Luar biasa memang ini. Persoalan
makanan saja bisa berpengaruh pada perekonomian negeri ribuan pulau
ini. Berita terakhir terkait dengan ini adalah demo pedagang tempe yang
menuntut
harga kedelai diturunkan. Kenaiakan harga barang dagangangan
di pasaran memang semakin mencekik leher konsumennya, tak terkecuali
para pedagang tempe ini. Kenaikan seratus persen harga kedelai membuat
mereka mencak-mencak.
Selain kedelai, beraspun mengalami
nasib yang sama. Harganya membumbung tinggi menembus awan langit
pasaran. Bahkan untuk beras kualitas Raskin, yang berwarna kekuningan,
dan mudah kering setelah dimasak,
pembeli harus ngeluarin duit Rp 4500
Per liter bukan per kilo.
Harga
mie instanpun mengalami kenaikan
yang cukup signifikan, yang semula dengan uang seribu pembeli dapat
memperoleh satu bungkus mie, kini pembeli harus nambahin uang jajanya
beberapa ratus rupiah. Harga mie sekarang berkisar Rp 1100-1300 per
bungkus. Cukup merepotkan juga.
Kondisi seperti ini tentu adalah sebuah
dilema terbesar yang terjadi dalam negeri ini. Negeri subur ini
ternyata tidak memakmurkan, bahkan menyengsarakan penghuninya. Ini
bukan persoalan kemalasan rakyat negeri ini sebetulnya. Tapi tidak
adanya komitmen penguasan negeri ini untuk mensejahterakan rakyatnya.
Rakyat Indonesia adalah pekerja keras, mungkin paling keras di dunia
ini. Lihat saja berapa ribu orang yang dijadikan komoditi ekspor ke
negeri-negeri tetangga.
Memarginalkan petani sendiri dan
menghidupi para lintah darat penguasa perkebunan adalah dosa besar yang
dilakukan pemerintah terhadap anak dan cucu negeri ini. Jika Indonesia
ingin lepas dari bencana pangan, sudah saatnya pmerintah mengatasinya
dengan memberikan modal dasar bagi para petani negeri ini, tanah dan
tanah sendiri. www.bintangtimur.wordpress.com
Ringkasan lain tentang Indonesai di Goncang Krisis Pangan