Ini berawal dari pembicaraan yang saya dan orang tua saya lakukan
sepanjang perjalanan dari Jakarta ke Dadap, Tangerang.
Kami ke sana
dalam rangka berkumpul bersama dengan salah seorang tante saya yang
berulang tahun pada hari ini. Singkat cerita, tanpa saya bisa mengingat
asal muasalnya, orang tua saya berkisah mengenai betapa miskinnya
penduduk Indonesia pada tahun 1960-an.
Jika saat ini pemerintah lewat pidato kenegaraan Presiden SBY
mengatakan bahwa penduduk miskin di Indonesia berkurang jumlahnya (saya
sangat senang mendengar hal tersebut, dan bersyukur bahwa semakin
banyak yang sejahtera maka semakin sejahtera pula bangsa ini) meski
akhirnya diprotes banyak orang karena data yang digunakan tidak valid
lagi. Saat ini kategori penduduk miskin adalah mereka yang tidak bisa
makan setiap hari dengan tempe. Jadi kalau masih bisa makan dengan lauk
tempe plus tahu,berarti dikategorikan tidak termasuk penduduk miskin
(buset...padahal hanya tambah tahu loh).Tapi,sudahlah....bukan itu yang
ingin saya bahas.
Kembali menyambung pembicaraan dengan orang tua saya, ternyata tahun
1960-an itu, mereka masih sempat mengalami
kondisi yang tidak pernah
saya bayangkan sebelumnya. Saya yakin banyak diantara orang tua anda
yang juga mengalami kondisi tersebut, yaitu mereka harus antri untuk
bisa mendapatkan raskin (
beras untuk rakyat miskin) serta antri untuk
dapat gula, yang notabene jumlahnya tidak banyak karena hanya berjumlah
masing-masing 2 kg perkeluarga. Sehingga, papa saya bilang supaya beras
tersebut cukup untuk dimakan satu keluarga, maka biasanya dicampur
dengan singkong dan biji-bijian jagung yang sudah mengering.Setelah
itu diolah, baru akhirnya bisa disajikan untuk dimakan bersama-sama
satu keluarga. Saya sangat bersyukur untuk kondisi hari ini, karena
saya tidak pernah mengalami kondisi tersebut. Memang saat ini masih ada
raskin (beras untuk rakyat miskin) tetapi saya tidak lagi mendengar
mereka yang sampai harus mencampurnya dengan biji jagung kering (tetapi
saya bersyukur yang lebih besar lagi, karena saya dan adik-adik saya
tidak lagi harus mengalami itu semua).
Saya sangat bisa mengerti dan paham mengapa orang tionghwa keturunan
di Indonesia (khususnya orang Khek/Hakka) mempunyai salam yang unik
setiap kali bertemu dengan sesama mereka. Jika kita diajari untuk
mengucapkan selamat pagi/siang/malam (begitu juga dengan bahasa Inggris
dan juga bahasa Mandarin), maka mereka akan mengucapkan salam
berupa,''Sudah makan belum?'' (saya seriussoal ini, saya tidak
bergurau karena memang inilah yang kami semua ucapkan kalau ketemu
dengan orang lain). Mengapa saya bilang bahwa saya bisa mengerti,
karena perjalanan hidup kaum Hakka ini memang termasuk berat. Karena
mereka dulunya harus menempuh perjalanan yang sangat jauh dari negeri
Tiongkok dengan kondisi yang seadanya dengan harapan mereka bisa
mengubah nasib menjadi lebih baik di negeri orang. Dengan kondisi
makanan yang serba kurang dan cuaca yang kurang bersahabat, terkadang
mereka harus bisa melepaskan rasa laparnya dengan apa pun yang mereka
temui di jalanan (buah, rumput dan sebagainya) hanya supaya bisa
bertahan hidup. Tetapi karena dengan perjuangan yang berat itulah, bisa
dikatakan mereka menjadi tertempa untuk bekerjakeras dan berjuang
untuk bisa mencapai kesuksesan (meskipun tidak semua memiliki etos
kerja yang sama). Itulah sejarahnya mengapa setiap kali mereka bertemu,
sapaan yang keluar adalah pertanyaan ,''sudah makan belum?''
Kondisi itu sangatlah jauh berbeda dengan apa yang kita alami saat
ini, seringkali kita terlena dengan semua yang sudah kita dapatkan
sampai saat ini sampai-sampai kita seringkali kurang bersyukur. Sejak
kita kecil kita sudah mendapatkan makanan yang cukup. Tidak mewah
mungkin, tetapi sudah jauh lebih baik dari apa yang dulu didapatkan
oleh orangtua kita. Begitu juga kondisi politik ekonomi pada saat
1960-an itu juga sangat kacau dan berantakan, bahkan jauh lebih
berantakan sekarang (nah loh,buat yang suka mengeluh tentang
kondisi saat ini), orangtua kita tetap bisa bertahan dan melewati itu
semua dan bahkan membuat kondisi hidup kita menjadi lebih baik dari
kondisi mereka pada awalnya.
Saya pribadi, sangat bersyukur untuk semuanya itu. Orangtua saya
mungkin tidak seperti Ir.Ciputra, tetapi mereka bisa memberikan makanan
yang layak, rumah yang layak huni serta pendidikan yang cukup....dan
saya bersyukur untuk semuanya itu. Karena dulu mereka tidak bisa
mendapatkan itu semua.
Sampai di sini, saya ingin menutup bahasan kita kali ini dengan
sebuah pengandaian," Seandainya orangtua kita masing-masing tidak
berjuang sekeras ini dan membuat hidup kita menjadi lebih baik dari
mereka. Seandainya kita harus mengalami semua apa yang mereka alami
sebelumnya. Seandainya kita hidup pada jaman itu, apakah kita bisa
selalu bersyukur? Bersyukur dengan melakukan yang terbaik dari apa yang
kita dapat dan mengembangkannya menjadi lebih baik?"
Bagaimana dengan anda? Selalukah kita bersyukur?