Membangun Tembok Minang di Pantai Sumatra Barat
Summary rating: 2 stars
1 Tinjauan
Kunjungan:
96
kata:
600
Diterbitkan di: Oktober 25, 2007
Kalimat itu cukup bijak dan memberi pengertian yang mendalam tentang perlunya
pengetahuan menghadapi bencana: Ada nilai yang sangat kuat mengaitkan alam,
manusia, dan Sang Pencipta. Pengetahuan sendiri membuka keseimbangan
hidup bagaimana memahami kejala alam. Maka, membaca fakta sejarah menyangkut
gejala dan bencana alam, tampaknya sangat penting. Pengetahuan
yang diperoleh dari pembacaan itu, paling tidak akan menyingkap sedikit tabir
alam dan membuat kita semakin arif dan peka.
Bagi daerah kita, Sumatra Barat, bencana alam bukan lagi peristiwa alam yang
langka: gempa bumi dengan potensi tsunami, tanah longsor, banjir, angin topan,
dan gelombang laut besar terasa sudah demikian fasih kita ucapkan belakangan
ini.
Sosialisasi Belum Maksimal Bagi masyarakat yang bermukim di sekitar pantai barat
Sumatra Barat, rentang waktu yang sempit itu, sekitar 30 menit setelah gempa
yang dapat memicu tsunami, menjadi waktu yang demikian berharga.
Selain itu, yang paling mungkin dapat menimbulkan tsunami adalah gempa terjadi
di dasar laut dengan kedalaman pusat gempa kurang dari 60 km, magnitudo gempa
lebih besar dari 6,0 SR, jenis pensesaran gempa tergolong sesar naik atau sesar
turun atau terjadi deformasi vertikal dasar laut.
Tanda-tanda akan datangnya tsunami di daerah pinggir pantai adalah bau asin yang
menyengat dan dari kejuhan tampak gelombang putih dan suara gemuruh yang sangat
keras.
Masyarakat yang tinggal di pesisir pantai—yang tergolong dalam rawan dan berada
di jalur bahaya, juga belum banyak menerima pengetahuan umum tentang antisipasi
tsunami. Memang, setelah terjadinya tsunami di Aceh pada
26 Desember 2004, terutama di Kota Padang, pelatihan tanggap darurat (emergency
drill) yang menyertakan penduduk kota ini, terutama yang bermukim di pantai
sudah beberapa kali digelar.
tidak, pada pelaksanaannya, tim yang manangani pelatihan ini belum sampai pada
pengukuran waktu rata-rata dan paling lama yang diperlukan untuk menuju titik
evakuasi yang aman. Misalnya, penduduk yang tinggal di
sekitar Pasir Jambak (Pasir Sebelah), karena tidak maksimalnya sosialisasi, kita
belum mengetahui waktu rata-rata yang dibutuhkan masyarakat menuju titik
evakuasi sampai di jalur aman.
Cuma, yang jadi masalah, apakah Pemerintah Kota Padang, Pemerintah Provinsi
Sumatra Barat, pemerintah kabupaten dan kota lainnya, mampu mendudukkan gagasan
ini dalam satu frame dan kerangka kerja yang jelas? Untuk saat sekarang,
membangun Tembok Minang ini merupakan pilihan yang sangat tepat.
Dan sementara, jalur evakuasi yang dibangun pada saat sekarang, saya kira perlu
ditinjau lagi, dan dananya bisa dimanfaatkan membangun Tembok Minang itu.
Jika tidak dari sekarang kita mulai, kapan lagi!