Halaman Utama Shvoong > Kemanusiaan > Pancasila di Dua Zaman

.

Pancasila di Dua Zaman

Summary rating: 3 stars 16 Tinjauan
Pengarang : Khayun Ahmad Noer
Summary by : Wijayandaru
Kunjungan: 928
kata: 900
Diterbitkan di: Desember 15, 2007
Dekrit Presiden 5 Juli
1959 dan Dualisme Politik Soekarno

Kegagalan konstituante dalam
merumuskan dasar negara, membuat Presiden Soekarno bertindak. Pidatonya pada
tanggal 5 Juli 1959 menegaskan bahwa Indonesia kembali kepada UUD 1945 dan
Pancasila, dan badan konstituante dinyatakan bubar. Ide kembali ke pangkuan
Pancasila sebagai dasar negara ternyata mengalami penyelewengan. Hal ini erat
berhubungan dengan masalah kekuasaan. Isu-isu politik yang muncul pasca dekrit
presiden, mengharuskan Soekarno membuat satu kebijakan khusus. Tiga kekuatan
politik besar yang ada saat itu bisa saja merongrong kekuasaan
Soekarno  bila tidak ditangani secara benar. Dan kebijakan Soekarno itu
tertuang dalam gagasannya tentang NASAKOM (Nasionalis, Agamis,dan Komunis).
Gagasan ini adalah upaya untuk meredam gejolak politik tersebut. Dengan
menampung ketiganya dalam satu payung, Soekarno mencoba mengendalikan tiga unsur
politik ini. Namun, dengan adanya upaya ini maka implikasinya, ada muncul
semacam penghianatan Soekarno terhadap Pancasila.

Soekarno berselingkuh.
Meskipun dalam Pancasila sendiri, unsur-unsur NASAKOM ini nampak jelas ada di
dalamnya. Tetapi dengan mengangkatnya dari sebuah substansi yang ada di dalam
menjadi sebuah ideologi yang setara, maka penduaan ini tidak terelakkan.
Indonesia harus mengangkat Pancasila sekaligus menjunjung NASAKOM-isme.
NASAKOM  adalah manifesti politik Soekarno dalam menyokong ide demokrasi
terpimpin yang ingin dilakoninya. Dengan mengorbankan Pancasila ia ingin
menciptakan dunianya. Slogan-slogan, kemakmuran, kesejahteraan, nasionalisme
yang agamis ia berusaha mengangkat citranya. Dan tentu, Soekarno tidak akan
bilang bahwa ada manipulasi politik di sini. Akhirnya masa kejatuhan
kekuasaannya pun tiba. Kondisi negara berkebalikan dengan slogan-slogan
Soekarno yang pada waktu itu ia gembar-gemborkan. Dengan inflasi keuangan
negara sebesar 600 persen, maka era Soekarno pun berakhir, di tandai dengan
penyerahan Supersemar, 11 Maret 1966.

Pancasila sebagai
kepanjangan tangan rezim Orba (orde baru)

Di masa orde baru, Pancasila
benar-benar mendapat tempat istimewa, di dalam diri bangsa Indonesia. Di setiap
penjuru negeri, nama Pancasila selalu menggema. Di sekolah, di pasar, di
rumah-rumah, dan terutama di instansi-instansi pemerintah. Dari besar kecil,
tua-muda, semuanya harus berpaham Pancasilaisme. Sebuah simulakrum di
bangun orde baru untuk menjadikan Pancasila sebagai satu-satunya payung peneduh
bangsa. Semua gagasan dan ide diarahkan kepada Pancasilaisme. Di sekolah
anak-anak diajarkan bagaimana men-dharmabakti-kan diri hanya untuk
Pancasila. Dengan kurikulum berbasis pancasilaisme, sejak dini anak-anak itu
diprogam untuk dapat menerima Pancasila sebagai satu-satunya ideologi bangsa.
Kemudian untuk yang tua, diberikanlah penataran-penataran mengenai P4 (Pedoman,
Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). Dengan begitu sedikit demi sedikit kaum
tua yang telah memiliki pandangan-pandangan ini akhirnya juga bisa diarahkan
pada Pancasilaisme.

Titik puncak dari simulakrum
itu hanyalah upaya rezim orde baru untuk mempertahankan kelanggengan
kekuasaannya. Upaya-upaya itu diciptakan untuk menimbulkan citra baik
pemerintah di mata rakyat dan dunia internasional. Sepertinya Soeharto melihat
betul Pancasila dapat dijadikan senjata pamungkas untuk mempengaruhi rakyat.
Dengan slogan kebineka tunggal ika-nya, Pancasila dibuat seolah-olah menjadi
potret manis pemerintahan rezim orde baru. Pancasila diusahakan sedemikian rupa
untuk menjadi kain penutup borok-borok dan bopeng-bopeng rezim
orba.   

Selama tiga puluh dua tahun
rakyat Indonesia diberi simulasi-simulasi miskin kebenaran mengenai Pancasila.
Di masa orde baru, Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa telah kehilangan
jati dirinya. Pancasila bukan lagi Pancasila yang sebenarnya. Ia telah menjadi
sebuah simulasi yang dibuat demi kepentingan sebuah rezim. Tali kekangrezim
orde baru, membuatnya harus patuh pada sebuah kekuasaan.

Lima silanya ditawan jauh di
dalam dunia bawah sadar manusia-manusia Indonesia. Tujuan suci yang diembannya
diselewengkan begitu saja. Sebut saja sila ketiga; Persatuan Indonesia. Sila
ketiga ini dibuat sedemikian rupa sehingga nampak bahwa hakikat yang ada di
dalamnya adalah perlunya persatuan di dalam berbangsa dan bernegara. Ide
persatuan dan kesatuan oleh Soeharto hanya dijadikan sebagai jimat penolak
bala, dalam mempertahankan kekuasaannya. Melihat Indonesia dengan keragaman yang sangat kaya,
nampaknya hal itu menimbulkan phobia dalam diri pemerintahan Soeharto.
Dengan segala cara Soeharto berupaya untuk menyeragamkan Indonesia. Isu-isu
budaya nasional dan lain-lain yang serba nasional, adalah satu dari sekian
banyak upaya Soeharto dalam penyeragaman itu.  Satu contoh lain yang
sangat konkrit adalah penyeragaman kesamaan ideologi dalam lingkungan pegawai
negeri, yang beirimplikasi adanya monoloyalitas. Saya tidak melihat satupun PNS yang berpolitik dengan label
hijau atau merah, semuanya terlihat kuning. Satu cara yang benar-benar jitu
untuk mempertahankan kekuasaan.

Inilah penghianatan yang
paling besar dalam sejarah keberadaan Pancasila. Kalau mungkin dalam era
Soekarno (dengan NASAKOM-nya), Pancasila masih menjiwai dirinya. Maka, di era
Soeharto terjadi dekontruksi luar biasa yang hampir-hampir menggantikan jiwa
Pancasila dengan Soehartonisme. Penafsiran terhadap isi Pancasila di
lakukan di sana-sini agar sesuai dengan jalan Soeharto. Dan bila di masa
Soekarno NASAKOM dijadikan kedok untuk melanggengkan kekuasaan. Maka oleh
Soeharto, Pancasila yang dijadikan kedoknya. Setelah kerusuhan Mei 1998, dan
kekuasaan Soeharto jatuh, maka jatuh pula Pancasila di mata rakyat Indonesia.
Stigma dan traumatik terhadap Pancasila telah terpatri dalam-dalam di hati
manusia Indonesia. Dan tentu akan sulit untuk mengangkat kembali citra
Pancasila di mata rakyat Indonesia. Kalau untuk mengangkat kembali citranya
saja sudah susah, apalagi menjadikannya sebagai falsafah hidup kembali, pasti
susahnya bukan main.Dan kini sepertinya Pancasila seperti sedang menunggu ajal. Lama tenggelam di lautan penuh gelombang. Menanti tangan menggapainya pulang. Pancasila oh Pancasila.

 
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------

Recent Shvoongers

  • amibroker
  • AsepSuryana
  • herro
  • jurnalis
  • DenKun
  • Kharis
  • nilna
  • AryaGuna
  • airakheisa
  • Rakyat
  • kusuma
  • tomaz
  • insansains
  • deleon
  • PermataPratiwi
  • KireinaLie

.