Halaman Utama Shvoong > Seni & Humaniora > Pancasila Pengakomodir Keberagaman Kita

.

Pancasila Pengakomodir Keberagaman Kita

Summary rating: 3 stars 6 Tinjauan
Pengarang : Khayun Ahmad Noer
Summary by : Wijayandaru
Kunjungan : 722  kata: 900   Diterbitkan di: Nopember 18, 2007
Perda syariat menjadi isu yang senter akhir-akhir
ini. Semangat keberagamaan di Indonesia seperti mengalami puncak klimaksnya. Di
sana-sini orang bicara tentang syari’ah. Mengatakan bahwa bangsa ini harus  dirubah. Manusia Indonesia yang notabene
mayoritas muslim harus digugah, tentu dengan perda tentang syari’ah.
Perda-perda inipun bermunculan, dari Aceh hingga Tangerang. Dan bahkan ada
beberapa pihak menginginkan agar peraturan tentang Syari’ah ini tidak hanya berlaku
di daerah-daerah. Peraturan ini sebaiknya dikembangkan ke ranah yang lebih
luas, ke ranah nasional tentunya. Degradasi moral dan kagagalan pemerintah
harus ditangani dengan syari’ah agama.

Relevansi
permasalahan

Kembali pada peraturan-peraturan syari’ah tadi.
Syari’ah memang baik untuk dilakukan. Di dalamnya ada tuntunan-tuntunan tentang
kebaikan, tentang moral, dan tentang etika. Hal ini tentu dalam konteks
keberagamaan. Namun ketika kita hendak melegal-formalkan syari’ah sebagai suatu
peraturan, maka saya akan mempertanyakan hal itu. Apa jadinya bila syari’ah
Islam harus diberlakukan? Bagaimana dengan saudara-saudara kita yang non
muslim? Apakah kita akan mengesampingkan mereka sebagai warga negara Indonesia
yang kedudukannya sama dengan kita? Selama ini, kita merasakan bahwa kita ini
superioritas, sehingga tidak merasakan bagaimana rasanya menjadi minoritas.

Egoisme umat Islam yang dilakukan, apa belum cukup
mengantarkan kita pada kepuasan?  Apa
selama ini kebijakan pemerintah masih kurang dalam mengakomodir kepentingan
umat Islam di Indonesia?

Rasa egoisme inilah yang harus dikurangi. Selama
ini umat Islam nampak begitu memonopoli Indonesia. Contoh konkrit yang dapat
dilihat dalam pemilihan menteri agama. Menteri agama di Indonesia, dari rezim
Soeharto hingga sekarang, semuanya adalah orang-orang Islam. Sekali-kali
ya..mbok orang kristen yang menjadi menteri agamanya. Atau mungkin orang Hindu,
orang Budha, Bahkan mungkin orang Khong hu chu. why not! Kapan kesadaran
keberagaman akan muncul bila egoisme-egoisme yang dilakukan umat Islam terus
berlangsung?

Ketimpangan-ketimpangan yang terjadi di Indonesia
selama seperti tidak disadari. Apa karena terlena dalam ke-superior-annya
sehingga masalah sesensitif seperti ini tidak dirasakan. Atau malahan karena keminoritasannya,
suara-suara kegelisahan seperti ini tak dapat tersampaikan.

Pancasila sebagai mode penangkap
keberagaman

Hegemoni Islam atas pentas keberagamaan di
Indoensia, menjadiakan narscisme muncul dalam diri umat Islam. Semua baik
apabila sesuai dengan Islam. Lalu bagaimana kita mengakomodir kepentingan
golongan-golongan dan agama-agama minoritas?

Sebuah pandangan yang tak memihak, universal, dan
relevan dengan keberagaman Indonesia sangat diperlukan. Dan menurut hemat saya
Pancasilalah yang tepat menjadi pandangan itu.

Tapi, bukankah sejarah telah membuktikan
bagaimana, satu rezim telah memakainya sebagai legitimator kekuasaan? Bukankah
Pancasila telah cacat? Bukankah Pancasila hanyalah ide-ide utopis para founding
father bangsa?

Maka dari itu, reposisi kembali Pancasila adalah
jalan keluar yang terbaik yang bisa dijalanani bangsa Indonesia.

Reformasi 1998 membawa Indonesia ke dalam kondisi
kehilangan pandangan hidup bersama sebagai sebuah bangsa. Pancasila yang
seharusnya menjadi dasar utama pemersatu pandangan-pandangan hidup manusia
indonesia, kehilangan kesaktiaanya. Pancasila limbung diterpa “demokratisasi”
dan krisis ekonomi. Kepercayaan masyarakat terhadapnya kiat surut. Dan bahkan
sebagian memandang tidak ada perlunya lagi Pancasila dipertahankan. Pancasila
sudah tidak relevan, bahkan tidak lagi berguna. Alih-alih menjadi pemersatu
bangsa, Pancasila malahan dianggap sebagai pemicu perpecahan bangsa.

Kebencian-kebencian yang muncul karenanya tidak
lagi bisa dihitung. Pancasila yang harus menjadi ideologi satu-satunya di
Indonesia, mengharuskan paham-paham lain menyingkir jauh-jauh. Dan dari sinilah
muncul sinisme-sinisme terhadapnya. Sinisme-sinisme ini kemudian berkembang
menjadi benih-benih kebencian dan makar-isme.
Upaya-upaya pemisahan diri, yang muncul di Aceh, Sulawesi, Papua, tidak lain
karena  ada pihak-pihak yang tidak
sejalan dengan Pancasila. Selain itu, Pancasila juga menjadi alat diskriminator
terselubung dalam negeri yang beragam ini.

Dari sinilah kemudian muncul ide untuk
memposisikan kembali pancasila sebagaimana mestinya. Pancasila sebagai pancasila
tentunya. Bukan Pancasila yang salah tafsir, tapi tidak pula sebagai Pancasila
yang menolak penafsiran-penafsiran. Pancasila akan terus bermetamorfosis
mencari bentuknya. Secara umum bangsa Indonesia memandang Pancasila sebagai
berikut; pertama, Pancasila sebagai
suatu yang sacred, dan pandangan “ultimate”. Kedua, Pancasila sebagai fondasi dasar kehidupan berbangsa dan
bernegara. Ketiga, Pancasila sebagai
alat untuk mencapai tujuan bangsa Indonesia. ketiga esensi Pancasila ini akan
terus ada dalam diri Pancasila. Kemudian bila ada penyelewengan makna terhadap
Pancasila, itu berhubungan erat dengan pemerintahan yang ada. Dan bukan karena
Pancasila itu sendiri. “Pancasila tetaplah pancasila, yang selalu menjadi
bentuk negoisasi-negoisasi terus menerus yang tidak pernah tunggal dan tidak
pernah sempurna ke-eka-annya itu,” demikian tulis Goenawan Muhammad.. Proses
penafsiran terhadap pancasila akan terus ada, dan terus mengisi khasanah
kekayaan yang terkandung di dalamnya. Jadi, pancasila akan relevan bila ia
terus berproses untuk menemukan kesejatian dalam dirinya dan terus menjadi
“Pancasila menjadi”.

Lalu posisi apa yang sesuai untuk Pancasila.
Apakah diposisikan sebagai yang sakral? Apakah sebagai dasar negara? Ataukah
sebagai jalan untuk mencapai tujuan bangsa? Mengenai hal ini saya beranggapan
bahwa posisi Pancasila yang tepat adalah posisi yang mencangkup ketiga esensi
itu. Pancasila tidak akan bisa dilepaskan dari ketiganya. Bila ia diposisikan
sebagai yang suci saja maka yang muncul adalah perbudakan manusia terhadapnya.
Dan ide ini akan dengan mudah dimanfaatkan sebuah rezim untuk kekuasaan. Dan
bila hanya memposisikannya sebagai dasar saja maka yang nampak adalah
disorientasi sebuah bangsa. Indonesia akan berjalan tanpa tujuan, tidak jelas
apa yang apa yang dicari. Kemudian, jika hanya memposisikannya sebagai jalan
untuk mencapai tujuan bangsa, maka yang muncul adalah kegagalan untuk mencapai
tujuan itu. Bagaimana hendak mencapai tujuan, kalau jalan yang dipakainya tanpa
pondasi. Jadi penting sekali untuk tetap memposisikan Pancasila dalan tiga
pandangan ini.  

Sebagai sebuah bangsa yang majemuk tentunya kita
membutuhkan satu pandangan hidup (weltanschauung)
bersama sebagai pemersatu bangsa. Lalu apa jadinya bila satu pandangan itu di
hilangkan? Perang ideologi dan kepentingan akan muncul. Ideologi agama, marxisme,
nasionalisme, tradisionalisme dan banyak lagi ideologi lain yang akan saling
bertempur memperebutkan hegemoni dan dominasi. Tentunya bila perang semacam ini
terus berlangsung maka tidak pelak menimbulkan kekacauan sistem sosial
Indonesia. Untuk itulah kembali ke pelukan Pancasila adalah jalan yang tepat
yang harus dipilih bangsa Indonesia.

Lagi-lagi saya teringat tulisan Goenawan Muhamad.
“Pancasila adalah Pancasila buatan manusia. Tapi karena buatan manusialah, ia
tidak mengklaim dirinya suci dan sakti. Dengan demikian ia adalah cerminan dan
juga cahaya dari dalam sebuah kehidupan bersama yang mengakui dirinya
mengandung “kurang”, karena senantiasa bergulat antara ‘eka’ dan
‘bhineka’”.   

         

Ringkasan lain tentang Pancasila Pengakomodir Keberagaman Kita
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Jumlah komentar dalam abstrak ini: 2

Komentar

Showing 2 out of 2   Tambahkan komentar Anda
  1. komentar

    hani

    10 Desember 2007

    Saya sebagai seorang mahasiswa setuju dengan artikel ini.Namun,saya masih mencari tentang "ada apa dengan pancasila?".Jika memang benar adanya seperti itu, tolong buktikan pada saya tentang ada apanya dengan pancasila di kehidupan ini? Tolong kirimkan ke email saya yupz??!!!

  2. 085265667887

    YANTI MAYASARI GINTING

    15 Desember 2007

    pancasila merupakan idiologi bangsa pada hakekatnya merupakan pemersatu keanekaragaman yang ada.jika melihat realita yang ada benar terjadi pendiskriminasian hak karna perbedaan tersebut.bukan pancasila yang salah.hanya orang-orang yang merasa cendikiawan yang merasa hikmah duniawinya benar.

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------