.
ODHA yang Tersisih
Pengarang
: herwij
-
Summary rating: 2 stars
(2 Tinjauan)
-
Kunjungan : 135
-
kata:600
-
Comments
:
0
Pernahkah kalian mendengar tentang ODHA? ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) adalah orang yang secara positif terjangkiti penyakit
ini. Mereka dalam kesehariannya tampak sama dengan kita dalam beberapa hal, seperti sama-sama makan nasi, sama-sama memiliki keinginan untuk bermain, belajar, bekerja, bahkan menikah dan memiliki anak. Namun, mereka memang berbeda dengan kita, dalam artian mereka memiliki kesempatan hidup yang lebih pendek daripada kita. Ada beberapa orang yang mengidap HIV/AIDS karena "kecelakaan", ada pula yang karena faktor gen keturunan. Semuanya selalu memiliki hal sama yang tampak oleh saya: tersisih! Padahal sudah nyata jelas mereka sendiri tidak ingin mengidap penyakit mematikan ini. Ada beberapa orang teman saya, yang pertama sebut saja MT (19 tahun). Dia positif menjadi ODHA karena tertular virus melalui penggunaan jarum suntik saat ia mengkonsumsi obat-obatan. Sejatinya ia tahu benar akan dampak negatif pemakaian narkoba dan obat-obatan terlarang lainnya, namun ia tetap nekad dengan alasan lari dari keterpurukan takdir yang kejam padanya. Akibat dari aksi nekadnya itu, ia kini harus menanggung beban menyandang gelar ODHA seumur hidup. Cita-citanya menjadi seorang gitaris handal tiba-tiba terasa jauh dari dirinya, begitu pun impiannya untuk bisa menginjakkan kaki di Jakarta yang merupakan kota kelahirannya dulu. Ia kini tersisih dalam kehidupan sehari-harinya, bahkan sampai harus menetap di desa kecil hanya agar bisa hidup dengan tenang.
Lain MT, lainpula YD (15 tahun, alm). YD adalah teman bermain saya dulu. Suatu ketika ia terserang demam berdarah yang sangat hebat. Akibatnya ia harus mencari donor darah untuk kesembuhannya. Bagai tertimpa durian runtuh, ada kebaikan dan kesialan yang datang menimpanya di saat bersamaan. Kebaikannya ia sembuh dari demam berdarah, kesialannya ia justru terjangkit HIV. Orang tuanya sangat shock, terlebih dirinya. Tatapan sinis orang, desisan mencela, semua itu segera menghantui kehidupannya dikemudian hari. Saya yang saat itu masih anak-anak, tidak memahami akan bahaya penyakit itu. Tetapi satu yang saya tahu benar: orang-orang berlaku kejam padanya! Mereka menghakiminya atas kecelakaan yang ia terima. Suatu tindakan tanpa pemikiran panjang yang berdampak hebat. Hanya butuh lima tahun bagi YD untuk berpulang menghadap Tuhan akibat penyakitnya itu. Saat itu saya berfikir penderitaannya telah usai, namun saya salah. Tidak ada rumah sakit atau puskesmas yang mau membantu menangani pemakaman YD! Bahkan tidak ada satu pemakaman pun yang warganya mengizinkan jenazah YD singgah untuk beristirahat selamanya di sana. Saya benar-benar terpukul sekali. Inilah nasib para ODHA dalam masyarakat kita, tersisih dan terabaikan. Sampai saat inipun saya masih sering mendengar atau melihat hal seperti itu terjadi di masyarakat kita. Benar-benar hal yang memilukan. Saya berdoa setiap harinya, agar hal itu tidak pernah terjadi lagi. Namun, sepertinya butuh lebih dari satu doa dari kita sebagai manusia untuk membuat hal itu terwujud lagi.
Diterbitkan di:
Maret 09, 2008
Lainnya tentang Seni & Humaniora