Senin 20 april 2008 pukul 09.00 WIB, seluruh mahasiswa yang tergabung
dalam Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa se-Kabupaten Aceh Utara dan
Kota Lhokseumawe melakukan Aksi Damai di depan kantor DPRK Aceh utara.
Adapun aksi damai ini dipicu oleh beberapa kebijakan dari para anggota
dewan dan keputusan PJ Bupati terdahulu, T. Pribadi yang dianggap
merugikan masyarakat dan negara.
Aksi damai ini diikuti oleh
ratusan mahasiswa yang berasal dari berbagai Perguruan Tinggi yang ada
di kabupaten Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe, antara lain Universitas
Malikussaleh, Politeknik Negeri Lhokseumawe, Sekolah Tinggi Agama Islam
Negeri (STAIN), Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE), Universitas
Malikussaleh, ASMI, AMIK dll. Masing-masing universitas diberi
kesempatan untuk mennyampaikan orasinya yang ditujukan kepada anggota
dewan.
Koordinator Umum aksi damai, Habibi dari Universitas
Malikussaleh mengatakan bahwa aksi ini untuk menuntut para anggota
dewan menarik kembali keputusan yang dianggap merugikan tersebut.
Pernyataan sikap yang diambil bersama menurut musyawarah/rapat yang
diadakan minggu lalu ini dinyatakan menurut pertimbangan-pertimbangan
terhadap sikap dan keputusan-keputusan para anggota dewan. Selain itu
Aliansi BEM juga telah merujuk ke beberapa peraturan-peraturan yang
ada, yang intinya segala perbuatan, sikap atau keputusan yang bermaksud
memperkaya diri dengan menggunakan harta/asset negara merupakan
pelanggaran hukum.
Seorang orator, dalam orasinya mengatakan
"Apakah anggota dewan digaji untuk membagi-bagikan asset negera yang
dijual murah ?..... Apakah anggota dewan bekerja untuk membuat rakyat
senggara?... Apakah anggota dewan digaji untuk berfoya-foya?... Apakah
anggota digaji untuk menghabiskan harta negara?...." selanjutnya orator
tersebut mengatakan "Kalian ada karena rakyat ada.., kalian digaji
dengan uang rakyat.., kalian berasal dari rakyat.., kalian dipilih oleh
rakyat..! apakah ini balasan kalian untuk rakyat?..."
Beberapa
orang perwakilan dari anggota dewan sempat keluar untuk memberikan
penjelasan terhadapat permasalahan tersebut, akan tetapi semua
penjelasan yang diberikan malah membuat massa bertambah emosi. Selain
itu anggota dewan meminta para mahasiswa untuk melakukan pertemuan
secara delegasi, hal itu ditolak mentah-mentah oleh seluruh massa yang
hadir karena beberapa pertimbangan dan pengalaman terdahulu.
Beberapa aksi sempat dilakukan oleh para demonstran, seperti
penerobosan pagar betis kepolisian yang awalnya diformasikan di anak
tangga kantor DPRK sampai mundur ke teras utama gedung. Selain itu aksi
saling dorong antara mahasiswa dengan kepolisian juga sempat terjadi,
akan tetapi tidak sampai terjadi insiden yang tidak diinginkan karena
para koordinator masing-masing universitas mampu meredam emosi massa.
Aksi lainnya yang dilakukan mahasiswa adalah mengumbulkan sumbangan
yang terdiri dari uang recehan pecahan Rp.50;Rp.100 dan Rp.200 yang
dimaksudkan untuk membantu para anggota dewan dalam membayar uang
cicilan tanah. Setelah tampak frustasi dengan wajah sedikit pucat yang
terlihat di wajah perwakilan anggota dewan yang mencoba memberi
penjelasan, mahasiswa mencoba menangkannya dan mencoba menghilangkan
sedikit kelelahan beliau dengan memberikan segelas air mineral. "Ini
pak, diminum dulu biar bapak tau bagaimana rasa air putih biasa yang
harganya cuma 500 rupiah" ujar seorang orator.
Setelah itu,
perwakilan anggota dewan tersebut pergi meninggalkan keramaian dan
kembali masuk ke dalam kantor DPRK. Para demonstran sepakat untuk
menunggu mereka yang beralasan membuat rapat. Di sela-sela waktu
menuggu, para demonstran mengadakan pementasan drama yang bertema
pelelangan harta negara menurut per