• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Seni & Humaniora>Tak Dapat Tuhan Moralpun Jadi

.

Tak Dapat Tuhan Moralpun Jadi

oleh : Wijayandaru    

Pengarang : Khayun Ahmad Noer
Selama
puasa beberapa hari lalu, sempat terbesit pertanyaan dalam benak saya
tentang makna tujuan puasa yang
dilakukan umat Islam. Sebenarnya apa
yang membuat puasa itu begitu menarik untuk ditunaikan, hingga setiap
muslim di hampir setiap lapisan masyarakat menyambut bulan ini dengan
suka cita? Apakah karena sekedar kewajiban agama, atau karena ketakutan
akan siksa dan harapan akan pahala yang dijanjikan Tuhan? Tapi
alasan-alasan ini nampak belum begitu menyentuh makna dan tujuan dari
berpuasa itu. Ketika saya berpuasa misalnya, tentu kenikmatan menjalani
ibadah itu belum tentu terasakan jika melihat puasa itu sekedar
kewajiban atau karena alasan akan mendapat siksa jika meninggalkan dan
mendapat pahala bila menjalaninya. Jika alasan itu yang dipakai
rasa-rasanya begitu sempit saya memaknai ibadah ini. Harus ada alasan
yang lebih untuk memberi dasar makna dan tujuan dari puasa itu. Karena
ini berkenaan dengan persoalan ibadah yang seharusnya memiliki nilai
tinggi bagi manusia. Setidaknya itu yang saya pikirkan.
Dalam
perjalanan waktu dan satu kontemplasi, saya mencoba menerka-nerka untuk
menemukan alasan yang tepat untuk hal ini. Yang kemudian sampailah saya
pada satu titik di mana untuk menjawab makna dan tujuan berpuasa itu
saya menemukan muara yang bernama “Tuhan”. Sepertinya jawaban inilah
yang sebenarnya menjadi dasar atas apa yang saya lakukan, dan memang
sepertinya tak ada jawaban lain selain ini. Bukan karena kewajiban atau
siksa dan pahala, saya menjalani puasa ini. Dengan mendasarkan makna
dan tujuan berpuasa pada Tuhan, barulah makna dan tujuan ibadah itu
dapat menjadi relevan.
Namun
dengan pendasaran ini, masalah tak lantas dapat begitu saja selesai.
Jawaban yang tepat ini sulit untuk diimplentasikan dalam realita
kehidupan yang ada. Atau dapat saja disalah pahami, karena memang
bahasannya sulit dijangkau. Orang bisa saja dengan mudah mengatakan
bahwa semua yang dilakukan mereka disandarkan pada Tuhan semata. Namun
mereka akan kesulitan menjawab, ketika satu pertanyaan diajukan.
Bagaimana orang-orang tahu bahwa mereka telah melakukan itu semua demi
Tuhan? Sampai sejauh manakah manusia mengenal Tuhan mereka, hingga
merasa begitu yakin bahwa apa yang dilakukan mereka layak untuk-Nya?
Dan jawabannya adalah manusia tak pernah dapat sampai pada Tuhan dan
mengerti betul siapa Dia sebenar-benarnya. Seperti yang dikatakan Ibnu
Arabi, manusia hanya mengenal Tuhan lewat pantulan cermin yang
menampakkan bayangan Tuhan pada manusia. Sedangkan Diri Tuhan yang
sesungguhnya manusia tak kan dapat tahu.
Di
samping itu realitas yang ada mengatakan bahwa pada umumnya orang-orang
muslim melakukan ibadahnya cenderung karena landasan perintah dari
Tuhan, bukan karena Tuhan itu sendiri. Tuhan begitu jauh ketika tangan
manusia hendak menjangkaunya. Bukan manusia yang dapat mendekatkan
dirinya dengan Tuhan, karena Tuhan terlampau begitu agung untuk dapat
dijangkau manusia. Tapi karena, Tuhan Maha Pengasih lagi Maha
Penyayanglah manusia dapat merasakan sentuhan Tuhan. Sentuhan kecil
yang membuat manusia seolah-olah menemukan entitas Tuhan mereka yang
sebenarnya. Sekali lagi manusia tak mampu untuk menjangkau zat yang
Maha tak Terjangkau itu.
Ketika
membahas pendasaran puasa atau ibadah yang lainnya, sah-sah saja setiap
muslim melakukannya “bukan karena Tuhan”. Tapi karena perintah-Nya atau
juga karena jaminan surga dan neraka misal. Lagi-lagi ini karena
keterbatasan manusia dalam menggapai entitas Tuhan. Apa yang kita
lakukan dalam ibadah tak akan pernah cukup untuk dapat menembus cahaya
Tuhan. Yang dapat dilakukan setiap muslim melihat hal ini tentu dengan
berupaya sekuat mungkin untuk menyampaikan pesan ibadah mereka pada
Tuhan. Meskipun tahu bahwa mereka takkan pernah dapat menyampaikanya
pada-Nya karena ketidakmengenalan pada Tuhan mereka. Dan karena itu
biarlah Tuhan yang menyentuh bagian-bagian pesan ibadah itu pada
tingkatan-tingkatan yang manusia mampu.
Dan
untuk memposisikan nilai ibadah itu, agar senantiasa tetap ada pada
nilai yang tinggi, maka yang dapat dilakukan manusia adalah menjadikan
diri mereka tetap “bermoral” atas nama Tuhan. Bermoral dalam artian
mereka menyadari betul tanggung jawab yang mereka emban bukan hanya
karena kewajiban akan perintah atau juga karena ketakutan dan
kesenangan. Tapi karena keberadaan Tuhan yang telah menurunkan kasih
dan sayang-Nya pada manusia. Kasih sayang Tuhan pada manusia
mengalirkan tanggung jawab moral pada manusia, seperti inilah garis
besarnya.
Dengan
moralitas ini, manusia dapat sedikit mengesampingkan sulitnya mencapai
pancaran Tuhan. Moralitas ini yang akan menghubungkan manusia dengan
Tuhannya. Moralitas yang bekerja pada setiap individu dengan
penyesuaian kemampuan masing-masing dalam menjalani dan menangkap
pesan-pesan ibadah pada Tuhan Yang Maha Kasih. Satu kesadaran individu
pada ibadahnya tentunya. Dan di sinilah sebenarnya makhluk yang bernama
manusia ini diuji. Ketika mereka sadar memilih, karena kebebasan yang
dimilikinya, maka manusia-manusia ini menjadi bagian manusia yang
sebenarnya. Kebebasan memilih untuk menentukan nilai yang lebih tinggi
dari sekedar perintah atau harapan dan ketakutan akan surga-neraka.
Dengan
moralitas ini, setiap individu memiliki posisi tawar sebagai manusia
dalam menjalani ibadah mereka di mata Tuhan mereka. Dengan tidak
terpaku pada teks atau perintah dan larangan yang bisa saja
dipolitisasi. Meski harus diakui bahwa kesadaran memilih ini juga harus
berangkat dari teks-teks dan perintah agama yang ada. Tentu dengan
melihat bahwa orang yang sadar melakukan ibadah bukan karena perintah
dalam teks itu jelas berbeda dengan orang yang melakukannya karena teks
atau perintah-perintah itu. Perbedaannya, tipe manusia yang pertama
adalah manusia yang sadar akan kemanusiaanya dan kemudian menggunakan
teks-teks sebagai jembatan antara dirinya dengan Tuhan. Sedang yang
kedua merupakan tipe manusia yang dibelenggu lingkaran cambuk agama
yang menggunakan teks sebagai pegangan total.
Dan
pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa, kenapa setiap muslim begitu
antusias dalam menjalani ibadah puasa ini, sebenarnya karena mereka
mencari nilai yang lebih tinggi di mata Tuhan. Satu nilai yang didamba
oleh kesadaran yang ada dalam diri manusia. Kesadaran untuk mendapatkan
nilai yang lebih tinggi yang kemudian berbuah satu rasa kebahagiaan
yang muncul secara tidak disadari dalam hati. Nilai inilah yang
setidaknya dapat menjadikan manusia lebih manusiawi, daripada sekedar
mematuhi perintah agama. Semakin orang menyadari bahwa mereka melakukan
ini karena tanggung jawab mereka karena kasih sayang Tuhan, semakin
tinggi pula nilai ibadah mereka. Dan saya menyebut kesadaran ini
sebagai “Sang Moral” dalam diri manusia.
Diterbitkan di: Nopember 15, 2007
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.