Sudah menjadi fenomena umum bahwa kini banyak orang
tua yang membiarkan anak-anak mereka - bahkan sejak
usia pra sekolah -
asyik menghabiskan waktu dengan
menonton televisi atau bermain komputer. Bagi orang tua, selama anak-anak merasa senang,
kebiasaan ini tidak pernah di anggap sebagai ancaman. Padahal
membiasakan anak-anak menonton televisi atau bermain komputer, ternyata
memiliki dampak negatif khususnya bagi perkembangan otak dan kejiwaan anak.
Peringatan akan ancaman serta dampak buruk televisi dan media elektronik
lainny terhadap perkembangan anak diungkapkan oleh seorang ahli dari Inggris
belum lama ini. Salah satu pesan pentingnya adalah anak-anak pra sekolah
seharusnya tidak dibiarkan menonton televisi atau bermain dengan komputer,
supaya otaknya berkembang dengan sempurna. Seorang ahli perkembangan
anak, Dr Aric Sigman, mengatakan bahwa telah banyak bukti ilmiah yang
menunjukkan bahwa kebiasaan duduk di depan layar komputer atau televisi berjam-jam
dapat menimbulkan pengaruh buruk pada anak-anak khususnya untuk jangka panjang.
Seperti diberitakan Sky, Senin (18/2), ia telah mendesak untuk
diberlakukannya semacam "buffer zone" yang membatasi anak-anak pra
sekolah untuk mengakses seluruh jenis media elektronik.Sigman mengatakan
kebijakan pemerintah Inggris, yang memperbolehkan para guru secara legal
menunjukkan bagaimana mengoperasikan komputer atau televisi justru telah
mengakibatkan anak-anak berada dalam risiko besar.
Anak-anak berusia tiga tahun yang menonton televisi terbukti mengalami
kesulitan dengan pelajaran matematika, membaca dan pemahaman bahasa di
sekolah. Keping DVD yang mengklaim dapat melatih bayi dan anak-anak yang baru
bisa berjalan justru diduga dapat menghambat proses pembelajaran
bahasa.Selain itu, program-program kekerasan , film dan game juga dikenal dapat
mempengaruhi fungsi kerja otak anak-anak, dan dapat mendorong timbulnya agresi
dan sifat impulsif.Menurut data yang dimiliki Dr Sigman, anak-anak di Inggris
berusia 11 hingga 15 tahun kini banyak yang menghabiskan hampir dari
setengah waktunya dengan menonton TV dan bermain komputer.Lebih dari
setengah populasi anak-anak berusia tiga tahun di Inggris memiliki televisi di
kamar mereka dan dua pertiga di antaranya selalu menonton televisi sebelum
pergi ke sekolah.
Anak-anak yang memiliki televisi di kamar tidurnya cenderung sulit untuk
mengembangkan kemampuan membaca ketika beranjak enam tahun. Dan
seperempat dari anak -anak berusia lima
tahun di Inggris tercatat memiliki laptop atau perangkat komputer sendiri.
"Statistik ini seharusnya membuat kita untuk mempertimbangkan sebuah
kebijakan untuk membuat perlindungan bagi anak-anak dalam
perkembangannya, menyediakan semacam buffer zone dari media elektronik
yang begitu kuat,¨ ungkap Dr Sigman."Pada usia yang rentan di mana
anak-anak mulai melihat cara hidup dengan spontan, peningkatan jumlah waktu
yang dihabiskan untuk melihat tayangan setiap harinya, jumlah layar
di kamar-kamar tidur anak dan bahkan alat-alat kecil seharusnya membuat kita
semua berhenti dan merenung," tandasnya.