Berdasakan pengalaman singkat penulis
di luar negeri, Yaitu Tokyo Japan, selama kurang lebih satu tahun, bahwa hidup diluar negeri memang tidak mudah, orang-orang Jepang sangat disiplin
dan keras di negaranya sendiri. Sebagai tenaga
kerja asing kita di tuntut mandiri, kerja keras, disiplin dan bisa mengikuti gaya hidup mereka. Perbedaan budaya dan bahasa bisa diatasi dengan mengikuti kursus bahasa dan budaya, sudah menjadi kewajiban bila bekerja di Jepang,harus bisa berbahasa Jepang sehari-hari. Budaya disana, bahwa berbahasa Jepang dalam pergaulan sehari-hari akan sangat dihargai dan mendapatkan respon positif, sedangkan penggunaan bahasa asing seperti bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari kurang diminati, terutama pada sesama staff yang satu level, untuk atasan yang pernah tinggal di luar Jepang biasanya bisa melayani dengan berbahasa Inggris atau bahkan berbahasa Indonesia.
Waktu saya di Jepang dulu, kebetulan kepala atau Pimpinan Proyeknya adalah
orang Jepang yang pernah bekerja di Indonesia, dia menceritakan waktu kerja di proyek di Indonesia, waktu itu di Bekasi. Kurang begitu ingat di proyek apa, tapi yang jelas bahwa, dengan telah bekerja di Indonesia, secara otomatis telah mengenal karakter orang Indonesia, dan sesekali mengajak bicara dengan berbahasa Indonesia. Makanya saya tidak begitu sulit untuk menyesuaikan diri. Dalam bekerja sehari-hari saya ditemani seorang Pengawas lapangan yang sudah senior, dan mau memberikan informasi, masukan apa saja mengenai cara kerja di Jepang. Sehingga saya sangat betah tinggal disana, namun sebagai tenaga training dengan batas waktu yang sudah ditentukan hanya sebatas satu tahun, mengharuskan saya kembali ketanah air dan bergabung kembali dengan perusahaan di Indonesia. Dengan Pengalaman yang singakat itu, saya bisa memahami budaya, karakter dan kebiasaan orang Jepang dan menanamkan jiwa kemauan keras, tidak menyerah danpatah semangat. Memang beda negara, beda budaya, dan beda kebiasaan, ada kebiasaan yang saya anggap kurang baik dimata orang Indonesia umumnya, seperti saat pulang dari kantor, mampir dulu di café Jepang, dan mengkonsumsi banyak minuman beralkohol tinggi, minuman jenis itu di Jepang disebut “Sake”, sejenis minuman berasal dari fermentasi beras yang sudah mengandung alkohol tinggi dan bila diminum dalam jumlah banyak akan menyebabkan orang menjadi mabuk. Ya, itu hanya sedikit beda budaya saja, namun dibalik itu ada banyak budaya baik yang bisa dijadikan contoh dalam kehidupan sehari-hari terutama soal etos kerja. Seperti misalnya saat diproyek dengan on time nya yaitu bila jam kerja, tepatnya jam 08.00 pagi dimulai, sebelumnya yaitu jam 07.30 dilakukan senam “TAISO” berupa senam pemanasan ala Jepang. Sekitar 15 menit, sambil diiringi musik senam, kalau di Indonesia senam “SKJ” Cuma lebih pendek dan simpel. Setelah itu
semua pekerja dikepalai oleh para mandor berkumpul dengan sikap siap siaga menerima penjelasan dari pimpinan proyek, saya pun dengan keterbatasan bahasa berusaha mengikuti arahan dari pimpinan proyek, kebetulan saya waktu itu sebagai staf pengawas sehingga saya disegani juga di lapangan, saya bisa mengeklaim suatu pekerjaan bila tidak sesuai gambar kontruksi, sekalipun saya orang asing dan pera pekerja atau mandor nya orang Jepang asli, bahkan pernah saya berdebat sengit dengan mandor pembesian, saat itu ada pemasangan teknik pembesian balok yang saya anggap kurang pas, entah dari mana pikiran mau berdebat sengit saat mengecek di lapangan, prinsip saya kalau salah harus ditegor dan diberi tahu letak kesalahanya dan dibetulkan itu saja. Kembali ke on time dilapangan, semua komponen pekerja dilapangan bekerja keras, dan saat istirahat makan siang, yaitu tepat jam 12.00, semua pekerja cepat-cepat makan dan memanfaatkan waktu istirahat dengan efisien, tidak boleh ada suara mesin berbunyi satupun, semua lampu di kantor dimatikan. Namun saat jam 13.00 waktu kerja dimulai semua lampu dinyalakan kembali, dan dering mesin dilapangan langsung berbunyi, para pengawas lapangan semua berkumpul dan meeting ke 2 dalam waktu 15 menit, untuk memberi tahu para mandor lapangan, sampai jam lima sore semua bekerja tanpa henti, dan saat waktu kerja selesai, semua pekerja dilapangan pulang , sementara pengawas di kantor , membuat meeting atau rapat sore, kadang sampai malam masih bekerja, sebagai tanggung jawab seorang pengawas lapangan. Saya pun saat itu harus mengikuti para staf yang lain ikut meeting yang dikepalai oleh Pimpinan Proyek, walaupun sebenarnya sebagai seorang yang sedang taining, boleh-boleh saja pulang duluan. Suatu bentuk pembelajaran yang berharga. Kemudian mengenai budaya kebersihan lingkungan, saat pertama kali saya tiba, saya kagum akan kebersihan lingkungan, adanya kesadaran orang untuk tidak boleh membuang sampah sembarangan sangat ditaati, sampai orang merokok pun harus menyediakan dompet kecil sendiri untuk asbak yang bisa dilipat dan dimasukan kedalam saku terutama di tempat-tempat umum seperti distasiun bus atau kereta api. Di tempat-tempat sampah selalu disediakan tiga tong sampah, satu untuk sampah plastik, satu untuk sampah kaleng, dan satu untuk sampah kertas atau daun. Semua tertata rapi. Dan saat di stasiun kereta api, pemandangan yang mengagumkan semua orang, baik staf biasa maupun direktur hampir tiada berbeda, semua memakai jas, berbusana rapi dan jalanya cepat-cepat, seperti orang sibuk dan dikejar-kejar waktu, sebenarnya itu adalah perilaku untuk tidak menyia-nyiakan waktu.
Ringkasan lain tentang Kerja Bermindset Sukses-1