Film Jepang : Sukiyaki Western : Django
Summary ratings: 3 stars
(xx voters)
Kunjungan:
358
kata:
900
Diterbitkan di: Desember 16, 2007
Judul : Sukiyaki Western: Django
Pemain : Hideaki Ito, Koichi Sato,Kaori Momoi, Quentin Tarantino Sutradara : Takeshi Miike
Genre : Action
Durasi : 120 menit Dari judulnya, sudah bisa ditebak bahwa film ini ada sangkut pautnya dengan film Django yang disutradarai oleh Sergio Corbucci pada tahun 1966. Film ini memang remake dari film Django yang dibintangi oleh Franco Nero tersebut yang dikemas dalam bentuk film yang keseluruhannya dibintangi oleh Aktor dan Artis Jepang. Bisa dibilang kalau film ini merupakan penggabungan antara film spaghetti western – salah satu sub genre western film yang booming di tahun 1960-an yang dibuat oleh orang Italia- dengan film-film klasik Samurai yang dibuat oleh Akira Kurosawa. Dari segi tema, film ini tidak memberikan warna baru. Seperti kebanyakan film bergenre western-cowboy-, film ini mengetengahkan tema perang antar geng, balas dendam yang diakhiri dengan adu tembak satu lawan satu dan tak lupa tokoh Sherrif yang korup. Dikisahkan pada tahun 1880-an pada era Wild West, di sebuah daerah yang bernama Yuta, Nebada (diadaptasi dari nama daerah Utah, Nevada, USA) seorang penembak ulung (Hideaki Ito) terjebak dalam pertikaian antara dua clan yaitu Heike yang dipimpin oleh Kiyomori (Koichi Sato) dan Genji, dipimpin Yoshitsune (Yusuke Iseya) yang telah bermusuhan berabad-abad lamanya sejak pecahnya perang Dannoura pada tahun 1185. Si gunslinger berusaha menolong seorang anak berdarah setengah Heike dan setengah Genji bernama Heihachi (Ruka Uchida) untuk membalaskan dendamnya atas kematian ayahnya, Akira (Shun Oguri) yang dibunuh oleh pemimpin clan Heike, Kiyomori. Ibu Heihachi, Shizuka (Yoshino Kimura) sepeninggal suaminya, menjadi kekasih Yoshitsune dan bekerja sebagai penari di salah satu bar yang dimiliki oleh Clan Genji. Sementara itu, Nenek Heihachi, Ruriko (Kaori Momoi), mempunyai masa lalu sebagai penembak ulung. Ibu dan nenek Heihachi keduanya sama-sama ingin membalas dendam pada Clan Heike. Untuk lebih jelasnya, film ini mirip dengan duology film Kill Bill karya sutradara Quentin Tarantino yang didalamnya memadukan desing peluru dengan denting samurai. Kesamaan “hoby” memadukan dua budaya ini pulalah yang membuat Quentin Tarantino bersedia muncul sebagai cameo pada film besutan Takeshi Miike ini. Film yang lahir dari hasil ‘pengaruh-mempengaruhi budaya’ memang bukan hal baru. Genre seperti ini telah muncul terutama pada era 1960-an saat booming film-film cowboy karya sutradara Italia seperti trilogy film man with no name dan once pon a time in the west karya Sergio Leone. Film bergenre campuran Italia dan western ini kemudian dikenal dengan istilah spagheti western. Selanjutnya, bermunculanlah istilah-istilah baru seiring dengan makin banyaknya film yang memadukan unsur lokal negaranya dengan tema western. Misalnya film El Mariachi, Desperado dan once upon a time in Mexico karya sutradara asal Mexico, Robert Rodriguez disebut bergenre Burrito Western. Film-film action karya Jhon Woo oleh beberapa kritikus film disebut dengan istilah Dim Sum Western. Tidak selalu para Sutradara dari luar Amerika Serikat mengambil tema dari film Hollywood. Sebaliknya, perfilman Hollywood juga tidak jarang mengadaptasi dari film-film yang berasal dari negara luar Amerika. Seperti misalnya film The Magnificent Seven yang didaptasi dari film Seven Samuraikarya Akira Kurosawa. Sebagai tontonan, film Sukiyaki Western: Django, cukup menghibur. Genre yang lain dari biasanya ini turut membuat penonton merasa penasaran dengan film ini. Film ini juga telah diikutsertakan pada beberapa festival fim seperti pada Toronto Film Festival dan Venice Film Festival. Yang sedikit mengganjal adalah dialog dalam Bahasa Inggris dengan aksen Jepang ( Japanese English). Sutradara Takeshi Miike memang terkesan seperti memaksakan pemilihan bahasa pada dialog di film tersebut, sebab pada kenyataannya dialog yang diucapkan para aktris dan aktor yang kesemuanya berasal dari Jepang – kecuali Quentin Tarantino tentunya- tidak begitu jelas dipahami, sehingga akhirnya pada film inipun subtitel dalam bahasa Inggris diikut sertakan. Memang, tidak semua orang merasa familiar dengan Japanese English- seperti halnya Singlish alias Singaporean English.