Tapi kebanyakan
dari kita menganggapnya sebagai kepolosan. Saya rasa memang tetap ada perbedaan antara anak-anak yang terlalu mencuat sifat indigonya (kadang sampai dewasa)
dengan anak-anak biasa yang hilang sifat keindigoannya pada saat mulai masuk sistem sekolah. Namun bagi saya hal ini
tidak menutup makna yang ingin ditunjukkan oleh Vincent bahwa indigo akhirnya hanyalah pelabelan. Kumpulan sifat-sifat
seperti indigo ternyata pernah dimiliki oleh sebagian
diri kita. Dan wajarlah dengan sifat alam yang penuh variasi ini (variasi dna), ada anak-anak yang lebih terlihat dan lebih tahan lama sifat indigonya. Hanya saja, ternyata lama tidaknya si
anak memiliki sifat-sifat indigo juga tergantung (selain dari kekuatan anak itu sendiri) dari sistem pendidikan sosial kolektif yang diterapkan oleh lingkungan masyarakat. Inilah salah satu hal yang terpenting yang ingin ditunjukkan oleh si Vincent dalam ilmu kompatiologinya.
Berdasarkan konteks dan latar belakang lingkungannya (yang membuat dirinya menjadi seperti memiliki kelebihan indigo), anak ini (Vincent Liong) memiliki kesempatan yang bagi yang lain sangat langka untuk dapat tidak sejalan dengan sistem kolektif yang sudah ada. Kemampuan untuk dapat tidak sejalan ini selain berasal dari garis keturunan (dna), juga sebagaian besar berasal dari kesempatan yang terbuka dari jalan kehidupan, konteks dan latar belakang yang disediakan oleh dunia untuk dirinya. Dan kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Vincent yang salah satu hasil penemuannya adalah Kompatiologi. Pembahasan mengenai kompatiologi sudah banyak dibahas ditulisan awal saya di KMA ini dan juga sudah dijelaskan secara lengkap dan di- up to date oleh si Vincent sendiri. Jadi paragraf berikutnya saya akan lanjutkan lagi penyelidikan kita dalam konteks penyatuan pecahan diri ini.
Munculnya pelabelan indigo ataupun pelabelan yang lain seperti autis, jenius, debil, anak emas, dlsb, sebenarnya semuanya berasal dari sistem kolektif yang berlaku saat ini. Sistem kolektif seperti apa? Ya itu, sistem yang sesungguhnya telah saya jelaskan panjang lebar di beberapa paragraf sebelum ini. Sistem yang memproduksi dualitas kelekatan pada konsep-konsep. Ketidaklekatan maupun kelekatan seperti yang telah kita bahas sama-sama menuju keterpecahan diri. Usaha untuk lepas maupun tidak berusaha untuk lepas sambil menunggu kesadaran datang tetap saja secara implicit mensyaratkan komitmen yang lagi-lagi menyiratkan ketidaksesuaian dengan keinginan (tarik-menarik/ keterpecahan diri juga). Melakukan gabungan kedua hal itupun hanya akan menghasilkan gelombang/dualitas kehidupan yang sangat kita kenali. Bahkan spiritualitas akhirnya hanya merupakan hikmah dari kenangan masa lalu. Apakah itu berarti tugas kita yang tersisa hanyalah menjalani saja? Rahasianya sebenarnya terletak pada masa kecil kita (seperti sebagian yang telah diuraikan pada beberapa paragraph awal). Munculnya pelabelan sesungguhnya merupakan refleksi dari harapan-harapan semu kita akan kesempurnaan. Yang mana kesempurnaan yang dimaksud sama-sekali tidak menggambarkan gelombang/dualitas kehidupan. Tetap akan ada pelabelan seperti indigo, jenius, pintar, cerdas, baik, bodoh, labil, debil, autis, pas-pasan, dlsb, yang semuanya mau menggambarkan seluruh usaha kita untuk mencapai kesempurnaan. Kita rame-rame mengagumi kecerdasan, kejeniusan, keindigoan, keemasan, hanya karena kita sangat-sangat merindukan kesempurnaan. Saya rasa akan masih sangat sulit bagi sebagian besar balita yang bisa menghindari pelabelan tersebut dan dengan demikian bisa menghindari pula luka akibat terlalu lekat dengan label-label yang selalu menarik-narik atau memecah- mecahkan dirinya. Kalau masih ada dari anda yang penasaran dimana sih posisi yang ingin diisi oleh kompatiologi. Maka saya akan langsung mengatakan, di sinilah salah satunya kompatiologi akan bekerja (tentu masih ada bidang-bidang yang lain). Bersama Vincent dan juga orang-orang lain yang telah menyadari keterpecahan dirinya dan ingin menyelidiki dari nol (bukan dari acuan konsep tertentu).
Mari kita lanjutkan penyelidikannya. Setelah kita mengetahui keadaan yang serba mengambang seperti ini. Tentu pilihan yang tersisa hanyalah tinggal menjalani kehidupan apa-adanya saja. Bukan begitu? Namun kalau begini, jebakan status quo telah menganga lebar. Karena apa yang disebut sebagai menjalani apa-adanya hanyalah kata lain dari tetap menjalani hidup dengan metoda dan konsep yang dulu, alias tidak ada perubahan apapun! Dan justru di sinilah poin pentingnya! Orang jarang konsisten dengan apa yang dijalaninya hanya karena kekurangan integritas diri (alias memang karena keterpecahan dirinyalah dia mencari hal yang lebih baik, sehingga konsekuensinya dia menjadi kurang konsisten). Namun integritas diri tidak akan terbentuk kalau dirinya tertarik/tarik- menarik ke segala-arah akibat ingin membentuk jati diri/integritas diri dari suatu konsep yang sudah ada. Jadi, bukanlah pasrah yang saya sarankan. Karena pasrah masihlah merupakan reaksi pasif, yang berarti masih melekat pada konsep (yaitu konsep pasrah). Melainkan berkomunikasi empati dengan alam semesta. Empati di sini artinya sama-dengan. Komunikasi empati adalah komunikasi ‘sama-dengan’. Jadi berkomunikasi empati dengan alam semesta (semesta ini juga berarti dengan sesame manusia juga), berarti terhubung (komunikasi) ‘sama-dengan’ atas alam semesta. Mari kita coba terapkan definisi di atas dengan suatu contoh kasus.
Diri yang terpecah, berarti logisnya diri kita tersebar dimana-mana di alam semesta.
Ringkasan lain tentang Menyatukan Pecahan Diri - 4