Halaman Utama Shvoong > Seni & Humaniora > Kisah si Penebang Pohon

.

Kisah si Penebang Pohon

Summary rating: 5 stars 1 Tinjauan
Pengarang : Andry Wongso
Summary by : fitria
Kunjungan : 45  kata: 600   Diterbitkan di: Maret 07, 2008
Alkisah, seorang pedagang kayu menerima lamaran seorang pekerja untuk
menebang pohon di hutannya. Karena gaji yang dijanjikan dan kondisi
kerja yang bakal diterima sangat baik, sehingga si calon penebang pohon
itu pun bertekad untuk bekerja sebaik mungkin.Saat
mulai bekerja, si majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area
kerja yang harus diselesaikan dengan target waktu yang telah ditentukan
kepada si penebang pohon.Hari pertama bekerja, dia berhasil
merobohkan 8 batang pohon. Sore hari, mendengar hasil kerja si
penebang, sang majikan terkesan dan memberikan pujian dengan tulus,
"Hasil kerjamu sungguh luar biasa! Saya sangat kagum dengan kemampuanmu
menebang pohon-pohon itu. Belum pernah ada yang sepertimu sebelum ini.
Teruskan bekerja seperti itu".Sangat termotivasi oleh pujian
majikannya, keesokan hari si penebang bekerja lebih keras lagi, tetapi
dia hanya berhasil merobohkan 7 batang pohon. Hari ketiga, dia bekerja
lebih keras lagi, tetapi hasilnya tetap tidak memuaskan bahkan
mengecewakan. Semakin bertambahnya hari, semakin sedikit pohon
yang berhasil dirobohkan. "Sepertinya aku telah kehilangan kemampuan
dan kekuatanku, bagaimana aku dapat mempertanggungjawabkan hasil
kerjaku kepada majikan?" pikir penebang pohon merasa malu dan putus
asa. Dengan kepala tertunduk dia menghadap ke sang majikan, meminta
maaf atas hasil kerja yang kurang memadai dan mengeluh tidak mengerti
apa yang telah terjadi.Sang majikan menyimak dan bertanya
kepadanya, "Kapan terakhir kamu mengasah kapak?"   "Mengasah kapak?
Saya tidak punya waktu untuk itu, saya sangat sibuk setiap hari
menebang pohon dari pagi hingga sore dengan sekuat tenaga". Kata si
penebang."Nah, disinilah masalahnya. Ingat, hari pertama kamu
kerja? Dengan kapak baru dan terasah, maka kamu bisa menebang pohon
dengan hasil luar biasa. Hari-hari berikutnya, dengan tenaga yang sama,
menggunakan kapak yang sama tetapi tidak diasah, kamu tahu sendiri,
hasilnya semakin menurun. Maka, sesibuk apapun, kamu harus
meluangkan waktu untuk mengasah kapakmu, agar setiap hari bekerja
dengan tenaga yang sama dan hasil yang maksimal.Sekarang
mulailah mengasah kapakmu dan segera kembali bekerja!" perintah sang
majikan. Sambil mengangguk-anggukan kepala dan mengucap terimakasih, si
penebang berlalu dari hadapan majikannya untuk mulai mengasah kapak.Istirahat bukan berarti berhenti ,Tetapi untuk menempuh perjalanan yang lebih jauh lagiSama seperti si penebang pohon, kita pun setiap hari, dari pagi hingga malam hari, seolah terjebak dalam rutinitas terpola. Sibuk,
sibuk dan sibuk, sehingga seringkali melupakan sisi lain yang sama
pentingnya, yaitu istirahat sejenak mengasah dan mengisi hal-hal baru
untuk menambah pengetahuan, wawasan dan spiritual. Jika kita mampu
mengatur ritme kegiatan seperti ini, pasti kehidupan kita akan menjadi
dinamis, berwawasan dan selalu baru !

Ringkasan lain tentang Kisah si Penebang Pohon
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------