Dikisahkan
sebuah cerita,bahwa ada seorang cucu menunggui kakeknya yang sedang sakit, kemudian Si
kakek menyuruh cucunya
untuk pergi kerumah
tabib atau seorang kiai atau seorang pintar yang mengetahui obat-obatan, kemudian berangkatlah si cucu menemui sang tabib tersebut, jalan menuju kerumah tabib agak jauh dan berbukit sehingga memaksa sang cucu berlari naik turun bukit. Karena kakenya tadi berpesan agar jangan terlalu lama meninggalkanya, sang cucupun dengan tergesa gesa membawa sekantong air putih tentunya sudah berisi jampi-jampi atau doa-doa oleh sang tabib tadi, namun mendekati rumah kakek tanpa sengaja cucu tadi tersandung kerikil dan jatuhlah sekantong air putih tadi dan bocor berhamburan ketanah. Akhirnya menangislah cucu tadi, "Pasti kakek marah besar, karena sudah lama kakek menunggu, bahkan kini air obatnya pun telah hilang" sesal cucu tersebut,sambil mengusap-usap air matanya. kemudian cucu berfikir bagaimana kalau balik lagi menemui tabib?, pasti sang tabib pun marah dan kakek akan marah juga karena terlalu lama. Sejurus kemudian cucu teringat pada kata-kata pak Ustad pada pengajian waktu itu,bahwa "yakinlah pada dirimu maka semua maksudmu akan terkabu" begitu teringat kata-kata pak ustad tadi, cucupun ada inisiatif untuk mengganti air putih obat dari Tabib tadi dengan air putih biasa. Kemudian cucupun menggantinya dengan air sumur dekat jalan itu,kemudian pulang dan memberikan air putih tadi kepada sang kakek dengan perasaan takut kalau ketahuan bahwa air itu air biasa,namun dengan mantap cucu bilang pada kakek"Ini adalah air obat dari tabib, minumlah kek, Mudah-mudahan Tuhan segera memberi kesembuhan" begitu kata cucu pada kakek di pembaringan. Akhirnya kakekpun meminumnya dan"Ajaib,tak berapa lama kemudian kakek pun bisa berdiri dan kesehatanya membaik.
Apa yang bisa ditarik kesimpulan dari cerita diatas? KEYAKINAN!.Ya dengan keyakinan penuh pada Tuhan air putihpun jadi menyembuhkan sakit si Kakek.
Bagaimana dengan Anda?sudahkan ada keyakinan penuh akan keinginan Anda?
Semoga Berhasil
Good Luck
Agust Nasihin