Halaman Utama Shvoong > Seni & Humaniora > Tarian Dirodo Meto

.

Tarian Dirodo Meto

Summary rating: 2 stars 1 Tinjauan
Pengarang : hendryan nugraha (TC)
Summary by : ryanxz
Kunjungan : 218  kata: 900   Diterbitkan di: Januari 18, 2008
“Lir Diradameta pangamuking bala
Samya prawireng jurit
mangamuk arampak langkung sidira ing prang
kang katrajang akeh mati
lir singalodra mangamuk golong pipi…”
……
 
Syair Di atas merupakan petikan dari Syair Cakepan Sindenan Dirodo Meto, mengandung arti:
 
“Bagaikan gajah mengamuk sepak terjang para wadyabala semua
perkasa di medan perang mengamuk serempak tampak
keberanian dalam peperangan yang terlindas korban berjatuhan
bagaikan singa menerjang…”

 
Syair tersebut menceritakan tentang perjuangan RM. Said melawan pasukan Belanda dan sekutunya. Peperangan tersebut diibaratkan seperti gajah mengamuk atau Dirodo (gajah) Meto (mengamuk), karena jumlah pasukan RM. Said yang sedikit mampu mengalahkan pasukan Belanda dan sekutunya yang jumlahnya mencapai 1000 orang.
 
Untuk mengenang pertempuran tersebut, RM. Said menuangkan dalam tarian yang diberi nama, Bedhoyo Mataram Senopaten Dirodo Meto. Tarian ini ditarikan oleh tujuh penari, pesinden, dan penabuh yang kesemuanya pria. Tarian ini sebagai symbol perjuangan R.M. Said dan keberanian bala prajuritnya kala bertempur di hutan Sitakepyak Rembang.
 
Tarian Dirodo Meto menjadi pementasan yang istimewa karena tarian ini sudah sekitar 100 tahun tidak dipentaskan. Disamping itu, tarian Dirodo Meto juga sebagai bagian dalam memperingati 250 tahun Puro Mangkunegaran. “ Acara ini juga merupakan acara malam dana bagi pelestarian peninggalan budaya Mangkunegraan yang akan dilakukan sepanjang tahun 2007.” Kata Gray. R. Astuti Yamin S, yang merupakan ketua umum penyelenggara peringatan 250 tahun Puro Mangkunegaran, dalam sambutannya.
 
Bertempat di Museum Nasional, Jakarta, 9 Agustus lalu, tari Bedhoyo Mataram Senopaten Dirodo Meto dipentaskan, ini merupakan yang kedua kalian setelah Maret lalu dipentaskan di Solo.
 
Dalam pementasannya, Tari Dirodo Meto telah menggunakan efek-efek panggung seperti tata cahaya dan asap. Pementasan tari ini sendiri ditampilkan dalam suasana yang sakral baik secara adat maupun agama. Hal ini bisa dirasakan saat memasuki ruangan, aroma kemenyan dan dupa menebar semerbak. Sebelum tari dimulai terlebih dahulu pembacaaan surat Al-Fatihah di perdengarkan, membuat semakin khidmat acara tersebut.
 
Setelah itu sinden yang semuanya pria ini membawakan Syair Cakepan Sindenan Dirodo Meto. Tidak beberapa lama muncul 5 orang penari wanita sebagai penari pembuka, sebelum tarian Dirodo Meto dipentaskan.
 
Masih dalam rasa penasaran tiba-tiba asap muncul dari sebelah sisi panggung, bersamaan dengan itu muncul beberapa pria. Dengan efek asap dan lighting ini membuat pemantasan tari ini lebih dramatis. Tujuh penari pria berbalut dodot, dikombinasi selendang warna dasar merah dengan motif-motif bunga.Keris diselip di belakang punggung dan blangkon hitam bergaris keemasan melekat di kepala. Gerak kaki mereka mengikuti irama gamelan.yang mengalun  yang keras-keras dan Diiringi tujuh abdi dalem yang membawa busur panah dan tombak,ketujuh pria tegap itu beriringan anggun memasuki panggung.
Di panggung, ketujuh penari membentuk formasi berganti-gantian seperti  berbaris, melingkar, atau berhadap-hadapan.Kadang berlarian sambil mengangkat busur panah dan tombak, mengejar musuh. Ketujuh penari pria itu sedang membawakan tari Bedhoyo Mataram Senopaten Dirodo Meto. Penari Dirodo Meto mampu memukau penonton dengan gerakan yang gemulai namun bisa dengan tiba-tiba bergerak cepat.
Layaknya sebuah peperangan, tarian ini juga mampu bergerak harmonis mengikuti musik dan atraksi perang dengan menghujam-hujamkan tombak dan gerakan memanah. Ada tiga penari yang membawa tombak dan empat penari yang memegang panah. Hingga ada dimana ketiga tombak beradu di atas. “ Ketika tombak tersebut diadu bersamaan, itu melambangkan keberhasilan RM Said memenggal kepala Kapten Van der Pol” jelas M. Latif, selaku Public Relation.
Pementasan di Museum Nasional ini Tari Bedhoyo Mataram Senopaten Dirodo Meto (The Furious Elephant) belangsung kurang lebih satu jam. Harga tiket yang dijual seharga Rp. 500.000 per-orang. “Ini merupakan tarian klasik yang hampir punah, rasanya tidak terlau mahal dengan harga tersebut.” Jelas M Latif, yang mengaku tiketnya terjual sold out.
Tarian yang di ciptakan RM Said sebenarnya ada dua lagi selain Dirodo Meto tersebut antara lain Bedhoyo Mataram Senopaten Anglirmendung, tarian ini bawakan oleh tujuh penari, pesinden dan penabuh yang kesemuanya wanita. Tarian ini merupakan menumen perjuangan perng kesatrian Ponorogo yang kerap dipergelarkan di acara “Jumenengan”.
Ada lagi Bedhoyo Mataram Senopaten Sukopratomo, ditarikan oleh tujuh penari, pesinden dan penabuh yang kesemuanya pria, dan merupakan “monumen perjuangan” Perang Bedah Benteng Kumpeni, Yogyakarta.
Sebenarnya kisah dibalik Bedhoyo Mataram Senopaten Dirodo Meto adalah peperangan pada hari seni pahing 17 Sura tahun Wawu 1681 J/ 1756 M, yang melelahkan melawan pasukan Belanda dan sekutunya. Pada hari pertama peperangan yang terjadi sampai tujuh kali, pasukan RM Said (pangeran samber nyawa) dibuat kocar-kacir, diibaratkan seperti disapu air bah.
Berkat kecerdikan dan keberanian RM Said berhasil memenggal kepala Kapten Van der Pol  yang merupakan Komandan Pasukan Perang Belanda. Ternyata dengan terbunuhnya Van der Pol berdampak sangat besar bagi mental pasukan belanda dan sekutunya. Dengan pertemppuran bak ‘gajah ngamuk’ pasukan RM. Said berhasil mengalahkan pasukan musuh.
Dari pihak RM Said korban yang tewas sebanyak 15 orang sedangkan dari pihak musuh 85 orang. Walaupun jumlahnya lebih sedikit, bagi RM. Said jumlah tersebut adalah besar untuk itu demi mengenang perlawanan dan jasa-jasa limabelas prajurit andalannya, RM. Said menciptakan Tari Bedhoyo Mataram Senopaten Dirodo Meto.
Sekarang selain untuk mengenang perjuangan RM Said, Tari Dirodo Meto memiliki misi yang mulia yaitu demi mengumpulkan dana untuk renovasi dan pemugaran Puro Mangkunegaran, yang mulai lapuk karena termakan usia. “ mungkin butuh dana sekitar 25 milyar dana yang diperlukan untuk merenovasi Puro Mangkunegaran” jelas M. Latif.
Puro Mangkunegaran didirikan oleh RM. Said pada tahun 1757, yang merupakan hasil perjanjian damai dengan Sunan Pakubuwono III. Setelah itu RM Said menghentikan prang  dan memakai gelar barunya, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Hamengkunagoro, RM. Said. Sejak itulah, istilah Puro Mangkunegran digunakan secara umum karena dirasakan lebih tepat ketimbang menyebutnya Keraton Mangkunegran.
 
 
 

Ringkasan lain tentang Tarian Dirodo Meto
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------