Ikhlaskah aku?
Inilah sebuah pertanyaan yang sangat pribadi. Sebab jawabannya hanya ALLAH I sajalah yang tahu. Ya, hanya ALLAH subahnahu wa
ta''ala sajalah yang tahu, sedangkan kita meraba-raba
dan hanya bisa berharap. Tentu saja kita hanya bisa meraba-raba, karena untuk mengetahui hal itu pun kita memerlukan ilmu. Dan tentu saja kita hanya bisa berharap, karena untuk sampai ke sana pun kita butuh pertolongan-ALLAH. Namun demikian ALLAH subahnahu wa ta''alatidak pernah membebani
hamba-NYA lebih dari kesanggupannya. ALLAH subahanahu wa ta''ala tak pernah membiarkan hamba-NYA dalam kebingungan. Dan juga ALLAH subahanahu wa ta''ala tidak pernah membiarkan segala sesuatu tanpa kepastian dan tolok ukur. Ketika ALLAH subahanhu wa ta''ala memerintahkah hamba-NYA untuk ta’at
kepada NYA, IA jadikan keta’atan hamba kepada Rasulullah shalallahu ''alaihi wasallam sebagai tolok-ukurnya. Ya, aku sadar dan ingat hal itu. ALLAH I telah berfirman:
مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ (Artinya: “ Barang siapa yang ta’at kepada Ar-Rasul berarti dia telah ta’at kepada ALLAH ”) (An-Nisaa’:80) Apa maksudnya ayat ini
kalau bukan menjelaskan, bahwa tanda keta’atan seorang hamba kepada ALLAH ditunjukkan dengan ta’atnya ia kepada Rasulullah shalallahu ''alaihi wasallam. Maka, belumlah seorang hamba dikatakan ta’at kepada ALLAH sebelum ia menta’ati Rasulullah shalallahu ''alaihi wasallam. Begitulah yang aku ketahui ,sebagaimana diterangkan oleh orang-orang yang alim. Lebih jelas lagi bagi ku, karena Rasulullah shalallahu ''alaihi wasallam pernah bersabda:
من اطاعني فقد اطاع الله ومن عصاني فقد عصا ألله (البخاري) ( Barang siapa yang menta’ati aku, berarti ia telah menta’ati ALLAH. Dan barang siapa yang ma’shiyat kepada ku, berarti ia telah berma’shiyat kepada ALLAH ) Ketika ALLAH subahanahu wa ta''ala memerintahkah hamba-NYA untuk mencintai NYA, IA pun menjelaskan cara-cara dan langkahnya. Yakni, dengan meneladani Rasulullah shalallahu ''alaihi wasallam. Maka
Ikhlas (mencari ridho-ALLAH) dan
Ittiba’ (mengikuti Sunnah Rasulullah ) menjadi syarat-syarat diterimanya ibadah. Keduanya, tidak cukup hanya salah satunya. Ittiba’ saja tanpa ikhlas tak mungkin diterima. Karena ALLAH subahanhu wa ta''ala hanya menerima ibadah yang dilakukan dengan ikhlas:
(Artinya: “ Dan tidaklah mereka itu diperintahkan kecuali agar beribadah kepada ALLAH dengan mengikhlaskan agama ini semata- mata bagi NYA ”) (Al Bayyinah:5) Lantas, kalau ikhlas saja tanpa Ittiba’? Mungkinkah itu ? Mungkinkah ada keikhlasan tanpa iitiba’ ? Kalau memang ada hamba-ALLAH yang dapat mencapai derajat ikhlas tanpa ittiba’, lantas buat apa kita bersusah payah mengikuti As-Sunnah. Tidak, tidak mungkin seorang hamba bisa ikhlas kalau tidak didasari dan diawali dengan ittiba’ kepada As-Sunnah. Betul memang, belum tentu orang-orang yang ittiba’ kepada As-Sunnah itu pasti ikhlas. Boleh jadi ia disusupi oleh perasaan riya’, (ingin dilihat) sum’ah (ingin didengar), atau ujub (bangga terhadap dirinya sendiri). Hanya itu, dan tak mungkin ittiba’nya menyan yang mengeluarkan ia dari Islam. Nah kalau yang ittiba’ saja masih mungkin untuk tidak ikhlas, apa jaminannya seorang yang tidak ittiba” itu bisa ikhlas ? Apa jaminannya kalau seorang yang tidak ittiba’ akan selamat dari berbuat syirik? Lantas buat apa kita bersusah payah di atas As-Sunnah, kalau yang di atas bid’ah juga bisa mencapai ikhlas, yang artinya ibadah mereka diterima ALLAH ? Buat apa berusaha ikhlas, kalau yang syirik juga diterima amalannya? Untuk selanjutnya sampai kepada pertanyaan; buat apa bertahan sebagai muslim, kalau menjadi kafir juga dapat masuk ke dalam surga? Mengertilah aku sekarang, langkah awal yang membuktikan bahwa aku berkeinginan untuk ikhlas, adalah dengan mengikhlaskan agama ini semata-mata bagi ALLAH, yakni dengan mengikuti contoh Rasulullah shalallahu ''alaihi wasallam. Tanpa diawali dengan ittiba’ kepada Sunnah Nabi shallahu ''alaihi wasallam, dari mana dan bilamana datangnya keikhlasan itu. (Artinya: “ Segala puji bagi ALLAH yang telah menunjuki kami kepada ini. Dan sekali-kali kami tidak akan mendapat petunjuk kalau ALLAH tidak memberi kami petunjuk ”) (Al A’raf:43)
Ringkasan lain tentang Ikhlaskah aku?