Bila engkau pencari kebenaran hakikiBila engkau Pencari cinta sejatiBila engkau mencari aku yang abadiTempuhlah tujuh tingkatan
jalan menujukuTujuh jalan yang ditunjukan ''Attar melalui Musyawarah Burung, karyanya, yang disinyalir merupakan buah dari pengalaman sufistiknya.
Pertama, Jalan pencarian atau Talab.
di jalan ini banyak
kesukaran, rintangan
dan godaan dijumpai oleh seorang salik (penempuh jalan) .
Untuk mengatasinya seorang salik harus melakukan berbagai ikhtiar besar dan
harus mengubah
diri sepenuhnya, dengan membalikkan nilai-nilai yang dipegangnya
selama ini. Kecintaan pada dunia harus dilepaskan, baru kemudian ia dapat
terselamatkan dari bahaya kehancuran diri dan
sebagai labanya dapat menyaksikan
cahaya kudus Keagungan Ilahi. Hasrat-hasrat murni kita dengan demikian juga
akan berlipat ganda.
Seseorang yang berhasil mengatasi diri jasmani dan dunia akan dipenuhi kerinduan kepada
yang dicintai dan benar-benar mengabdikan diri kepada Kekasihnya.Kedua, jalan cinta. Di sini `Attar
mengartikan cinta sebagai penglihatan batin yang terang, sehingga tembus
pandang, artinya dapat menembus bentuk-bentuk formal kemudian menyingkap
rahasia-rahasia terdalam dari ciptaan. Orang yang cinta tidak memandang segala sesuatu dengan mata pikiran biasa,
melainkan dengan mata batin. Hanya dia yang telah teruji dan bebas dari dunia
serta kungkungan benda-benda, berpeluang memiliki penglihatan terang. Caranya
ialah dengan penyucian diri.Ketiga, jalan kearifan. Kearifan berbeda dengan
pengetahuan biasa. Pengetahuan biasa bersifat sementara, kearifan ialah
pengetahuan yang abadi, sebab isinya
ialah tentang Yang Abadi. Kearifan merupakan laba yang diperoleh seseorang
setelah memperoleh penglihatan batin terang, di mana ia mengenal dengan pasti
hakekat tunggal segala sesuatu. Kearifan menyebabkan seseorang selalu terjaga
kesadarannya akan Yang Satu, dan waspada terhadap kelemahan, kekurangan dan
keabaian dirinya disebabkan godaan dan tipu muslihat ‘yang banyak’.Keempat, jalan kebebasan. Jalan ini tidak ada
lagi nafsu memenuhi jiwa seseorang atau keinginan mencari sesuatu yang mudah
didapat dengan ikhtiar biasa. Karena pandangan telah tercerahkan oleh kehadiran
Yang Abadi, maka seseorang tidak pernah melihat ada yang baru atau ada yang
lama di dunia ini. Lautan tampak sebagai setitik air di tengah wujud-Nya yang
tak terhingga luasnya, dan dadanya
selalu lapang sebab dia mengetahui bahwa rahmat Tuhan tidak akan pernah
menyusut atau berkembang.Kelima, jalan tauhid. Di jalan ini semuanya
pecah berkeping-keping, kemudian menyatu kembali. Semua yang tampak berlainan
dan berbeda kelihatan berasal dari hakekat yang sama. Jadi di lembah ini
seseorang menyadari bahwa hakekat wujud yang banyak itu sebenarnya satu,
maksudnya manifestasi Cinta Yang Satu, yaitu rahman dan rahim-Nya.Keenam, jalan ketakjuban. Di sini kita menjadi mangsa ketakjuban yang menyilaukan
mata, sehingga seolah-olah kita tenggelam dalam kebingungan dan timbul rasa
duka yang tak terkira. Betapa tidak. Siang berubah jadi malam, malam berubah
siang. Kemalangan tampak sebagai kebruntungan dan keberuntungan kelihatan
sebagai kemalangan. Untung rugi tak jelas batasnya.Terakhir, jalan faqir. Fana
Faqir artinya tidak memiliki apa-apa lagi, semuanya sudah
terampas dari dirinya, kecuali Cintanya kepada Yang Satu. Karena jiwanya hanya
terisi oleh-Nya maka dia sanggup mengurbankan diri asal saja diperinsahkan oleh KekasihnyaDi sadur dari "Mantiq al-Tayr; Alegori
sufi Fariduddin ''Attar", Dr. Abdul Hadi W.M.
Ringkasan lain tentang Tujuh Jalan Pengharapan