.
Gubah Tergugah Gurindam Duablas: Senja Di Tanjungpinang
14pt; line-height: 115%">
Gubah Tergugah Gurindam Duabelas
(1)
Senja Di Pantai Tanjung Pinang
Gubah Tergugah Gurindam Duabelas
(1)
Senja Di Pantai Tanjung Pinang
GURINDAM Duabelas karya Raja Ali Haji, yang disusun olehnya semasa usia 38 tahun, yakni pada 23 Rajab 1263 Hijrah atau tahnun 1846,adalah salah sebuah karya puisi yang paling termasyhur dalam sejarah kesusastraan Indonesia. Puisi tersebeut selain merupakan bacaan untuk umum juga dikaji di bangkus sekolah ; menjadi bahan kajian oleh para peminat sastra dalam dan luar negeri. Bahkan mampu menggugah inspirasi bervariasi para sastrawan selanjutnya. Seperti « Gubah Tergugah Gurindam Duabelas » oleh A.Kohar Ibrahim. Yang bahkan baris-baris kata puitis yang mengawalinyamelahirkan sebuah subjudul dari serangkaian judul yang saling selang seling namun erat berkaitan adanya. Seperti di bawah ini :
Senja Di Pantai Tanjungpinang
Oleh : A.Kohar Ibrahim
WAKTU senja tiadalah terasa sebagai penyebab gundah gelisah apa pula kesedihan, meskipun sang mentari mulai beranjak ke dalam pelukan sang malam. Ah, suasanayang aneh berbaur kewajaran, seperti manusia pula tatkala usia menjelang senja. Bukan hanya kepedih-sedihan melainkan juga kemungkinan merasakan benar sebenar-benarnya anugerah keindahan yang membahagiakan.
Kebahagiaan lantaran pertemuan langsung dengan kekasih yang pertamakali, juga sang pengundang telah membawa daku berkunjung ke Tanjungpinang. Untuk berkelanjutan dengan simbahan cahya mentari pagi menyeberang ke Pulau Penyengat. Pulau legendaris Kepri yang menarik hati sudah semenjak masa dikaji di bangku seolah.Terutama sekali kajian « Gurindam Duabelas » gubahan pujangga Raja Ali Haji.
Maka benarlah benar kebenarannya opini, bahwasanya kebenaran itu indah. Iya, sepertiterbukti yang terungkapkan baris-karis kata puitis mengawali « Gurindam Duabelas » berbunyi :
« Simpanan Yang Indah
Ialah Ilmu Yang Memberi Faedah »
Sungguh !Dalam sehari sejak pagi hari berkunjung seraya mengkaji inti makna Pulau Penyengat sampai kembali ke tepian Tanjungpinang lagi, pandang mata masih terpaut bahkan tertumpu pada tepian pulau legendaris itu. Sinar mentari kilau-kemilau menelusurigerak riak ombak putih keperak-perakan berubah kuning keemasan lantas kemerah-merahan.
Seketika pandang mataku beralih ke wajah sang gadis yang membawaku ke sini. Duhai ! wajahnya begitu cerah sumringah, berhias senyum berseri layaknya anugerah setulus hati. « Tidakkah keindahan nan indah itu sesungguhnya bermuara dari paduan hati dalam suasana keindahan yang dialami ? » bisikku di kedalaman relung hati. *** (Akibr)