Renungan Orang Tertindas
Summary ratings: 3 stars
(xx voters)
Kunjungan:
17
kata:
600
Diterbitkan di: Februari 28, 2008
Renungan Orang Tertindas
by Wahyu
Merenung…. Ya, mungkin anak tersebut sedang merenung. Tapi entah apa yang ada di benaknya, di pikirannya, di hatinya. Mungkin hatinya sedang menangis. Ya, mungkin saja…. Inilah gambaran hidup anak-anak di perkebunan. Foto tersebut saya dapatkan ketika sedang kerja praktek di sebuah perkebunan teh milik pemerintah di kota Pemalang tahun 2006, tepatnya 16 Maret 2006. Keadaan yang sungguh berbeda dengan anak-anak orang berduit yang ada di kota-kota besar. Ironis memang, di zaman yang dikatakan banyak orang sebagai era globalisasi, era tinggal landas kok masih ada begitu banyak orang yang “ketinggalan pesawat”. Kondisi anak tersebut hanya sebagian kecil gambaran dari mungkin dalam hitungan ribuan, puluhan ribu, ratusan ribu, bahkan mungkin mencapai jutaan anak-anak dari keluarga miskin di negara kita yang tercinta, Indonesia. Negara yang sudah lebih dari 60 tahun merdeka, merdeka dari tangan penjajahan militer. Namun, kondisi sekarang mungkin tidak lebih baik dari masa-masa itu.
Kehidupan para buruh petik teh di perkebunan tersebut sangatlah memprihatinkan. Upah yang mereka dapatkan dalam sebulan mungkin adalah uang jajan anak TK satu minggu dari golongan orang kaya. Bahkan mungkin kurang, lha anaknya ibu kost saya saja sehari bisa puluhan ribu habisnya hanya buat beli maenan yang tidak jelas apa fungsinya, semacam robot-robotan. Terus kapankah semua penderitaan mereka pada khususnya dan orang-orang yang tertindas lainnya pada umumnya akan berubah? Sebuah pertanyaan yang sungguh sulit untuk dijawab. Perubahan yang benar-benar bisa merubah semua penderitaan rakyat menjadi sebuah kebahagiaan itu harus dimulai dari mana? Apakah dari pimpinan yang mengelola negeri ini ataukah dari rakyat yang paling bawah dulu, sebuah dilema kembali terjadi! Allah SWT tidak akan merubah suatu kaum jika mereka tidak mau merubah dirinya sendiri. Diperlukan terobosan besar untuk melakukan hal tersebut. Dan itu entah kapan terjadinya. Lapangan pekerjaan yang menjanjikan pendapatan yang mensejahterakan bagi para pekerja seakan tidak cukup menampung begitu banyaknya orang yang berharap.
Tidak terhitung lagi berapa jumlah pengangguran di Indonesia sekarang ini, mungkin salah satunya saya. Tidak terhitung lagi berapa jumlah pengemis dan gelandangan yang berkeliaran di jalan-jalan, perempatan, stasiun, di kereta, terminal, di angkutan umum, pasar, alun-alun, dan masih banyak tempat-tempat lain. Pada intinya hampir semua tempat di negeri ini ada golongan kaum tertindas (gepeng dan saudara-saudaranya).
Semangat perubahan, reformasi yang belakangan mulai redup mungkin gambaran keputusasaan para pemimpin negeri ini. Sudah bertahun-tahun usaha, bukannya kemajuan yang dihasilkan, malah kemiskinan, keterbelakangan, kekacauan, dan penindasan lain yang terjadi. Entah apa lagi yang salah…
Ya Allah, hanya kepadaMu lah kami memohon pertolongan dan hanya kepadaMu lah kami memohon petunjuk. Semoga tidak ada lagi orang yang menangis sedih, tidak ada orang yang terluka lagi hatinya.
Semoga hidup dan kehidupan ini menjadi indah… AMIN…..
.