Kaya, apa sih kriteria
orang kaya itu? Apakah orang kaya
adalah orang yang memiliki rumah mewah,
mobil mewah
dan sering
berjalan-jalan ke luar negeri? Ataukah justru orang yang kaya adalah
orang yang hanya memiliki rumah kontrakan, ke mana-mana naik
kendaraan umum bersama istri atau suami dan anak-anaknya, serta kalau pun
berlibur itu hanya bisa ke mal terdekat?
Banyak orang yang sering mempertanyakan istilah ''kaya'' ini, sehingga
banyak terjadi kelirumologi (pinjam istilahnya Jaya Suprana) bahwa
lebih baik tidak punya banyak uang tapi
hidup bahagia.
Kalau boleh memilih, Anda ingin memilih yang mana? Yang pertama atau
yang kedua. Saya mengenal beberapa rekan yang suaminya sangat kaya,
punya rumah bernilai Miliaran, tetapi sangat pelit dengan kehidupan
mereka sendiri, sehingga meski dengan uang sendiri mereka bisa hidup
lumayan enak karena rumah itu dikontrakkan, mereka memilih tinggal di
rumah yang sangat bobrok. Istri tidak diberikan uang jajan dan uang
belanja hanya diberikan kalau pergi berbelanja bersama. Yang lebih
parah lagi, uang kuliah anaknya harus disisihkan dari sedikit demi
sedikit ''mencuri'' stok barang yang dijual di toko kelontongnya tanpa
sepengetahuan suami dan anak-anaknya. Buset, betapa ''kaya'' orang
tersebut.
Sebaliknya, saya juga mengenal orang-orang yang termasuk tipe kedua,
yang tidak memiliki apa pun juga selain rumah kontrakan, ke mana-mana
naik kendaraan umum dengan istri dan anaknya, tidak pernah mencicipi
jalan-jalan ke luar negeri bahkan ke Dunia Fantasi Ancol sekalipun.
Apakah mereka hidup bahagia? Yang saya tahu adalah kebanyakan dari
mereka tidak hidup bahagia, meskipun mereka selalu mengaku bahwa
menjadi kaya itu tidak berarti bahagia, uang tidak bisa untuk membeli
segala-galanya. Saat ada sedikit uang hasil THR langsung dibelanjakan
tanpa memikirkan untuk menyisihkan uang darurat dan tidak mau mencari
penghasilan tambahan dengan dalih ''bersyukur'' dengan apa yang sudah
diraih. "Tuhan sudah memberikan seperti itu, untuk apa lagi mesti
memaksakan diri mencari lebih", dalih mereka.
Tapi saat anak atau istrinya sakit, mereka sibuk mencari pinjaman ke
mana-mana dan selalu mengeluh bahwa Tuhan tidak adil, kok sudah tahu
tidak punya banyak uang tapi masih diberikan cobaan juga? Memang salah
satu penyebab utama kegagalan berumah tangga ada di persoalan UUD
(ujung-ujungnya duit).
Kalau saya memilih tentu saya akan kombinasikan keduanya. Saya akan
memilih untuk menjadi tipe yang pertama dimana saya bisa memiliki rumah
mewah, mobil mewah, sering jalan-jalan ke luar negeri bersama keluarga
saya, hidup sehat dan bahagia. Tetapi tidak tergantung pada semua benda
kepemilikan itu, jadi saat mobil rusak misalkan saya bisa dengan mudah
naik kendaraan umum sampai mobil itu selesai diperbaiki, tetap hidup
bahagia meski terkadang terjadi masalah. Tetapi saat anak sakit tidak
perlu mencari pinjaman ke mana-mana sambil memelas, bisa memenuhi semua
kebutuhan hidup tanpa harus bekerja terlalu keras serta memiliki uang
yang bisa disisihkan untuk beramal. Yah, kalau bisa dari penghasilan
tiap tahun bisa disisihkan 10% pertahun untuk beramal, kenapa tidak?
Uang memang bukan segala-galanya, tetapi untuk bisa melakukan
minimal sesuatu, itu butuh uang. Jangan terikat dengan uang, tetapi
sebaliknya jangan takut untuk punya uang !
Tipe mana yang Anda pilih? Andalah yang memutuskan!
Ringkasan lain tentang Kaya dan Bahagia