Makna Ibadah
Yang kuketahui dari
apa yang pernah kepelajari; Ibadah meliputi ucapan
dan perbuatan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, yang dicintai dan diridho’i
ALLAH . Ya, aku ingat sekarang, apa yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:
العبادة: هي اسم جامع لكل ما يحبه اللّه ويرضاه، من الأقوال والأعمال الباطنة والظاهرة Ya, tentu saja mereka, dan juga aku, melakukan itu semua di dalam rangka mencari ridho-ALLAH subahanahu wa ta''ala. Dan itu arti aku harus meng-
ikhlas-kan seluruh ibadahku semata-mata
karena dan untuk ALLAH, bukan karena sebab serta untuk tujuan dan harapan yang lain.
Lantas, apakah juga yang dimaksudkan ikhlas adalah
kita beribadah bukan disebabkan takut akan neraka dan bukan untuk memperoleh
surga, sebagaimana keyakinan sebagian orang bahwa yang demikian itulah yang namanya ikhlas?
Tentu saja termasuk di dalam keikhlasan itu adalah adanya harapanku akan surga dan takutnya aku terhadap neraka. Bukankah Nabi shalallahu ''alaihi wasallam bersabda:
من صام رمضان إيمانا وإحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه (متفق عليه) (Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan didasari keimanan dan mengharapkan pahala, diampuni baginya dosa-dosanya yang lalu)
Bukankah Dia shalallahu ''alaihi wasallam jugalah yang mengajari kita untuk berdo’a :
فإذا سألتم الله فسلوه الفردوس، فإنه أوسط الجنة، وأعلى الجنة، وفوقه عرش الرحمن، ومنه تَفجَّر أنهار الجنة (البخاري) (Jika kalian berdo’a kepada ALLAH, mintalah kepada NYA Al Firdaus. Karena sesungguhnya ia adalah pusat dan surga yang tertinggi. Di atas nya adalah Arsy Ar-Rahman, yang dari nya lah dipancarkan air sungai-sungai surga)
Ya, termasuk ikhlas itu adalah adanya harapanku akan surga dan takutnya aku terhadap neraka. Sebab apa pula maksudnya ALLAH I mengiming-imingi kita surga dengan segala keindahan dan kenikmatannya, kalau bukan agar kita menharapkan dan merindukan nya. Apa pula maksudnya ALLAH I menakut-nakuti kita akan neraka dengan segala kedahsyatan dan kengeriannya, kalau bukan agar kita takut dan membenci nya.
Ya, ALLAH. Tipu daya apa pula ini? Kalaulah bukan karena hidayah-MU sungguh siapa ‘kan sanggup terbebas dari nya. Orang-orang itu mengira telah mencapai sejatinya ikhlas, padahal mereka melecehkan janji dan menantang ancaman-ALLAH, yang karena itu mereka justru tak akan dimasukkan ke dalam surga karena mereka tak mengharapkan nya, bahkan dijebloskan ke dalam neraka karena mereka tak gentar dengan nya.
Selesaikah semuanya setelah kita mengetahui hakikat ikhlas dan kita telah berusaha untuk itu? Diterimakah ibadah kita, setelah kita bersungguh-sungguh melakukannya di dalam rangka mencari ridho-ALLAH? Ternyata belum. Ya, tentu saja belum. Karena ibadah yang kita lakukan itu haruslah merupakan perbuatan yang dicintai ALLAH.
Lantas siapa yang boleh mengklaim, mengaku-ngaku bahwa yang dilakukannya itu adalah perbuatan yang dicintai ALLAH? Dari mana kita tahu bahwa ALLAH I mencintai perbuatan kita?
Al-Hasan Al Bashry t pernah berkata, bahwa dulu ada sekelompok orang yang mengaku cinta kepada ALLAH, maka ALLAH uji dan batalkan pengakuan meengan turunnya:
( Artinya: “Katakanlah (-Ya, Muhammad-) jika kalian mencintai ALLAH, teladanilah aku. ALLAH pun akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kelian” ) (Ali Imran:31)
Jadi, kita tahu, bahkan menjadi yakin dan untuk kemudian boleh mengklaim, bahwa perbuatan kita dicintai ALLAH, manakala telah kita ketahui persis bahwa apa yang kita amalkan itu sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah r.
Ringkasan lain tentang Makna Ibadah