Halaman Utama Shvoong > Seni & Humaniora > MEMBANGUN VALUE, MARI BERKACA PADA KAISAR HIROHITO

.

MEMBANGUN VALUE, MARI BERKACA PADA KAISAR HIROHITO

Pengarang : devas
Summary by : devasutta
Kunjungan : 132  kata: 600   Diterbitkan di: Oktober 10, 2007
MEMBANGUN VALUE, MARI BERKACA PADA KAISAR HIROHITO
Pada akhir masa pengeboman sekutu atas Jepang, yang ditandai dengan
jatuhnya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, praktis seluruh wilayah
Jepang mengalami kehancuran total. Dalam situasi yang suram itu,
kaisar Jepang saat itu, Kaisar Hirohito, melakukan inspeksi keliling
untuk melihat secara langsung kondisi rakyatnya.
Ada satu pertanyaan yang diajukan sang kaisar kepada stafnya, yang
tidak akan pernah dilupakan oleh bangsa Jepang sampai detik ini.
Kaisar bukan menanyakan berapa jumlah pabrik yang tersisa, berapa
jumlah bank yang masih buka, atau berapa jumlah rumah yang masih
berdiri. Satu-satunya pertanyaan beliau adalah, "Berapa jumlah guru
yang masih kita punyai?"
Hasil dari dialog pendek tersebut sungguh luarbiasa. Kini Jepang
berbalik, seolah merekalah yang menjajah Amerika. Pada tahun 2006,
pabrikan mobil Toyota melejit menjadi produsen mobil nomor 1 sedunia.
Untuk pasar Amerika sendiri, 2 raksasa lokal -Ford dan General Motor-
sampai-sampai harus mengurangi karyawannya karena pasar mereka yang
terus dikikis oleh Toyota.
Apa inti dari kisah tersebut? Tidak lain adalah semangat untuk
membangun value. Dalam kacamata ilmu pemasaran, value dirumuskan
sebagai (functional benefit + emotional benefit) / total give. Dalam
bahasa yang sederhana, meningkatkan value dari sebuah produk atau jasa
berarti memberikan benefit yang lebih pada pelanggan atau konsumen,
sehingga yang mereka dapatkan akan lebih dari sekedar produk yang
mereka beli.
Tentu saja, memahami apa saja benefit yang bisa kita ciptakan, atau
bagaimana meningkatkan value dari produk kita, membutuhkan proses
belajar dan terus belajar. Itulah mengapa Kaisar Hirohito sangat
peduli dengan berapa jumlah guru yang masih "tersisa". Jepang memang
merupakan potret sebuah bangsa yang memiliki kesadaran tinggi untuk
membangun value -nya.
Tahun 2007 sudah mulai kita masuki dan persaingan di berbagai bidang
pun akan semakin keras. Apapun bidang ataupun jenis usaha yang anda
jalani, tentunya anda ingin selalu tampil sebagai pemenang bukan? Dan
value adalah suatu hal yang akan membuat anda atau produk anda
dipersepsi "berbeda" dari pada para pesaing anda. Value adalah kunci
untuk tampil sebagai pemenang.
Namun upaya untuk membangun value akan membutuhkan kerendahan hati
untuk "bersedia" belajar, dan hal inilah yang sering menjadi kendala.
Bahkan Jim Collins dalam bukunya Good To Great sampai-sampai
mengatakan, "Baik adalah musuh dari hebat. Dan itulah salah satu
alasan utama mengapa kita hanya mempunyai sedemikian sedikit hal yang
dapat menjadi hebat."

Bagaimana Dengan Anda ???

Ringkasan lain tentang MEMBANGUN VALUE, MARI BERKACA PADA KAISAR HIROHITO
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------