Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed Bertemu
dengan Allah Subhanahu Wata’ala
dan memandang wajah-Nya kelak pada hari kiamat adalah merupakan sebuah kenikmatan yang tak terhingga besarnya. Oleh karena itu setiap
orang yang beriman pasti akan sangat merindukan pertemuan dengan Allah dan memandang wajah-Nya. Untuk mencapai hal itulah
mereka harus berusaha menjalani syarat-syarat yang telah Allah tetapkan dalam al-Qur’an yaitu mengerjakan amalan-amalan shalih dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman (yang artinya):
Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan-Nya dalam beribadah kepada Rabb-nya. (al-Kahfi: 110)
Demikianlah, pertemuan dengan Allah kelak adalah satu hal yang harus diimani oleh setiap muslim. Namun yang sangat mengherankan, muncul orang-orang yang mengaku muslimin, tetapi mereka mengingkari pertemuan dengan Allah Subhanahu Wata’ala dan mengingkari akan dapat dilihatnya
wajah Allah pada hari kiamat dengan melakukan ta’wil-ta’wil yang batil terhadap ayat-ayat dan hadits-hadits. Ini menunjukkan kalau mereka sama sekali tidak berharap bertemu Allah.
Adapun bagi ahlus sunnah wal jama’ah -pengikut para shahabat dan tabi’in dan atba’ut tabi’in-, mereka adalah orang-orang yang sangat meyakini akan adanya pertemuan dengan Allah dan berharap untuk diberikan kesempatan melihat wajah-Nya.
Bukan hanya itu, bahkan sesungguhnya seluruh manusia kelak akan sangat mengharapkan untuk mendapatkan kesempatan memandang wajah Allah, karena hal itu merupakan satu kenikmatan. Namun orang-orang kafir akan terhalang untuk memandang wajah Allah, karena kekufuran mereka ketika masih hidup di dunia.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman (yang artinya):
Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari Rabb mereka. (al-Muthaffifin: 15)
Berkata Imam Syafi’i Rahimahullah: Ketika mereka (orang-orang kafir –pent.) terhalang dari Allah karena kemurkaan-Nya, maka ini merupakan dalil bahwa wali-wali yang dicintai-Nya akan melihat-Nya dalam keridlaan. (Syarh Aqidatu ath-Thahawiyah, Ibnu Abil ‘Izzi, hal. 191)
Ringkasan lain tentang Mungkinkah Memandang Wajah Allah Ta’ala ?