• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Seni & Humaniora>Berhati-hati Dengan Pengkafiran

.

Berhati-hati Dengan Pengkafiran

oleh : sefrizal     

Pengarang : Syamsi Ali

Deringan suara pedang demikian deras. Tiba-tiba seorang sahabat menjatuhkan lawannya dari kubu kafir ke atas tanah
Tanpa sangka-sangka, tiba-tiba saja sang kafir berucap "Laa ilaaha illallah-Muhammadan Rasulullah". Sang sahabat berfikir, apa yang diucapkannya itu adalah kebohongan semata. Maka pedangnya pun melebat menebas leher musuhnya tadi. Ia pun meninggal dengan ucapan terakhir "Kalimah Laa ilaaha illallah-Muhammadan Rasulullah".
Mendengar kejadian tersebut, Rasulullah SAW memanggil sahabat yang mulia itu. Seorang sahabat yang dikenal kekentalan iman dan loyalitasnya terhadap kebenaran dan pembawanya (Rasulullah SAW). Begitu mendekat, beliau menanyakan: "Apa gerangan yang menjadikan kamu membunuhnya?" Dengan hati yang mantap dijawabnya: "Ia mengucapkan itu karena ketakutan ya Raulullah". Namun Rasulullah kembali menanyakan dengan suatu ungkapan yang tak perlu dijawab karena sekaligus merupakan jawaban (Suaal istifhami): "Hal syaqaqta min qalbih?" (Apakah anda telah membuka hatinya?). Mendengar itu, sang sahabat agung terdiam seribu bahasa. Serentak ia berkata kepada rekan-rekannya: "Rasanya saya baru saja masuk Islam".
Kata kafir dalam bahasa Arab berasala dari "kafara-yakfuru-kufran" yang berarti "menutupi". Peribadatan yang dilakukan karena suatu pelanggaran dalam peribadatan itu sendiri disebut kaffarat. Misalnya "Puasa kaffarah" dll. Sementara itu, dalam bahasa Arab para petani, selain kata "fallah" juga disebut dengan istilah "kuffar" sebagaimana dalam S. Muhammad (Yu''jibuzzurra'' al kuffar), karena mereka dikenal menutupi benih tanaman yang diharapkan tumbuh dan memberikan buah-buah segar bagi kelangsungan manusia. Dan banyak lagi contoh-contoh yang lain.
Dengan demikian, pengingkar kebenaran dinamakan kafir, karena secara prinsip mereka menutupi kebenaran yang seharusnya tumbuh subur dan memberikan buah-buah segar dalam kehiduapn manusia. Benih kebenaran ini dikebal dengan istilah "Syajarah Thayyibah" dalam S. Ibrahim. "Wa matsalu kalimatin thayyibatin ka syajaratin thayyibatin ashluha tsaabitun wa far''uha fissama tu''ti ukulaha kulla hiinin biidzni Rabbiha". (Perumpamaan kalimah thayyibah seperti pohon yang bagus. Akarnya menghunjam ke dalam tanah dan cabang-cabangnya mencakar langit. Memberikan buahnya setiap saat dengan izin Tuhannya".
Dengan demikian, keimanan atau fitrah manusia seharusnya tumbuh subur, yang setiap saat buahnya dirasakan oleh manusia. Buah keimanan ini akan dirasakan oleh semua pihak, tidak mengenal batas dan lintas golongan maupun teritorial dalam hubungan internasional "Laa syarqiyah wa laa gharbiyyah" (tidak hanya timur, dan hanya pula barat). Semua kalangan, tan discriminasi kulit, suku, bangsa, dan bahkan agama sekalipun. Konsep ini tentunya membawa pula kita kepada konsep-konsep manusia yang lain, apakah sosialisme, kapitalisme, dst.
Hanya saja, bahwa dalam kenyataannya banyak manusia yang menutupi keberadaan benih-benih kebenaran tersebut. Mereka ingkar, mereka mendustai, mereka mengaburkan, serta melakukan berbagai upaya sehingga kebenaran tersebut tidak nampak ke permukaan bumi ini. Manusia yang melakukan inilah disebut sebagai manusia yang kafir atau penimbung kebenaran. Dengan kata lain, kaum kafir sesungguhnya bukan tidak memiliki kebenaran dalam dirinya, karena kebenaran atau fitrah dalam diri setiap insan itu abadi sifatnya "Fitratallah al ladzi fatarannasa ''alaeha, laa tabdiila likhalqillah" (Itulah fitrah, yang di aatasnya diciptakan setiap insan. Fitrah itu tidak mungkin terubah) (Rum:30). Yang terjadi kemudian adalah "kufrun" atau upaya-upaya untuk menutupi kebenaran Ilahi agar tidak tampil ke atas permukaan bumi.
Diterbitkan di: September 11, 2007
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.