Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Skala Prioritas

oleh: ipinpmh     Pengarang : Ibnu Moslem Arifin Muhammad
ª
 

Terinspirasi dari membaca rublik Debat di Koran Suara Merdeka tentang civitas akademika yang menarik pehatian bagi kalangan mahasiswa untuk memberikan masukan apapun itu. Sangking banyaknya masukan, namun ada hal yang sedikit terlupakan berkaitan dengan nilai kualitas.

Pendidikan yang merupakan parameter mutlak untuk melihat kemajuan suatu bangsa dan peradaban. Tak selayaknya di nomor duakan dalam kehidupan. Karena satu sisi tujuannya adalah membangun manusia khusunya generasi muda yang mana sekarang telah mencapai taraf baru dengan indicator munculnya sekolah berstandar internasional, sekolah unggulan, dan sekolah terpadu. Begitu juga dalam dunia universitas pada berlomba-lomba untuk memajukan civitas akademikanya.

Lebih spesifik lagi, civitas akademika dalam perguruan tinggi dipandang sebagai “sub-kultur” dan pola “interaksi social” antar civitas akademika sebagai pola pendukung dan pengarah dalam akademis. Karena melihat kompleksitasnya seperti halnya masyarakat pada umumnya, walau dengan kompleksitas khusus.

Realitas yang ada, kita tidak bias berbangga dulu dengan status kita yang sub-kultur itu. Mempertimbangkan dalam era bebas pasar ini, pengelolaan civitas akademika harus ditujukan untuk mengantisipasi kehidupan yang penuh ketidakpastian, paradoksial, dan penuh persaingan, dengan upaya memberdayakan dan meningkatkan kualitas sumber daya, khususnya dosen. Melihat posisi dosen, adalah sangat stategis bagaikan model yang selalu di jadikan objek perhatian. Ini tidak mudah.

Di lain sisi, realitas yang lain adalah out put sumber daya manusia para shake holders perlu di pertanyakan, alasan yang mendasar banyak graduated perguruan tinggai belum mampu produktif dan kreatif dalam menjalni kehidupannya sebagai manusia yang berstatus akademik.

Tentu, di era pasar ini banyak tuntutan yang mau dak mau harus dilakukan sebagai upaya perubahan dalam civitas akademika, termasuk di situ adalah aspek pengelolaan. Hal ini sesuai dengan kerangka dasar civitas akademika sebagai wahana atau media pengembangan yang berbentuk penelitian, pengajaran, pengabdian ataupun yang lainnya yang berkaitan dengan pendidikan. Tidak terkecuali civitas akademika yang dibentuk oleh Suara Merdeka.

Memandang banyaknya jumlah civitas akademika yang ada di berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang semuanya itu mempunyai dan merencanakan program-program untuk mendukung dan memajukan civitas akademikanya masing-masing serta juga tuntutan pasar terhadap out put dari dunia pendidikan, khususnya civitas akademika di lingkungan Suara Merdeka di perlukan namanya “Skala Prioritas Kualitas” atau program unggulan dari berbagai macam program yang dilaksanakan tanpa harus menghilangkan program yang telah ada dan berjalan. Penulis yakin jika suatu lembaga termasuk civitas akademika mempunyai skala prioritas kualitas program setidaknya akan membuat orang ertarik dan menjadi nilai tersendiri. Sehingga arah tujuan yang akan di capai sangat jelas begitu juga dengan proses pelaksanaan atau perjalanannya.

Diterbitkan di: 03 Mei, 2008   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.