Seorang ulama (ilmuwan) telah diberi kelebihan "mata-hati" untuk
memahami banyak hal, bahkan tentang
rahasia-rahasia
hidup yang tidak
dipahami oleh kebanyakan orang. Dengan itu ia memikul tanggungjawab dan
amanat Allah untuk menyampaikan hal-hal terpenting yang harus dijadikan
prioritas (demi perubahan). Ia pun punya kelebihan untuk menangkap
sinyal-sinyal
rahasia tersembunyi (klenik) yang dipraktekkan para
penguasa di sekitarnya, yang merupakan satu-kesatuan dengan penguasa di
negerinya sendiri. Maka bersiap-siaplah bagi para da''i dan mubalig
(ilmuwan), karena setiap kita (tanpa kecuali) akan menghadapi
kenyataan-kenyataan hidup di mana kita akan ditantang oleh
pilihan-pilihan yang akan menyelamatkan ataukah mencelakakan kita. Bila
kita punya keberanian untuk mengungkap rahasia-rahasia terselubung yang
diagendakan penguasa, baik mengenai konspirasi, pemihakan, keimanan
yang menyimpang, atau pihak-pihak yang dikorbankan, berarti kita telah
menunaikan amanat dan janji Allah demi perbaikan bangsa ini. Namun bila
kita hanya mengutamakan hal-hal kecil dan sepele, seolah-olah tak ada
masalah, padahal dampaknya akan sangat luar biasa dialami oleh rakyat
ini, berarti kita tengah menjatuhkan pilihan pada kategori kedua
(naudzubillah), yakni memperjual-belikan agama, serta diam-diam memihak
tatanan sistem yang diselenggarakan oleh penguasa zalim, dengan jalan
menutupi rahasia-rahasia terselubung dalam memperdayakan rakyatnya
kepada kesesatan dan kerusakan; yakni seorang pemimpin yang tak mau
berkorban untuk hidup sederhana, namun gemar memainkan teater dengan
penampilan mewah di tengah-tengah rakyat yang semakin terpuruk dan
tertindas. Pemimpin seperti ini niscaya memperalat kata-kata
"nasionalisme" dengan menampilkan dirinya seakan-akan pro-rakyat,
padahal kepekaan dan kemauan politiknya semakin menjauh dari
kepentingan rakyat-kecil; dan ia menginginkan persoalan pokok yang
menjadi tugasnya dalam mengangkat taraf hidup rakyat, malah dibikin
kabur dan simpang-siur. Hingga akhirnya, rakyat pun terkecoh dan
terprovokasi seakan-akan "memusuhi" Malaysia dan Australia adalah
persoalan substansial yang menjadi prioritas perjuangannya, padahal
beberapa minggu lalu "nasionalisme" kita telah sewenang-wenang
mendeportasi delegasi luar negeri, serta mempersulit penyelenggaraan
Konferensi Khilafah Internasional di Gelora bung Karno. Mengapa
masyarakat kita masih berpikir apriori, jalan pintas, egois, ahistori,
menganggap dirinya suci dan orang lain adalah kotor? Bukankah
pola-pikir ini bersumber dari kesyirikan itu sendiri, dimana peran
ulama dan umara harus berdiri di barisan depan untuk mengatasinya...?