Halaman Utama Shvoong > Seni & Humaniora > Bangsa yang meraih prestasi atas dasar dendam dan amarah

.

Bangsa yang meraih prestasi atas dasar dendam dan amarah

Summary rating: 2 stars 1 Tinjauan
Pengarang : Hafis Azhari
Summary by : RakaSyailendra
Kunjungan : 142  kata: 600   Diterbitkan di: September 11, 2007
"Mengapa manusia tidak mengambil pelajaran dari nasib buruk yang
menimpa orang-orang terdahulu, akibat ulah perbuatan mereka sendiri?
Bukankah mereka punya akal, yang dengannya dapat berpikir?" Sudah
berkali-kali Allah memberi teguran seperti itu baik dalam Al-Quran
maupun kitab-kitab lain, yang pada intinya Ia menganjurkan manusia agar
jangan sampai meninggalkan sejarah, karena dengan mempelajari sejarah,
hati kita akan terbuka untuk memahami mata-rantai sebab-akibat yang
membentuk bangsa kita pada keadaan seperti yang sekarang ini. Dengan
sejarah pula, tingkat moralitas manusia dapat terukur dari kadar
pemihakannya pada sang tokoh atau idola yang menjadi cermin dan teladan
hidupnya. Dan orang yang bermoral baik (dan memahami sejarah) maka akan
berpikir seribu kali untuk ikut-ikutan mengenakan kaos bertuliskan:
CIA, George W. Bush, Laskar Ken Arok, Ratu Pantai Selatan, Supersemar,
Nebuchadnezzar dan lain-lain. Dengan itu maka seriuslah persoalan
sejarah ini, karena Allah benar-benar melarang manusia untuk memihak
musuh-musuh-Nya, yang sekaligus musuh orang-orang beradab (beriman).
Dan sebelum memahami sejarahnya (ilmunya), mungkin saja kita pernah
keliru memihak si X atau Z, tetapi setelah kita mempelajarinya, maka
pahamlah kita bahwa ternyata ada pihak-pihak tertentu yang memprovokasi
kita untuk ikut memihak X atau Z itu, yang merupakan skenario ciptaan
manusia demi kepentingan status quo duniawi semata. Dengan demikian,
mempelajari sejarah identik dengan mengikuti dan menelusuri arus
perubahan yang terjadi, bahwa dalam hidup ini ada hal-hal yang menurut
kita kecil dan sepele, namun melalui perjalanan waktu, boleh jadi
persoalan itu adalah hal yang serius dan besar. Dan sangat mungkin ada
hal-hal yang menurut kita remeh dan ringan saja, padahal menurut Allah,
hal itu adalah perkara serius yang harus ditangani sebagai
tanggungjawab kita, di mana Allah tidak akan merubah suatu bangsa
sebelum ada kemauan keras dari bangsa itu untuk merubah dirinya
sendiri. Barangkali itulah yang membuat Bung Karno sering mewanti-wanti
dalam pidatonya, dengan mengutip kata-kata Thomas Carlyle: "Pelajari
dan pelajari sejarah, agar manusia menjadi bijaksana lebih dahulu!"
Dengan itu maka yang terpenting menjadi syarat utama sebagai bekal
hidup manusia adalah menjadi bijaksana dulu, menjadi sabar dulu,
memakai "baju takwa" dulu, hingga segala prestasi dan kesuksesan akan
bermunculan dari potensi dan bakat-bakat besar yang dimiliki bangsa
ini; yang membuat kejayaan negeri ini dapat tercapai dari hasil impian
dan cita-cita yang bukan didasari kebencian, amarah dan dendam belaka.
(gemanusa banten)

Ringkasan lain tentang Bangsa yang meraih prestasi atas dasar dendam dan amarah
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------