Mungkin telah terlihat solusi termudah dari semua persoalan ini
adalah menjadi tidak terikat dengan pelabelan. Tapi hal ini mudah mengatakannya daripada melaksanakannya. Dan tetap saja paradoksnya, usaha untuk melepaskan lekatan pada label malah membuat
kita terlekat dengan usaha tersebut yang ujung-ujungnya ketika kita tidak sanggup
lagi berusaha
seperti itu, kita kemudian akan merasakan lagi tarik-menarik keinginan
diri kita (pemecahan diri kita) antara mempertahankan usaha tersebut (yang idealis) atau merubah lagi paradigma beserta harga yang harus dibayarnya (misalnya menjadi pragmatis, pendiam, menarik diri, masa bodoh, topeng kejiwaan, dlsb). Lalu sebagai antisipasi hal ini kitapun mengambil kesimpulan sebaiknya jangan diusahakan, melainkan merupakan kesadaran sendiri yang pada saatnya datang untuk lepas dari keterlekatan (ingat, bukan melepaskan, karena menyiratkan usaha). Lalu kita akan terpancing lagi bertanya, kapan kesadaran itu akan datang? Dan bilamana kesadaran itu akan datang? Benarkah satu-satunya cara supaya terbebas dari pertentangan keinginan (pemecahan diri) adalah dengan terlepas dari keterlekatan? Hidup seperti apakah lepas dari kelekatan itu? Kesempuranaankah? Pencerahankah? Menjadi bijakkah? Di sinilah biasanya
konsep spiritualisme masuk. Ingat lho… saya lagi-lagi tidak sedang mengontraskan antara spiritualisme dengan kompatiologi. Karena yang saya tuju sebagai bahan penyelidikan adalah konsep-konsep, yang pada konteks ini dilabelkan sebagai konsep-konsep spiritualisme. Mungkin saya harus menjelaskan lebih lanjut bahwa, konsep-konsep sejatinya hanya merupakan kumpulan-kumpulan ide tentang sesuatu (dalam hal ini spiritualitas), bukan spiritualitas itu sendiri. Karena memang spiritualitas sejatinya adalah pengalaman hidup yang unik. Konsep hanyalah usaha untuk generalisasi saja. Saya berikan sedikit contoh. Banyak konsep spiritualisme menyarankan supaya bermeditasi sambil menunggu kesadaran datang (yang tanpa usaha tersebut). Namun karena hanya mengikuti konsep tanpa benar-benar mengerti bahwa asal-mula konsep itu muncul beserta keunikan situasinya, maka banyak orang hanya mengeneralisasikan saja kalau ikut metoda konsep tersebut maka hasilnya akan sama bagi mereka (yaitu berupa kesadaran yang datang/diharapkan). Padahal melakukan suatu metoda dari suatu konsep tanpa mengenal diri sendiri adalah merupakan suatu tarik-menarik antar dalam dirinya sendiri. Mengapa saya katakan seperti ini? Karena ciri khas dari mengikuti konsep adalah komitmen. Dan komitmen adalah bukti langsung bahwa yang dilakukannya tidak begitu sesuai dengan keinginannya sehingga sampai harus membuat komitmen. Sedangkan mungkin ada pembaca yang sudah menyadari bahwa spiritualitas itu murni pengalaman hidup yang unik. Pengalaman hidup yang unik ini akan sulit dilabelkan hanya dengan salah satu polaritas saja (misalkan dianggap pengalaman bijaksana, mengalami pencerahan, dlsb). Karena apa? Karena seperti yang telah kita ketahui, seluruh pengalaman hidup adalah unik dan karena itu seluruh pelabelanpun/ sifat/kriteria tercakup (misalnya dapat dipastikan pengalaman hidup kita tidak hanya yang bijak-bijak saja melainkan perbuatan yang bodoh dan jahatpun tercakup). Dan saya yakin, orang-orang yang sudah berumur mengerti hal ini ketika mereka mengenang masa lalu mereka. Dan dari situlah sumber dari segala sumber ajaran/konsep spiritualisme yang ada di bumi ini. Dari mengenang masa lalu.
Jika begitu, apakah dengan demikian keterlekatan dan keterpecahan diri adalah suatu keniscayaan? Sama seperti ketidakterlekatan dan penyatuan diripun merupakan keniscayaan? Mereka hanyalah seperti koin yang sama tapi berbeda permukaan? Melepaskan diri dari kelekatan menyebabkan pertentangan, demikian pula mempertahankan kelekatan. Bahkan menyatukan diripun menimbulkan pertentangan diri juga atas kenyamanan status quo diri yang terpecah sebelumnya. Apalagi mempertahankan keadaan diri yang terpecah.
Atau bahkan mempertahankan konfigurasi
pecahan diri tertentu!Inilah terlihat bahwa keinginan kita dari melepaskan-memperta hankan sesuatu hanyalah mempunyai arti cuma merubah konfigurasi pecahan diri kita belaka. Alias lagi-lagi penderitaan akibat ayunan emosi dari pecahan diri kita akan tetap menjadi teman setia kita.
Ada fenomena pemikiran menarik dari kasus pelabelan indigo pada diri Vincent Liong. Saya sendiri tidak begitu jelas inventarisasi/ standarisasi dari kumpulan-kumpulan sifat seperti apa yang disebut sebagai indigo. Banyak hal dan variabel yang berkembang dalam wacana kumpulan sifat indigo seperti warna aura, dapat melihat roh, dapat meramal, menguasai bahasa asing, bersikap dewasa sebelum waktunya, dlsb. Namun dalam kasus Vincent Liong, saya mulai menyadari bahwa kompatiologi merupakan salah satu ekspresi reaksinya (atau aksinya) terhadap pelabelan indigo. Vincent pernah mengatakan dia menganggap (dan banyak juga orang yang menyadarinya) sifat-sifat yang diinventarisir sebagai sifat indigo banyak terdapat pada anak kecil, terutama balita dan batita. Dan beberapa masih dapat diamati rata-rata sampai anak SMP.
Ringkasan lain tentang Menyatukan Pecahan Diri - 3