Satu tim peneliti Italia meneliti
penggunaan potensial lain toksin tersebut: untuk merawat epilepsi. Namun saat
mempelajari dampaknya pada tikus yang menderita epilepsi, mereka menemukan
bukti mengenai toksin pada kedua sisi otak hewan itu, sekalipun mereka hanya
telah menyuntiknya di satu sisi. Dengan menggunakan dosis yang sesuai dengan
yang disarankan pada manusia, para peneliti kemudian menyuntikkan
"botulinum" ke dalam mata, dagu, dan otak pada tikus normal. Mereka
melacak toksin itu --SNAP-25 yang tergantung-- untuk melihat di mana dan
bagaimana zat tersebut bergerak melewati sistem syaraf. Dalam kasus
"botulinum" jenis A, jenis yang digunakan pada Botox, mereka
mendapati bahwa rongsokan di sepanjang syaraf berasal dari tempat suntikan dan
di syaraf yang berdekatan. Toksin itu bahkan mencapai bagian pangkal otak.
Percobaan itu adalah yang pertama yang memperlihatkan bahwa
"botulinum" bergerak.
Namun, Christopher von Bartheld, ahli syaraf dari University
of Nev ada,
mengatakan orang tak perlu takut. Ia menambahkan bahwa kemampuan toksin itu
untuk menyebar mungkin memiliki sisi positif, sehingga memungkinkan dokter
mengobati penyakit yang berpusat di otak seperti epilepsi.
Abstrak lain tentang Pemakaian Botox Bisa Membuat Mata Juling