Halaman Utama Shvoong > Seni & Humaniora > " SAKAI " suku bangsa yang terluka

.

" SAKAI " suku bangsa yang terluka

Summary rating: 3 stars 14 Tinjauan
Pengarang : Taufik
Summary by : tb2g
Kunjungan : 400  kata: 600   Diterbitkan di: September 11, 2007
”Di Batang Pudu inilah, pertahanan terakhir hidup kami...’’ Pernyataan itu diungkapkan langsung Khalifah Sainuddin, dikenal sebagai Batin Musa, yang sehari-hari adalah Kepala Suku Sakai di Desa Petani Kabupaten Bengkalis. Batang Pudu adalah sebuah anak sungai yang berpuluh-puluh tahun, bahkan mungkin telah lebih 100 tahun, menghidupi nyawa anak-kemenakan Suku Sakai, kini telah tercemari oleh limbah.

Pencemaran limbah di Batang Pudu itu—sebagaimana disuarakan perwakilan Suku Sakai di ‘rumah rakyat’ DPRD Riau—bukan hanya telah membunuh ikan-ikan yang menjadi sumber mata pencaharian sebagian besar penduduk Suku Sakai, tetapi juga telah menimbulkan penyakit kulit bagi mereka. Dari orang-orang yang berusia lanjut sampai kepada bayi-bayi mereka yang masih merah pun, kini ada yang berbalut kudis, yang mereka sebutkan tersebab limbah.

Tentu yang paling menyentuh dari sekalimat pernyataan Batin Musa itu adalah tentang Batang Pudu yang menjadi ‘pertahanan terakhir’ dalam hidup mereka. Ibarat perang, bila ‘pertahanan terakhir’ sudah bobol, sudah runtuh, alamat celaka ditanggung badan. Bila tak maut menjemput, maka derita mendera sepanjang hayat.

Begitu pun dengan Suku Sakai. Batang Pudu yang menjadi nadi kehidupan mereka, yang mereka sebutkan sebagai ‘pertahanan terakhir’ kini terancam. Maka sangat wajar bila dalam dua pekan terakhir, puluhan anak-kemenakan Suku Sakai itu kini tengah berjuang, mengadu ke legislator, melapor kepada polisi sampai-sampai siang malam kini mereka berjaga di beberapa titik pada sepanjang Batang Pudu agar limbah-limbah tidak terus tumpah ke ‘pertahanan terakhir’ hidup mereka.

Bila menyimak perjalanan panjang sejarah Suku Sakai di Riau, khususnya di Kabupaten Bengkalis, maka fakta sejarah mereka—sebagian besarnya— identik dengan derita. Lihatlah ketika tanah-tanah moyang mereka dijadikan tambang-tambang penghasil devisa bagi bangsa, Sakai dibiarkan hidup tanpa baju dan celana di bawah pipa-pipa raksasa yang memanjang. Berpuluh-puluh tahun sudah ‘emas hitam’ Sakai dihisap, tetapi anak-kemenakan mereka sampai kini sebagian besar tetap ‘bertelanjang dada’.

Atau lihatlah ketika ‘emas hijau’ alam raya tempat Suku Sakai bercengkarama dibabat habis, dan bahkan makam-makam turun temurun ayah-ibu mereka digusur, diratakan dan diganti dengan Hutan Tanaman Industri (HTI) atau perkebunan sawit, Suku Sakai bukannya diberikan kompensasi yang pantas, tetapi sebaliknya Suku Sakai makin tertindas.

Sejarah derita Suku Sakai itu, kini kembali berulang tatkala limbah mencemari Batang Pudu, yang menjadi pertahanan terakhir hidup mereka. Akankah terus kita membiarkan, Suku Sakai dalam sejarah hayat mereka, selalu berkubang derita?

Ringkasan lain tentang " SAKAI " suku bangsa yang terluka
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Jumlah komentar dalam abstrak ini: 1

Komentar

Showing 1 out of 1   Tambahkan komentar Anda
  1. id.shvoong.com

    hendry razfi

    24 Januari 2008

    kurang di perjelas macam-macam sukunya

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------