Dalam perjalanan hidup ini,
kita memiliki kebiasaan untuk selalu mengaitkan
diri kita dengan sesuatu penilaian maupun pelabelan. Kebiasaan ini telah meresap di segala dimensi kehidupan diri kita. Mungkin hal ini
tidak begitu kita sadari benar. Namun, herannya,
ketika menghadapi persoalan hidup, serta-merta kita membutuhkan suatu pegangan. Suatu acuan. Suatu arah. Ataupun suatu pengalaman/pengetahuan. Ketakutan dan stress
juga begitu alami meresap setiap kita mencoba menyelesaikan suatu masalah. Frasa ‘penderitaan’ merupakan frasa yang mengungkapkan pengalaman yang tidak enak tersebut dalam menghadapi masalah kehidupan. Bahkan terbentuknya ‘masalah’ itupun menyiratkan ketidakberdayaan kita dalam menentukan tujuan-tujuan hidup kita sendiri. Bagaimana cara kita menikmati kehidupan. Bagaimana cara kita mengejar kesenangan maupun menghindari penderitaan. Masalah akan terus mendera kita. Ketakutan dan stress akan menjadi teman setia kita. Penderitaan tanpa disadari malah akan tetap menjadi tujuan favorit hidup diri kita. Karena masalah akan selalu menyebabkan perubahan
nilai-nilai. Dan sayangnya perubahan/benturan nilai seringkali diiringi/melalui jalan
kekerasan.
Dan memang kita semua telah/terlalu terbiasa dengan yang telah diungkapkan oleh paragraf di atas tersebut. Rasanya saya sendiri pengen berteriak melepaskan belenggu kekerasan yang begitu ulet mengelilingi kehidupan kita. Namun tak bisa. Karena saya sendiri menyukai kekerasan. Sama seperti anda semua. Dan hendaknya mulailah kita bertanya. Saya mengajak anda semua untuk mulai bertanya ke diri kita masing-masing. Darimanakah semua kekerasan ini muncul? Apakah kekerasan hidup juga merupakan hakikat kehidupan, seperti juga kelembutan atau kedamaian atau cinta yang telah dipercaya sebagai hakikat kehidupan? Apakah ada gunanya juga kita bertanya yang juga sekaligus menyelidiki perihal kekerasan ini? Jikalau ternyata kekerasan hanyalah sisi relatif dari cinta, lalu apakah dengan demikian penderitaan mendapatkan justifikasinya? Mendapatkan alasan hakikinya untuk selalu terombang-ambing bersama-sama dengan kebahagiaan? Saya sendiri merasa semua ini relatif. Semua ini hanya masalah bagaimana kita mau memaknainya. Semua ini bisa dijadikan sebagai pelajaran maupun aktualisasi diri. Penderitaan maupun kebahagiaan sama-sama memiliki kemampuan mencerahkan bagi manusia. Romantis sekali! Hanya saja, satu-satunya yang tetap menjadi masalah sesungguhnya adalah mendapati diri kita yang terkoyak-koyak dalam gelombang penderitaan- kebahagiaan, kesedihan-kesenanga n. Dan saya akui pula, diri saya lebih terkoyak ketika mendapatkan kebahagiaan. Oleh karena itulah saya lebih sering menyabotase diri saya sendiri supaya tidak sering-sering mendapatkan peristiwa-peristiwa yang membahagiakan.
Nah, dalam tulisan ini saya mencoba memperhalus koyakannya. Menyatukannya sedikit-demi sedikit. Mencari penyebab-penyebab koyakan tersebut. Tapi saya di sini bukanlah diumpamakan sebagai pemulung koyakan. Bukan pula sebagai pemungut pecahan diri. Masa itu sudah lewat. Sebab saya sedang tidak depresi sehingga sampai perlu mengajak pembaca untuk ikut serta memungut pecahan diri saya (yang notabene memang mirip dengan pecahan anda-anda juga). Bukan-bukan itu tujuan saya. Saat ini saya sedang dalam keadaan sehat mental dan jasmani. Dan justru di saat sehatlah baik sekali kita bisa mengadakan penyelidikan ini. Alasannya, ketika sehatlah, koyakan itu menjadi tidak begitu jelas. Pecahan diri kita sedang berada di bawah sadar. Sehingga sangat baik untuk mengetahui asal-mula dari keterpecahan diri. Ketika lagi sakit, kita tidak bisa melihat asal-mulanya lagi. Karena jelas diri kita
sedang terpecah/terkoyak.
Saya masih ingat pengalaman ketika saya kecil dan masih di SD kelas dua. Ketika itu guru sedang membagikan hasil ulangan. Saya saat itu sudah mengerti saya hanya mendapatkan nilai 2. Namun lucunya, ketika itu saya tidak merasa minder. Kemudian, saya juga melihat melalui jendela, ibu saya yang akan menjemput sayapulang karena saat itu pelajaran sebentar lagi akan berakhir. Malah dengan entengnya saya melambai-lambaikan kertas ulangan saya dan sedikit berteriak tertawa-tawa murni alasannya karena saya hanya mendapatkan nilai 2 saat itu. Tidak ada perasaan bersalah. Tidak ada perasaan takut dimarahin. Tidak juga perasaan tertekan atau iri dengan anak lain yang lebih mendapatkan nilai bagus. Ibu saya juga akhirnya ikut tertawa-tawa melihat kepolosan saya. Kepolosan. Orang dewasa (seperti kita saat ini) tahu secara intuitif (karena dirinya juga pernah menjadi anak kecil), kebahagiaan macam seperti ini, dan ini disebut sebagai kepolosan. Dari pengalaman seperti ini jugalah yang sebenarnya memberikan warna kebahagiaan dalam pengalaman ibu saya sebagai orang tua. Terus, ketidaktahuan/ kepolosan saya masih berlanjut, sampai suatu saat ayah saya mulai menerapkan kekerasan pada diri saya. Sebenarnya bukan kekerasan yang terutama membuat saya menjadi mulai penakut, minder dan sebagainya. Tapi penerapan standarisasi nilai yang mulai diterapkan oleh ortu saya dan diganjarkan melalui kekerasan maupun hadiah-hadiah. Itulah pelajaran pertama saya. Sabetan-sabetan sapu lidi masih bisa saya rasakan kalau saya mau hingga sekarang. Bukan sakit fisiklah yang teringat di memori saya, melainkan perlawanan pertama/awal- awal saya terhadap pengharapan, aturan, standarisasi, sopan-santun, prestasi, dsb, dari ortu saya. Itulah yang membuat saya kesulitan. Itulah pertama kali saya mulai memeluk konsep keselamatan (survival). Disitulah saya mulai memetakan, mana-mana yang mendukung keselamatan saya sebagai anak kecil, mana-mana yang masih bisa saya lawan, dan mana-mana yang saya benar-benar harus menghindari/ mematuhinya.
Bersambung ...
Ringkasan lain tentang Menyatukan Pecahan Diri - 1