• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Seni & Humaniora>BANGKIT DARI RASA KEHILANGAN

.

BANGKIT DARI RASA KEHILANGAN

oleh : ebie82    

Pengarang : Febby Fortinella
1 Januari 2004, adlh titik tolak hdpku. Pada hari itu aku kehilangan orang yang paling kucintai dan kukagumi di dunia ini,
Bapak. Bapak meninggalkan kami semua setelah berbulan-bulan mencoba melawan kanker prostat yang menggerogoti tubuh beliau. Bagiku kematian adalah satu hal yang psti akan datang pada kita, entah pada diri kita sendiri atau pada orang-orang terdekat kita, dan itu adalah sesuatu yang harus kita persiapkan kapan saja harus dihadapi. Tp aku juga tidak munafik bahwa kehilangan itu sangat menampar kehidupanku. Yang jadi masalah utama adalah waktu kehilangan itu. Aku kehilangan Bapak justru saat aku sangat membutuhkan kehadiran beliau, pada tahun terakhir kuliahku, saat aku sangat membutuhkan dukungan dan bantuan beliau untuk menyelesaikan skripsiku, karna kebetulan bidang kami sama. Aku sempat ingin marah, tapi tidak tahu pada siapa. Aku ingin marah, kenapa Bapak tidak menungguku selesai kuliah, kenapa Bapak tidak ingin melihatku memakai pakaian kebesaran itu, toga itu, dan menyandang gelar yang sama dengan beliau. Kenapa aku diharuskan berjuang sendiri menghadapi saat-saat paling sulit dan paling menentukan masa depanku. Terus terang aku sempat putus asa dan berpikir tidak ada gunanya aku menyelesaikan kuliah, toh Bapak tidak akan bisa melihat. Tapi syukur aku langsung sadar bahwa aku masih punya Ibu, yang tidak kalah berharganya dalam hidupku, bahkan sangt-sangat berharga. Aku jadi sadar, bahwa sekaranglah saatnya aku membahagiakan Ibu, membesarkan hati Ibu yang pastinya sangat ‘jatuh’ setelah kehilangan Bapak. Karenanya, dengan keringat dan air mata, aku mencoba bangkit dari rasa kehilangan itu, dan mencoba mengejar masa depanku dari puing-puing kesedihan dan kehilangan itu.
Kehilangan orang yang kita cintai adalah sesuatu yang sangat tidak kita inginkan dalam hidup ini tapi justru adalah sesuatu yang pasti kita alami. Kehilangan itu bisa saja hanya sebatas jarak dan waktu, tapi bisa juga kehilangan yang tidak akan pernah bertemu lagi atau kematian. Jika rasa kehilangan itu hanya sebatas jarak dan waktu, mungkin kita masih bisa mengatasinya dengan memanfaatkan teknologi untuk tetap berhubungan dengan orang yang kita cintai itu. Tapi bagaimana jika kehilangan itu akibat kematian, dimana kita sama sekali tidak mempunyai kemungkinan untuk bertemu lagi dengan orang itu? Bagaimana jika ironisnya rasa kehilangan itu kita alami justru disaat kita sedang sangat membutuhkan kehadiran orang itu?
Tak pernah ada satu orang pun yang menginginkan hal ini terjadi pada dirinya. Namun juga kita tidak punya kuasa untuk mencegah hal tersebut jika terlanjur terjadi pada kita. Akankah kita selamanya tenggelam dalam kesedihan mendalam? Apakah kesedihan itu dapat mengembalikan orang itu ke hadapan kita lagi? Jawabannya tentu saja tidak. Lalu bagaimana kita menata diri kita untuk dapat bangkit lagi, melanjutkan hidup yang mungkin kita anggap sudah tidak ada gunanya lagi tanpa kehadiran orang yang kita cintai itu? Berikut beberapa tips yang dapat anda jalankan:
* Jangan menyesali atau menyalahkan diri sendiri
Jangan pernah menganggap kepergian orang yang kita cintai itu adalah karena kesalahan kita, apapun penyebabnya. Karena hal ini justru akan menambah berat beban kita untuk dapat bangkit dari kesedihan itu. Yakinlah bahwa semua ini hanya takdir yang sudah ditentukan oleh Sang Pencipta dan berusahalah untuk mencari hikmah dibalik rasa kehilangan itu.
* Motivasi diri sendiri
Katakan pada diri anda bahwa “life goes on” dan anda harus menjelang masa depan yang lebih baik, dengan atau tanpa dirinya. Dan lecut diri anda sendiri untuk dapat mewujudkan semua impian itu sebagai tanda cinta anda padanya, meskipun dia tidak lagi bisa melihat keberhasilan anda. Dan ingatlah bahwa masih ada orang lain yang mencintai anda di sekeliling anda yang pasti akan bangga melihat keberhasilan anda itu.
* Kembali fokus pada tujuan hidup dan impian anda
Mungkin dulu, sewaktu orang yang anda cintai itu masih ada di sisi anda, anda mempunyai impian dan rencana yang ingin anda wujudkan bersama. Sekarang, ketika dia tidak ada lagi di sisi anda, tetaplah fokus untuk dapat mewujudkan impian itu, dan jadikan itu wujud dari cara anda membalas kesalahan yang mungkin pernah anda lakukan padanya ketika dia masih hidup. Raihlah impian itu dan katakan pada diri anda, “I’ll do this for you..”
* Melihat ‘ke bawah’
Lihatlah kehidupan orang-orang yang lebih susah daripada kita. Resapi bagaimana mereka bisa bertahan hidup dengan keadaan yang jauh lebih menyedihkan daripada kita. Ingatlah bahwa kita bukan sau-satunya orang yang merasakan kesedihan, dan jangan pernah berpikir bahwa kita adalah orang yang paling malang di dunia karena perasaan seperti itu justru akan menjadikan kita orang yang tidak bersyukur atas nikmat yang masih diberikanNya.
* Beramal
Bantulah orang-orang yang membutuhkan, berikan sumbangan atau zakat pada anak yatim piatu atau panti asuhan. Beramal dapat memperkuat rasa syukur.
* Dekatkan diri pada Sang Pencipta
Sebagai manusia biasa kita tidak akan pernah lepas seutuhnya dari rasa sedih akan kehilangan itu. Ketika rasa sedih itu kembali menghimpit dan tidak ada hal lain yang dapat mengusirnya, maka dekatkanlah diri pada Sang Pencipta. Beribadahlah, menangislah padaNya, sesali dosa-dosa anda, minta diberi kekuatan dalam menghadapi kerasnya hidup, mintalah agar anda dapat meraih keberhasilan yang dapat anda persembahkan pada orang yang anda cintai namun telah pergi itu, dan mintalah agar Dia mengampuni semua dosa yang telah diperbuat oleh orang yang anda kasihi itu.
Ingatlah bahwa semua yang terjadi dalam hidup ini sudah ada yang mengaturnya, tinggal bagaimana kita mengambil hikmah dalam setiap kejadian yang kita alami. Karena di balik keburukan pasti ada kebaikan, sebaliknya di balik kebaikan juga ada keburukan. Satu hal lagi, jangan pernah berburuk sangka pada Tuhan dengan mengatakan bahwa semua ini terjadi karena Tuhan tidak menyayangi kita. Tapi yakinlah bahwa justru Tuhan memberi ujian dan cobaan yang berat pada umat yang dicintai-Nya agar dapat mengambil hikmah dan menjadi insan yang lebih baik. Selamat berjuang!
(20092007)
Diterbitkan di: September 21, 2007
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.