Sayang Kamu Lahir dari Hati Mama
Summary ratings: 3 stars
(xx voters)
Kunjungan:
16
kata:
600
Diterbitkan di: Mei 06, 2008
Kapankah Usia Ideal Memberitahu Status Adopsi Pada Anak?
Problem yang muncul seputar memberitahu status adopsi anak bukan hal yang baru bagi saya. Maklum beberapa keluarga saya memang mengadopsi anak. Masing-masing memiliki cara tersendiri di dalam menangani masalah ini. Salah satu kasus yang cukup menghebohkan yang masih saya ingat sekarang ini adalah kejadian yang dialami seorang tante. Ia kebetulan diadopsi orang tuanya, dari sebuah rumah sakit bersalin di Jakarta. Sang ayah angkat adalah seorang dokter kandungan. Keluarga ini, lantaran masih konservatif, memilih memberitahu putri angkatnya hanya beberapa saat sebelum yang bersangkutan akan menikah. Tak dinyana hal ini membuat sang putri angkat syok, terpukul berat, sehingga sempat memutuskan hubungan dengan orang tua angkatnya.
Langkah beberapa orang teman yang sudah sejak awal begitu terbuka dengan status adopsi pada anak-anak adopsi mereka boleh dibilang membuka cakrawala baru. Tak seperti yang ditakutkan orang-orang tua jaman dahulu, anak-anak itu tumbuh manis, dan bisa menerima dirinya apa adanya, karena sudah dipersiapkan sejak kecil.
Dr. Steven L. Nickman dari Child Psychiatric Clinic di Massachusetts General Hospital, Boston, menganjurkan usia yang ideal adalah antara 6-8 tahun. Pada saat itu anak umumnya sudah memiliki dasar hubungan yang kuat dengan keluarga adopsinya sehingga tak merasa terancam saat harus memahami soal adopsi. Anak-anak usia pra sekolah menurutnya masih memiliki ketakutan akan kehilangan cinta orang tua angkatnya. Dalam proses pengenalan tentang adopsi ini, orang tua harus lebih mengedepankan pengertian bahwa setiap anak –entah dia diadopsi atau tidak – selalu dikandung dan dilahirkan dari rahim seorang ibu.
Nickman tak menganjurkan orang tua menunggu sampai anak memasuki masa dewasa untuk memberitahu status adopsi. “Berterus terang pada usia itu akan sangat merusak self-esteem si anak, juga kepercayaan mereka pada orang tua,” tegas Nickman.
Sedikit berbeda dengan Nickman, Denrich Suryadi, M. Psi dari Pusat Bimbingan dan Konsultasi Psikologi Universitas Tarumanagara, beranggapan usia ideal bukanlah dasar yang tepat dalam mengungkapkan status adopsi anak. Hal itu dikarenakan setiap anak memiliki perkembangan kematangan psikologis masing-masing. Dalam hal ini, orang tualah yang perlu mengamati dan melihat taraf kesiapan anak untuk menerima kenyataan yang sebenarnya.
“Apabila anak bertanya dan orang tua menganggap anak belum siap, orang tua bisa memberikan jawaban yang netral, yang lebih mengingatkan betapa orang tua sangat mencintai, atau bagaimana anak tak perlu ragu tentang cinta kasih orang tuanya.”
Bila tak disiapkan dengan hati-hati, usia berapa pun bisa membawa resiko. Usia remaja misalnya sering disebut sebagai masa labil, karena remaja yang sedang dalam masa pencarian jati diri, mendadak harus menerima kenyataan bahwa ia bukan anak kandung. Konsekuensinya cenderung negative terhadap self-esteem si remaja, dan beresiko menjerumuskan anak pada hal negative, apabila ia belum siap menerima kenyatan.
Denrich menganjurkan beberapa langkah yang dapat diambil oleh orang tua. Pertama, orang tua harus memerhatikan kondisi yang mungkin terjadi, serta konsekuensi positif-negatif yang mungkin terjadi. Kedua, perhatikan kesiapan psikologis anak untuk menerima kenyataan tersebut. Ketiga, siapkan langkah-langkah untuk selalu memperhatikan si anak karena mereka akan cenderung menjadi lebih sensitif setelah mengetahui statusnya sebagai anak adopsi. Keempat, orangtua juga harus bisa bersikap adil serta empatik terhadap perasaan si anak, terutama apabila si anak memiliki kakak/adik yang merupakan anak biologis dari orangtuanya. Siapkan pula si kakak/adik untuk tidak bersikap negatif terhadap si anak tersebut. Langkah keempat ini memang sulit dan harus dipersiapkan dengan baik oleh orangtua sebelum memberitahukannya kepada si anak. Kelima, beritahukan serta meminta bantuan kepada anggota keluarga lain untuk membantu proses ‘penyembuhan batin’ si anak setelah mengetahui kabar tersebut. Caranya cukup sederhana, yakni dengan tidak mengubah bentuk perhatian, serta bersikap lebih peka terhadap anak. Terakhir, bila orangtua membutuhkan pendampingan lebih pada si anak, ada baiknya meminta bantuan profesional seorang psikolog yang berpengalaman.