Kelakuan
tentara di Dunia Ketiga, di mana-mana, ternyata sama. Suka bermain-main dengan senjatanya. Menghambur-hamburkan peluru untuk menembaki rakyat. Hal yang terjadi hari-hari belakangan ini di Myanmar sekadar menambah panjang contoh.
Kita
pernah mengalami itu. Filipina dan Thailand pernah. Negara-negara di Amerika Latin juga. Di Afrika, banyak
Negara masih mengalami.
Inilah situasi ketika tak
ada demokrasi. Di Myanmar tak ada demokrasi. Tentara yang menjadi penguasa mengangkat dirinya sendiri. Tak ada pemilihan umum. Karena itu tidak ada kontestasi. Persamaan kesempatan sebagai nilai dasar demokrasi pun lenyap. Aung San Suu Kyi sudah berbilang tahun dikenai tahanan rumah dan dijauhkan dari publik.
Bagi kita, Myanmar tidak asing. Bukan karena secara geografis negara itu
sama seperti negara kita, di Asia Tenggara, dan sama-sama tergabung dalam ASEAN. Myanmar dekat karena
Kita pernah mengalami situasi yang kini dialami warga di sana. Itulah masa ketika kita dikangkangi kekuasaan tentara di zaman otokrasi Orde Baru.
Di Myanmar tidak hanya kaum oposan yang dihabisi. Junta militer juga memburu, menahan, bahkan membunuh para biksu. Sebagai pemimpin agama yang selama ini diyakini berfungsi moral, biksu di mata tentara tak lebih sebagai lawan politik. Tak ada rasa hormat dalam diri tentara Myanmar atas profesi mulia yang hanya bisa dijalani orang yang merasa terpanggil tersebut.
Myanmar kembali menyentak dan mengajarkan pada kita: betapa tentara adalah pilihan paling buruk buat memerintah. Syukur kita sudah terbebas darinya. Thailand, setelah agak lama seperti kita, sekarang masuk kembali ke cengkeraman tentara.
Karena pernah punya pengalaman sama--tokoh dan mahasiswa diculik dan dibunuh, rakyat diberondong peluru saat berdemonstrasi--mestinya kita tak tinggal diam. Indonesia sebagai negara terbesar dan demokratis sepatutnya mengambil peran dan berupaya lebih besar dengan memanfaatkan ASEAN agar demokrasi segera menjelma di Myanmar.
Tiba saat buat ASEAN yang kini beranggotakan 10 negara untuk membersihkan keanggotaannya dari rezim tentara. Keberhasilan menyelesaikan pergolakan di Myanmar ini akan berdampak pada negara anggota lain. Tentara di negara-negara anggota ASEAN lain akan berpikir dua kali jika mencoba kembali bermain-main dengan bedilnya.
Indonesia berkepentingan mengambil inisiatif, sekaligus untuk menunjukkan bahwa kita tidak setuju dengan cara-cara tentara berkuasa. Bagaimanapun beberapa negara anggota ASEAN pernah dikuasai rezim tentara. Melihat keadaan di Thailand, bukan tak mungkin ada kelompok tentara di negara-negara ASEAN yang kini pasang kuda-kuda untuk kembali berkuasa. Ini yang harus diwaspadai dengan membuat demokrasi kian matang, hukum dan keadilan ditegakkan.
Iskandar Siahaan
Ringkasan lain tentang Myanmar, Kita, dan Tentara