Lama-kelamaan, perlawanan dan kepatuhan berjalan seiring
dengan munculnya sifat penakut, minder, cari aman, dsbnya. Perlu diketahui, di sini saya bukan ingin mengkontraskan nilai-nilai (takut
itu jelek, pemberani itu bagus, minder itu jelek, pede itu bagus, dsb). Tapi saya ingin menunjukkan bahwa pemetaan yang saya lakukan asli/murni
dari tarikan antara pembentukan diri saya yang sangat saya inginkan (yang berupa idealisme seperti memiliki prestasi yang bagus, dapat bermain terus-menerus, dsb), dengan tarikan atau lebih tepat melatih diri
untuk merasa bersalah, minder, dsb, atas perbuatan-perbuatan yang tidak disukai oleh ortu. Lama-kelamaan pula, diri saya mulai nempel
pada tujuan idealisme seperti cerita kepahlawanan, prestasi sekolah yang bagus, mainan-mainan yang canggih, bahkan kesombongan- kesombongan gaya
anak kecil. Dan semakin saya nempel dengan hal-hal seperti itu, semakin saya bisa merasakan sakitnya tidak mendapatkan hal-hal seperti itu lagi. Dan dari hal-hal yang mulanya saya tiru dari orang dewasa, mulai mendapatkan justifikasinya dalam pelampiasan- pelampiasan rasa sakit (tentu melalui proses ‘pembelajaran’ dari televisi, majalah, game, teman-teman, ortu, orang dewasa lain, dsb).
Untuk lebih jelas lagi, contoh yang paling simpel akan saya perlihatkan dalam ilustrasi berikut ini.
Seorang anak saat itu pertama kali menunjukkan hasil ulangannya kepada ibunya . Kebetulan si anak mendapatkan nilai 8 (bagus) dalam ulangan matematikannya tersebut. Si ibu menjadi senang dan terus memuji-mujinya secara agak berlebihan (maklum ibu muda baru senang-senangnya punya anak SD).
Kemudian, si anak ternyata pada kesempatan-kesempatan beberapa ulangan berikutnya nilai-nilainya tidak pernah di bawah nilai 8. Ibunya secara terburu-buru karena senang, menilai anaknya jenius/ber-IQ tinggi. Dan mulailah si anak dipuji-puji setinggi langit.
Oke, saya stop dulu ilustrasinya sampai di sini. Apa yang telah dipelajari dari sikap ibunya oleh si anak tersebut? Si anak berdasarkan pola sikap dan cara berpikir ibunya mulai belajar untuk terikat dengan nilai bagus (sama seperti ibunya yang telah terikat dengan hal-hal lain). Saya lanjutkan ilustrasinya.
Suatu saat ketika mengerjakan ulangan, si anak menyadari dia mengalami kesulitan dalam mengerjakannya. Padahal dia sudah mati-matian belajar (ingat! Anak ini sudah terikat dengan nilai bagus). Si anak menjadi takut nanti hasil ulangannya jelek. Si anak juga sudah menyadari alternatif yaitu menyontek saja, untuk menyelamatkan (konsep keselamatan) ulangannya. Namun keinginan menyontek terbentur dengan kebanggaan diri akibat dari pujian-pujian ortunya, dan dari moralitas yang diajarkan oleh guru dan ortunya. Maka akhirnya si anak tetap memutuskan untuk menyontek saja. Namun ketika itulah untuk pertamakalinya, si anak merasakan rasa bersalah.
Dari ilustrasi tersebut tersirat bahwa, diri anak itu terkoyak dan untuk menutupinya si anak menimbulkan rasa bersalah dalam dirinya. Sampai di sini saya harap saya sudah menunjukkan dengan jelas hasil dari gelombang kelekatan akan kebahagiaan yang berubah menjadi penderitaan pada diri
kita.
Dan sengaja saya berikan contoh masa kecil karena pada saat-saat itulah kita memulai pada segala hal. Lalu hal-hal seperti ini berlanjut terus sampai kita dewasa dan sampai liang kubur. Jika kita mau pikir lebih dalam dan mengaitkannya dengan ilustrasi masa kecil seperti di atas, maka sesungguhnya kejahatan hanyalah hasil dari usaha yang keras untuk tetap lekat pada kebaikan.
Mengapa disebut sebagai usaha yang keras? Karena kelekatan pada hal- hal yang baik ketika gelombangnya terlalu besar yang artinya ada suatu saat kebaikan/idealisme tidak dapat diterapkan, maka dirinya akan terpecah, dan penyatuan pecahan-pecahan tersebut membutuhkan usaha yang keras/dengan kekerasan. Dan kekerasan inipun disebut juga sebagai kejahatan. Persis seperti ilustrasi anak kecil tadi yang akhirnya tidak dapat lagi mencapai hasil ulangan yang diinginkan, namun karena dirinya sudah terlekat dengan tujuan hasil ulangan yang bagus, maka akhirnya anak itu memutuskan untuk merubah nilai moralitasnya dengan harga yang harus dibayarnya yaitu rasa bersalah dan keterpecahan dirinya untuk seterusnya (mungkin sampai harga dirinya pulih kembali). Dengan demikian, bagi dirinya yang terpenting adalah dirinya tetap terlekat pada label anak jenius/pintar. Inilah yang dimaksud dengan usaha keras.
Yaitu merubah nilai moralitas dengan harga yang berat supaya bisa tetap melekat pada hal-hal/label- label yang idealis/baik. Harga yang harus dibayar bisa saja bukan hanya rasa bersalah. Bisa juga minder, takut, tidak pede, intovert. Bahkan juga keberanian, nekat, keras kepala, kepura-puraan, dlsb.
Tulisan ini juga saya persembahkan bagi Vincent Liong teman saya yang terkasih yang dianggap indigo. Dan juga semua anak yang diberikan pelabelan yang telah mengikat anak-anak tersebut. Juga untuk kita sendiri yang tanpa kita sadari juga sering dilabelkan macam-macam oleh orang lain yang kemudian kita menjadi terlekat dengan pelabelan tersebut. Pujian memang memabukkan. Apalagi pujian yang telah menjadi label diri kita dimana kita terikat dengannya.
Namun saya tidak berhenti sampai kesimpulan di sini saja. Sesuai dengan misi kompatiologi yang dibawa oleh Vincent si anak yang dianggap indigo, maka mari kita lanjutkan penyelidikan pada paragraf berikut ini.
Bersambung ...
Ringkasan lain tentang Menyatukan Pecahan Diri - 2