Mari
kita selidiki satu-persatu apa yang sesungguhnya terjadi:
Pertama. Menyatukan
diri terlihat seperti perbuatan sia-sia, karena selalu ada tarikan kepentingan dan keinginan dari dalam diri kita sendiri, alias selalu timbul aksi-reaksi yang memang alami dan memang merupakan hukum alam.
Kedua. Diri yang terpecah bila disadari sesungguhnya adalah akibat dari peristiwa-peristiwa yang terpisah dalam lingkup ruang-waktu kehidupan diri kita.
Ketiga. Sebaran
pecahan diri kita banyak yang tersimpan di memori masa lalu, dan banyak juga yang merupakan bentuk kekhawatiran akan masa depan.
Keempat. Usaha yang kita lakukan tanpa kita sadari juga ikut andil memperbanyak pecahan diri kita (atau usaha memperbanyak tekanan dan tarikan kepentingan/ keinginan yang kita rasakan).
Kelima. Pecahan diri itu memang nyata ada karena kita membutuhkannya untuk ekspresi dan pelabelan diri juga
alam semesta. Dan kecenderungannya bukan semakin sedikit melainkan semakin banyak seiring dengan usaha yang kita lakukan di bumi ini dan seiring dengan penuaan diri kita (sehingga makin banyak pengalaman yang kita miliki, makin banyak kesempatan peristiwa-peristiwa yang dapat memecah-mecah diri kita).
Lima poin tersebut dapat disimpulkan bahwa pecahan diri kita tersebar di segala peristiwa dalam lingkup ruang waktu alam semesta. Singkatnya, pecahan diri kita tersebar di alam semesta. Komunikasi empati diri kita dengan alam
semesta adalah hubungan diri kita yang ‘kita sama-dengankan’ dengan alam semesta. Dengan ‘menyama-dengankan’ kita tidak berusaha mengambil pecahan diri kita melainkan memetakan (secara harafiah) diri kita terhadap pecahan diri kita di ruang waktu alam semesta. Jadi ilustrasi mudahnya adalah seolah-olah kita memiliki peta yang menunjukkan dimana letak semua pecahan diri kita di alam semesta.
Lalu kita tidak mengambil pecahan-pecahan tersebut, melainkan menyamadengankannya konsep diri kita dengan pecahan yang nyata berada di alam semesta. Inilah komunikasi empati sesungguhnya dengan alam semesta. Inilah juga berarti mirip dikatakan sebagai pembesaran ego/diri sebesar pecahan ego/diri yang mencakup alam semesta. Sederhananya, semakin kita bisa memetakan secara lebih lengkap, maka kita tinggal memperbesar diri/ego kita sebesar luasan alam semesta yang dicakup oleh pecahan-pecahan ego/diri tersebut. Terdengar rumit? Saya akan mencoba memberikan contoh yang sangat sederhana di bawah ini.
Tentu hampir setiap diri kita pernah mengalami insomnia. Masalah sulit
tidur sering-kali dicoba di atasi dengan teknik-teknik menyibukkan, menghipnotis, mengalihkan diri, dlsb. Namun jikapun teknik-teknik itu memang berhasil, apa sih yang sesungguhnya terjadi? Saya akan bahas dalam sudut pandang keterpecahan diri.
Jelas sekali, dalam fenomena susah tidur, terjadi perpecahan diri antara
kubu yang ingin tidur segera dengan kubu yang masih ingin aktif/stress. Biasanya diusahakan kubu yang masih aktif untuk dialihkan, ditekan, diabaikan, dlsb, sampai kesadaran kita terjatuh dan tertidur, dan saat itu boleh dianggap kubu yang menginginkan aktif telah kalah dan lenyap, yang tertinggal hanyalah kubu yang ingin tidur segera. Namun bagaimana bila teknik-teknik itu tidak berhasil?
Atau takut kalau bisa menyebabkan ketergantungan fisik maupun mental terhadap teknik atau obat-obatan tertentu? Maka, ketika itu saya melakukan percobaan kecil. Saat saya susah tidur, saya sengaja berdamai dengan kedua kubu saya. Bukan pasrah. Karena kalau pasrah berarti saya terikat dengan konsep. Yang artinya saya malah menciptakan satu kubu lagi, yaitu kubu pasrah yang berharap dengan pasrah bisa tertidur. Ingat, saya tidak berusaha untuk tidur. Setelah saya juga melepaskan pasrah, kemudian saya membiarkan diri saya terjatuh kesadarannya, lalu aktif kembali, lalu terjatuh lagi, bolak-balik. Saya akui diri saya pecah dengan segera. Dan menerimanya sebagai kenyataan susah tidur. Apa yang terjadi? Saya memang bolak-balik susah tidur hampir selama 3,5 jam. Gelisah bukan main. Tapi tetap saya terapkan dengan sabar kesadaran berkomunikasi empati (pemetaan) saya dan menerimanya seolah-olah diri saya ya mencakup pecahan diri saya juga. Saya melayani pikiran-pikiran liar saya sekaligus rasa kantuk saya. Akibatnya malah agak aneh. Saya dapat menyadari saat-saat mau masuk ke alam mimpi hampir dalam keadaan belum tidur. Dan lama-kelamaan, saya merasa saya dapat berdamai dengan kedua kubu tersebut yang berarti saya berdamai dengan keterpecahan diri saya. Lalu saya menjadi tenang, dan senyum-senyum sendirian bahwa saya malah mendapatkan hikmah bonus yang tidak saya sangka-sangka. Yaitu hakikat disiplin. Disiplin bukanlah pemaksaan diri untuk berkomitmen atau dengan kata lain sengaja memecah diri lalu berjuang mengatasi perpecahannya. Misalnya melakukan kegiatan mendisplinkan diri dalam belajar 2 jam sehari dengan pemaksaan melawan keinginan hura-hura. Bukan seperti itu. Bukan melawan keinginan. Melainkan memetakan seluruh keinginan/perpecahan diri dan menerimanya/ menyamadengankan nya sebagai kenyataan. Itulah komunikasi empati. Dapat membawa serta seluruh pecahan karena telah dapat mengenal baik dan harmonis pada setiap pecahan. Bukan berusaha memaksakan menyatukan diri sehingga muncul aksi-reaksi. Disiplin menjadi sederhana. Jika saya ingin mendisiplinkan diri untuk tidur ketika insomnia. Maka yang saya lakukan hanyalah tidur bersama pecahan-pecahan diri saya bersama-sama. Itu saja. Tak ada perlawanan keinginan. Keinginan manapun dari pecahan tersebut tetap saya penuhi walaupun tema saya adalah tidur. Tentu bakal ada pertanyaan. Bagaimana kalau keinginannya berupa kegiatan fisik yang mengharuskan tidak tidur? Ya pilihan yang mudah sebenarnya. Dari hasil pemetaan, akan terlihat sendiri tubuh kita sebenarnya butuh tidur atau tidak?
Ringkasan lain tentang Menyatukan Pecahan Diri - 5