Jilbab
sebagai fenomena
resistensi
Ketika gerakan para mullah mulai marak
di Iran pada tahun 1970-an
dan mencapai puncaknya ketika Imam Khomeini berhasil menggusur Reza Pahlevi
yang dipopulerkan sebagai antek
dunia Barat di Timur Tengah, maka
Khomeini menjadi lambang kemenangan Islam terhadap boneka Barat.
Simbol-simbol kekuatan Khomeini,
seperti foto Imam Khomeini dan
komunitas Black Veil menjadi tren di kalangan generasi muda Islam
seluruh dunia. Semenjak itu
Jilbab mulai menghiasi kampus dunia Islam,
tidak terkecuali Indonesia. Identitas jilbab seolah sebagai lambang
kemenangan.
Perkembangan berikutnya, ketika perang dingin blok Timur dan blok Barat
usai berbarengan dengan semakin pesatnya kekuatan pengaruh globalisasi,
maka timbul kecemasan lebih kompleks dari kalangan umat Islam. Islam
dan berbagai pranatanya berhadap-hadapan langsung dengan dunia Barat.
Apa yang dilukiskan Huntington benturan Barat-Islam akan terjadi pada
pascabenturan Timur-Barat, menunjukkan adanya tanda kebenaran, terutama
setelah peristiwa 11 September 2001.
Sebagian umat Islam percaya bahwa untuk mengembalikan kekuatan Islam
seperti zaman kejayaan dulu, umat Islam harus kembali kepada formalisme
keagamaan dan sejarah masa lampaunya. Semangat mengembalikan simbol dan
identitas Islam masa lalu terus dipompakan, termasuk di antaranya
penggunaan jilbab bagi kaum perempuan dan pemeliharaan kumis dan
jenggot bagi laki-laki.
Kadar proteksi dan ideologi di balik fenomena jilbab di Indonesia tidak
terlalu menonjol. Fenomena yang lebih menonjol ialah jilbab sebagai
tren, mode, dan privacy sebagai akumulasi pembengkakan kualitas
pendidikan agama dan dakwah di dalam masyarakat. Lagi pula, bukankah
salah satu ciri budaya bangsa dalam potret perempuan masa lalu adalah
kerudung?
Tidak perlu over estimate atau fobia bahwa fenomena jilbab merupakan
bagian dari jaringan ideologi tertentu yang menakutkan. Jilbab tidak
perlu dikesankan seperti "imigran gelap" yang selalu dimata-matai,
seperti yang pernah terjadi pada masa lalu yaitu fenomena jilbab
dicurigai sebagai bagian dari ekspor Revolusi Iran. Sepanjang fenomena
jilbab tumbuh di atas kesadaran sebagai sebuah pilihan dan sebagai
ekspresi pencarian jati diri seorang perempuan muslimah, tidak ada
unsur paksaan dan tekanan, itu sah-sah saja. Tidakkah manusiawi jika
seseorang menentukan pilihannya secara sadar?
Ringkasan lain tentang Penomenologi Jilbab bag 4