Bintang Utuy Tatang Sontani
Esai Sastra
Oleh : A. Kohar Ibrahim
SAYA sengaja memberi judul catatan yang sarat akan penilaian afirmatif: "Bintang Utuy Tatang Sontani". Karya-karya tulis Utuy sebagai bintang dan bintang. Dan Utuy seorang pengarang sebagai bintang. Padahal bukunya yang akan saya berikan catatan judulnya dalah: "Di Bawah Langit Tak Berbintang", setebal 150 halaman hasil terbitan Pustaka Jaya, Jakarta, 2001.
Buku tersebut disusun dan disertai kata pengantar oleh sastrawan Ajip Rosidi yang bukan saja sama-sama asal etnis Sunda tapi juga pakar bahasa dan sastra Indonesia yang cukup mengenal Utuy sejak masih muda.Selain isi tulisan Utuy yang berupa memoar itu layak disimak, juga pengantar sang pakar layak pula menjadi perhatian. Terutama sekali perihal bagaimana sang dramawan kaliber besar itu sampai masuk Lembaga Kebudayaan Rakyat. Hingga diapun menjadi salah seorang korban kebiadaban penguasa Orde Baru.
Ada apa dengan judul dari saya tersebut diatas? Kok berani-beraninya memberi penilaian afirmatif segala? Ah, sederhana saja fasalnya.Karena saya juga termasuk yang mengenal Utuy Tatang Sontani yang kelahiran Cianjur 1920 meninggal di Moskow 1979 itu. Saya sering ketemu dalam kegiatan di salah satu lembaga seni Lekra, yakni Lembaga Sastra Indonesia di Jalan Cidurian 19 Jakarta. Kemudian, selama beberapa tahun pernah sama-sama bermukim di negeri Naga Merah. Yakni Republik Rakyat Tiongkok (RRC).
Nah lho! Ajip kepergok saya -- jadinya! Dalam hal kenapa-bagaimana-nya Utuy itu! Bahwasanya saya juga menyaksikan Utuy adalah Utuy, dimanapun dia berada. Apakah di tanah Parahiyangan, di Jakarta, ataukah di Peking atau di Moskow sekalipun! Kerna ketika masuk Lekra ketika itu dia sudah jadi tokoh. Seperti halnya juga Pramoedya Ananta Toer, S. Rukiah, Rivai Apin, Hr Bandaharo, Boejoeng Saleh dan yang lainnya lagi. Artinya, Utuy sebagaimana juga yang lainnya itu, menjadi besar atau terkenal bukan "dicetak" atau "digarap" Lekra -- apalagi PKI! Dan tidak pula lantaran "terjerat oleh kelihaian orang-orang PKI menarik para pengarang dan seniman yang tidak tahu politik masuk ke dalam strateginya" seperti kata Ajip (hlm 19). Melainkan karena kreativitas dan kecendekiawanannya sebagai individu-individu yang sudah jadi. Maka apapun terjadi, mereka atau yang semacam Utuy tetaplah demikian adanya.
Begitulah, halnya dalam kaitannya dengan ideologi yang diharamkan penguasa Orde Baru: "komunisme, marxisme, leninisme." Sebagaimana juga cap "G30S/PKI", cap ideologi semacam itu bukankah hanya rekayasa sang penguasa Orde Baru itu sendiri dalam rangka aksi perampokan dan pelanggengan hasil rampokan kekuasaan negara (kudeta) yang mereka lakukan?
Main cantel-cantelan, main cap-capan dalam kampanye besar alias propaganda-hitam itulah penguasa Orde Baru telah menistakan ideologi lawan politiknya seraya menistakan secara serampangan siapa saja, golongan mana saja, yang dianggap membahayakan kekuasaan hasil rampokannya. Maka orang-orang semacam Utuy pun yang "seniman individualis" terkena prahara teroris Orba.
Padahal, apa buktinya? "Keyakinan saya dulu bahwa mustahil Utuy menjadi komunis, ternyata dibenarkan oleh memoarnya. Utuy menganggap komunisme sebagai sesuatu yang indah, tapi itu hanya menunjukkan bahwa ia tidak mengetahui komunisme..." (hlm 19).
Itulah buktinya. Itulah kenyataannya. Begitulah Utuy. Tetapi, hanya begitupun ("yang tidak mengetahui komunisme") dan tanpa pembuktian apa dosanya dia sudah harus menerima penindasan yang dahsyat. S