Jika butuh tidur, maka akan terlihat keinginan itu lebih lemah dan lebih mudah dicari alternatif pemuasannya sehingga bisa sinkron lagi
dengan keinginan tidur. Jadi di sini yang paling penting adalah mendapatkan hasil pemetaan yang jujur terlebih dahulu. Selebihnya menjadi mudah untuk mengharmonisasikan (memenuhi/mentransf ormasikan setiap permintaan) pecahan-pecahan diri.
Jadi kesimpulannya. Diri/ego adalah kumpulan
pecahan diri yang tersebar pada seluruh peristiwa dalam lingkup ruang waktu alam semesta. Berkomunikasi empati dengan alam semesta berarti dapat memetakannya dan menyamadengankannya sehingga semua pecahan yang telah diempatikan (disamadengankan) telah dikenal, diharmonisasikan dan diterima sebagai kesatuan keluarga besar diri/ego. Memang tidak mungkin hanya dengan sekali memetakan dapat mengkoordinatkan semua pecahan diri/ego. Namun, sejalan dengan waktu,
semakin sedikit pecahan yang masih yatim-piatu, dan
kita bakal semakin mengenal diri kita jauh lebih baik melalui pecahan yang telah kita empatikan. Bahkan dengan semakin banyaknya pecahan yang dapat kita empatikan, semakin memperbesar kemampuan kita menerima umpan-balik dan informasi dari alam-semesta mengenai diri kita, kehidupan kita dan alam semesta itu sendiri. Anda dilabelkan indigo, pintar,jenius? Tidak masalah.
Jikapun terlekat dengan label itupun tetap bukan masalah.
Karena anda telah menerima keterlekatan tersebut sebagai keluarga besar diri anda. Anda dilabelkan sebagai tolol, bodoh, lambat, telmi, pas-pasan? Tidak masalah juga. Kalaupun anda terlekat dengan label-label negatif tersebut, anda tidak mengaggapnya sebagai masalah. Karena justru karena telah menerima ada diri yang terpecah dan terlekati dengan pelabelan tersebut, maka anda bisa mendapatkan banyak informasi yang berharga via ekspresi/label/ pecahan negatifnya. Dan anda tidak merasa seluruh diri anda menjadi negatif bukan? Karena anda telah menganggap itu hanyalah salah satu anggota keluarga pecahan diri/ego anda. Semakin anda berumur, semakin luaslah cakupan pengalaman dari pecahan-pecahan diri/ego anda. Semakinlah anda mengenal keluasan mekanisme proses alam-semesta ini melalui pecahan-pecahan diri anda. Dan bila kelihatannya ego/diri anda diserangpun, yang mana sih diserang? Setiap luka bisa menjadi pecahan diri/informasi yang berharga. Dan setiap kemenangan tidaklah memabukkan karena kelekatannya telah anda terima sebagai pecahan saja, tidak berusaha disatukan ke diri anda. Tapi perlu diketahui bahwa bukan berarti senangnya cuma terasa seperti pecahan belaka. Kalau lagi senang ya senang sepenuh-penuhnya. Mengapa bisa? Karena memang kan kesenangan itu sudah tidak dianggap sebagai faktor konflik/bahaya/ tarik-menarik antar pecahan diri/ego. Jadi tidak perlu lagi sikap hati-hati yang munafik. Hanya menjalani apa yang lagi ada di pecahan diri. Lagi senang ya senang… tidak masalah. Lagi sedih ya sedih, abis itu tidak masalah. Lama-kelamaan, ayunan emosi akan semakin terkontrol karena memang sudah tidak ada lagi konflik sebagai sumber ayunan emosi. Cuma semakin mengenal diri anda dan mengenal alam-semesta melalui diri anda.
Akhirnya, semua yang saya tulis di atas cumalah konsep. Jadi tidak benar-benar mewakili apa yang saya rasakan saat ini. Saya tidak sanggup menjelaskannya sehingga menjadi seperti copy-paste kepada anda. Tidak ada yang seperti itu lho…! Anda punya pengalaman unik sendiri dan tidak akan sama seperti saya. Apa yang saya rasakan sendiripun tidak sanggup saya mencari penjelasan yang paling tepat bagi diri saya sekalipun. Ini semuanya hanyalah hasil interpretasi dari apa yang saya rasakan. Inilah permainan utama kompatiologi dengan metoda dekonstruksinya. Bermain interpretasi atas
perasaan yang telah didapat.
Salam,
Ringkasan lain tentang Menyatukan Pecahan Diri - 6 (End)