Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Film: Virgin Snow

oleh: LaMian     Pengarang : La Mian
ª
 
Judul : The Virgin Snow Pemain : Lee Joon Ki, Aoi Miyazaki Sutradara : Sang Hee Han Durasi : 112 menit Min (Lee Joon Ki) seorang pelajar Korea Selatan harus pindah ke Kyoto untuk mengikuti ayahnya, seorang profesor di bidang seni keramik yang dipindahtugaskan mengajar di Universitas Kyoto. Selama tinggal di Kyoto, Min harus banyak melakukan adaptasi. Terlebih ia tidak menguasai satu patahpun kata dalam Bahasa Jepang. Gegar Budayapun sering dialami oleh Min selama menjalani kehidupan sekolahnya di Kyoto. Karena tidak mengerti Bahasa Jepang, sering terjadi kesalahpahaman diantara ia dan teman-temannya di sekolah. Salah satunya saat ia disangka mencuri sepeda. Kemahiran Min dalam ilmu beladiri Taekwondo-pun akhirnya harus digunakan dalam menyelesaikan masalah. Baginya, masalah Bahasa bisa diselesaikan dengan Taekwondo. Namun, ia kena batunya saat salah satu teman sekelasnya mengerjai dia dengan mengatakan kepada guru olahraganya kalau Min itu jago olahraga Kendo (olahraga beladiri tradisional Jepang dengan menggunakan tongkat kayu sebagai sejatanya) -bukan taekwondo. Ketidakmengertian Min dimanfaatkan oleh temannya itu untuk mengadu skill pada cabang olahraga Kendo. Akhirnya, Min jadi bulan-bulanan temannya itu dan harus menerima kekalahan. Hari-harinya makin terasa cerah saat ia bertemu dengan Nanae (Aoi Miyazaki), seorang gadis lokal yang juga bersekolah di sekolah yang sama di tempat Min dengan mengambil jurusan seni lukis. Nanae dan Min adalah dua pribadi yang saling bertolak belakang. Min yang ekstrovert dan penuh semangat, sedangkan Nanae adalah gadis yang lemah lembut, cenderung tertutup dan suka menyendiri. Karena telalu agresif mengejar Nanae, Min sampai harus diingatkan oleh teman-temannya kaau dia harus bisa menahan diri dalam mengejar wanita, seperti pria Jepang kebanyakan. Menyadari bahwa memang ada perbedaan persepsi antara pria-pria di negaranya dengan di Jepang, Min berusaha mengikuti saran teman-temannya. Hubungan mereka lama kelamaan terjalin dengan erat, namun kendalanya hanya satu yaitu Bahasa! Kendala ini mereka atasi dengan mengandalkan Bahsa Tubuh alias Body Language. Makanya sering terjadi kelucuan dalam dialog keduanya. Kadang Min harus menjelaskan apa yang ingin diucapkannya dengan Bahasa Korea yang dicampur Bahasa Inggris. Itupun Bahasa Inggris dengan aksen Korea! Dibalik semua hal indah yang dilihat oleh Min pada Nanae, Min tidak menyadari bahwa sebenarnya Nanae sedang dirundung masalah. Ibu Nanae, sepeninggal ayahnya, menjadi pemabuk. Tidak mempedulikan lagi Nanae dan adiknya serta mempunyai utang yang menumpuk. Tak jarang, para debt collector datang ke rumahnya dengan cara yang kasar untuk menagih utang kepada Ibu Nanae. Namun semua itu tidak bisa diungkapkan Nanae pada Min karena adanya hambatan Komunikasi. Min tidak mengerti Bahasa Jepang, dan Nanae pun tidak mengerti Bahasa Korea. Akhirnya dengan keinginan untuk bisa berkomunikasi dengan baik dengan pasangannya, keduanyapun dengan giat mempelajari Bahasa Negara Pasangannya. Suatu hari, saat berteduh di sebuah toko keramik, Nanae terpesona pada sebuah piring keramik Cina yang di atasnya terdapat lukisan yang indah yang dipajang di toko itu. Min berjanji akan membuatkan Nanae sebuah piring keramik dan Nanae juga berjanji kalau ia akan melukis di atas piring keramik itu. Suatu hari saat mereka sedang menaiki sebuah perahu di danau, Nanae mengatakan kepada Min sebuah pepatah kuno Jepang bahwa barang siapa yang sedang berkencan menaiki perahu, maka keduanya akan putus. Dan Min bukannya takut, ia malah menambahkan bahwa kalau di Korea juga ada pepatah yang bermakna seperti itu yaitu jika sepasang kekasih melintasi jembatan batu Han, maka keduanya akan putus. Lalu keudanya saling membandingkan pepatah dari masing-masing negara, sampai akhirnya ada satu pepatah yang dikedua negara berarti sama yaitu waktu yang tepat untuk memulai suatu hubungan adalah pada saat salju pertama turun di musim dingin. Lalu keduanyapun berjanji akan saling bertemu saat salju pertama turun. Namun semua janji itu tak akan pernah ditepati oleh keduanya karena saat Min kembali ke Korea untuk menjenguk neneknya yang sakit, tanpa sepengetahuan Min, Nanae pindah rumah untuk menghindari diri dari para debt collector. Saat kembali ke Jepang, Min tidak menemukan Nanae. Telepon selularnyapuntidak bisa dihubungi. Bertahun-tahun Min harus memendam perasaan kecewanya pada Nanae, sampai akhirnya ia kembali Korea dan melupakan segala sesuatu yang berbau Jepang. Film Virgin Snow merupakan film kerjasama Jepang dan Korea. Dalam film ini.sutradara Sang Hee Han berhasil mengangkat tema cinta dalam perbedaan budaya dengan baik. Sebelumnya, Sutradara Sang Hee Han lebih dikenal sebagai music director yang pernah menangani pembuatan Music Video penyanyi Pop Korea Rain dan Ivy Kolaborasi dua aktor dan aktris pendukung film ini, Lee Joon Ki (Korea) dan Aoi Miyazaki (Jepang) masing-masing berhasil menghidupkan tokoh Min dan Nanae. Lee yang sudah terkenal seantero Asia melalui perannya dalam The King and The Clown adalah aktor masa depan Korea yang berhasil meraih berbagai prestasi, satu diantaranya penghargaan The Rising Star pada perhelatan Hawaiian Film Festival. . Sedangkan Aoi Miyazaki, setelah berperannya dalam film Nana, makin bersinar saja bintangnya. Meski masih berusia muda, beberapa kritikus film mengakui kalau aktng Aoi dalam film ini sudah matang seperti layaknya artis senior Jepang lainnya. .
Diterbitkan di: 06 Januari, 2008   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    I LIKE Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.