati (1975) dan Jenderal Sudirman Perjalanan Bersahaja (1981).
Salah satu bukunya yang amat menarik perhatian saya adalah yang berjudul "Wahai Kekasih Allah", diterbitkan oleh Badan Penerbit Pustaka Jaya, 2000. Yang menurut kesan saya, sekalipun buku ini dimaksudkan sebagai bacaan untuk anak-anak, namun layak juga dibaca oleh segenap tingkat usia. Karena mutu isinya yang mendalam lagi cerah. Suatu hal yang wajar, jika diingat sebagai suatu kesatuan kerangka pemikiran dengan persiapan yang sangat serius. Terbukti dari keragaman dan luasnya referensi yang dikajinya, yakni tak kurang dari 70 buku yang dikajinya.
Maka dari segi itu saja, para pembaca sudah sangat diberkahi pengetahuan yang selain isinya memang merupakan riwayat Nabi Muhamad SAW, juga dengan begitu memperoleh sejumlah referensi demi memperdalam pengetahuan. Suatu upaya yang sudah selayaknya dilakukan, supaya dalam mengayomi kehidupan sehari-hari maupun keagamaan, tidak hanya puas dengan hanya berbekal pengetahuan yang dangkal. Suatu pemahaman yang dangkal itu, menurut hemat saya, mudah mengarah atau malah diarahkan oleh orang-orang tertentu atau kelompokan orang tertentu ke jalan yang salah. Salah kaprah atau salah yang tidak ketulungan: seperti yang terwujudkan dalam tingkah-ulah yang ekstremis itu!
Dari buku "Wahai Kekasih Allah" yang tebalnya 156 halaman melingkup 39 subjudul itu, ada yang amat mengesankan saya. Yakni subjudul 35 berbunyi "Aisyah Ummul Mukminin" (Si "Merah Jambu yang Cerdas"). Suatu kisah satu-satunya perempuan perawan yang dinikahi Rasulullah. Yang berusia jauh lebih muda. Tapi yang paling cerdas dan dihormat serta dikasih-syangi.
"Hanya sekitar sepuluh tahun Aisyah hidup bersama Rasulullah sebelum suaminya itu wafat di pangkuannya dan di kamarnya" tulis Soekanto S.A. "Namun, dalam waktu yang singkat, bukan main banyaknya ilmu yang diperoleh Aisyah dan diserap oleh otaknya yang cerdas." Seterusnya dikisahkan, selain hal-ihwal hubungan kasih-sayang, kemanjaan, keriangan, suka bercanda dengan sang suami, juga bagaimana Aisyah melakukan tugas sosialnya dengan kemurahan hatinya.
Dalam pada itu, ada salah satu poin pelajaran yang amat penting yang layak diteladani dalam bagian ini. Yakni bagaimana bersikap yang tegas terhadap fitnah dan kabar bohong atau dusta yang tersebar. Fitnah dan kabar bohong yang mencemarkan sekitar sang bini terkasih itu kiranya merupakan pelajaran yang patut diterapkan oleh ummat yang beriman. Dalam menghadapi percobaan yang gawat, Rasulullah menerima wahyu Allah. Seperti yang tertera dalam Surat An Nuur, 11 dan 19:
Diterbitkan di:
Agustus 24, 2008
Lainnya tentang Seni & Humaniora
Ringkasan lain oleh akibr
More