Mengapa kita bergosit
Summary ratings: 3 stars
(xx voters)
Kunjungan:
88
kata:
900
Diterbitkan di: Oktober 05, 2007
Begitu mudahnya mencari kesalahan orang lain, dan betapa sulitnya berkaca diri.Seperti kata pepatah "GAJAH dipelupuk mata tak tampak, namun KUMAN diseberang lautan tampak jelas".
pepatah ini amat tepat menggambarkan kehidupan bergosip yang terjadi
dalam aktivitas kita sehari-hari. Apabila didefinisikan GOSIP adalah
seni mengatakan kekosongan dengan cara yang membuat segalanya praktis
terucapkan. Selain itu juga, GOSIP bagaikan peluru yang ditembakkan,
sekali anda mendengar bunyinya, maka anda tak bisa mengambilnya
kembali. Sehingga seorang budayawan mengatakan bahwa GOSIP merupakan
sebuah bentuk konspirasi iblis.
Ada suatu dongeng cerita rakyat yang menggambarkan kekejian
sebuah GOSIP. Dalam dongeng tersebut diceritakan bahwa, pada abad 19
ada seorang pria yang menghina pria bijak di kota tersebut. Suatu hari,
ia pergi ke rumah pria bijak tadi untuk meminta maaf. Pria bijak ini,
menyadari bahwa pria tersebut belum menyelami keseriusan
pelanggarannya, maka dia memberi tahunya bahwa ia akan memaafkannya
dengan satu syarat : bahwa ia disuruh pulang kerumah, mengambil sebuah
bantal bulu dari rumahnya, menyayatnya, menyerakkan bulu-bulu itu ke
udara, dan setelah selesai diminta kembali ke rumah pria bijak
tersebut.
Meski bingung oleh permintaan aneh ini, pria itu bahagia karena
dibiarkan lolos dengan penebusan dosa semudah itu. Cepat-cepat ia
menyayatnya, menyerakkan bulu-bulu itu, dan kembali ke rumah si pria
bijak tadi.
"Apakah sekarang aku dimaafkan?" tanyanya.
"Satu hal lagi", jawab si pria bijak. "Pergilah sekarang dan kumpulkan semua bulu-bulu itu"
"Tetapi itu mustahil. Angin sudah menyebarkannya."
"Tepat sekali," jawab pria bijak, "dan sama-sama mustahil untuk
memperbaiki kerusakan yang diakibatkan oleh kata-katamu (gosip) seperti
mengambil kembali bulu-bulu tersebut. kata-katamu sudah tersebar
kemana-mana, menebar kebencian, menyemai kedengkian dan amarah, bahkan
saat kita bicara."
Alangkah naifnya bahwa kita sebagai manusia amat cepat
mempercayai keburukan yang dikatakan orang lain tentang seseorang dan
juga begitu cepat menerima "berita" yang terkandung dalam bentuk
cetakan maksiat, serta siap menduga yang terburuknya tentang tindakan
orang lain yang belum tentu benar. Memang luar biasa bahwa, sepertinya
kita tak bisa langsung menerima dengan tegas, bahwa gosip yang kita
lontarkan bisa dan seringkali mengakibatkan kerusakan hubungan
persahabatan serta penghinaan yang bisa berlanjut seumur hidup dan
mencabik-cabik kepercayaan orang tersebut.
Cara bicara keji (gosip) yang kita lontarkan selain bisa
menghancurkan persahabatan juga akan meruntuhkan nilai religius,merusak
lingkungan bisnis, organisasi, institusi, dewan komunitas, persekutuan
dan lain-lainya. Jadi, mengapa kita melakukannya?. Jika anda
mempertimbangkan alasan di balik cara bicara keji. Anda akan segera
menyadari bahwa sumbernya terletak dalam rasionalisasi yang sangat
tidak sehat dan termasuk dalam daftar berikut ini :
1. Jika aku menginjak-injak orang lain...entah bagaimana aku
merasa "diatas angin". Semakin buruk gambaranku akan kehidupan orang
lain, semakin baik tampaknya kehidupanku. Anda pikir mengapa manusia
senang menonton opera sabun?. Ada imbalan psikologis untuk melihat
orang-orang yang memiliki kehidupan kacau-balau. Entah bagaimana, hal
itu memberikan kita ilusi bahwa kehidupan kita sendiri tidak seburuk
itu.
2. Saat aku bergosip, aku populer, dan aku mendapatkan
perhatian semua orang. Semua mata terpaku padaku dan sekarang aku
merasa seperti seorang yang hebat (tetapi dengan mengorbankan orang
lain). Anda mungkin merasa populer saat itu, tetapi tentunya anda bukan
orang yang akan dipercayai dan dihormati orang lain.
3. Kehidupan ini membosankan. GOSIP menjadikannya hal tersebut
menjadi lebih menarik dengan cara membicarakan orang lain untuk
mengatasi kekosongan kita sendiri. Amat menyedihkan jika kita merusak
kehidupan orang lain dan bahagia diatas penderitaan orang lain.Alasan mengapa manusia berbicara secara destruktif, merupakan
daftar panjang yang tidak perlu dibahas, akan tetapi jelas-jelas bahwa
alasan-alasan tersebut berasal dari orang yang memiliki jiwa yang
sangat buruk yang bernama AIDS (arogan, iri, dengki dan sirik) serta
mempunyai perasaan dan pikiran yang tidak sehat.
Seorang psikolog mengatakan bahwa berbicara buruk tentang orang
lain adalah suatu bentuk PROYEKSI DIRI. Apa yang tidak anda sukai
tentang diri anda sendiri, cenderung anda tunjukkan dalam diri orang
lain. Sadarilah hal ini, dan segera....apa yang secara pribadi perlu
anda perbaiki, akan menjadi jelas. Supaya anda bisa hidup di lingkungan
bebas gosip dan dapat memadamkan api dari kata-kata keji yang pernah
anda lontarkan.
Ingat! manusia bisa berubah. Informasi tentang masa lalu
seseorang yang tak lagi berlaku baginya tidak perlu dibagikan.
berhati-hatilah dan berkonsultasilah dengan seseorang yang lebih
mengenal hukum cara bicara supaya anda bisa mengambil pilihan yang
tepat. Sekali lagi,jika ragu....jangan katakan. Anda selalu bisa
mengatakannya nanti, jika nada yakin itu bukan GOSIP. Sekali anda
mengucapkannya dan anda sudah menebaknya, maka ucapan itu seperti
bulu-bulu yang di terpa angin. Anda boleh coba mengambilnya kembali.
Sebagaimana yang dikatakan pepatah, anda menerima apa yang anda
berikan, jadi bantulah diri anda dan jangan berkecil hati oleh
kesalahan kecil, tetapi sebaliknya bangunlah kesuksesan kecil, satu per
satu.
___________Tata Sutabri S.Kom, MM --
Deputy Chairman of STMIK INTI INDONESIA,
Pemerhati Dunia Pendidikan TI,
Jl. Arjuna Utara No.35 – Duri Kepa Kebon Jeruk,
Jakarta Barat 11510 Telp. 5654969,
e-mail : tata.sutabri@inti.ac.id .