Acara dialog "Ngeriung Kawula Muda" yang belakangan sering diadakan
Majalah Teras, Radio Pass FM dan Gema Nusa, masih berkisar di seputar
azab dan ujian Allah yang akhir-akhir ini sering menimpa bangsa kita
dan seluruh dunia, yang merupakan satu paket Grand Scenario Allah
ataukah ulah tangan-tangan manusia sendiri? Sebagai masyarakat beriman
kami sepakat bahwa tak ada istilah "kebetulan"
atas kejadian-kejadian
itu, dan Allah tak akan menimpakan azab kepada
orang-orang beriman,
kecuali hanya cobaan demi cobaan, sampai kemudian manusia mengadakan
introspeksi-diri (bertobat) hingga menjadi penyabar dan bijaksana.
Adapun bagi yang tidak tertimpa cobaan, tetaplah hal itu merupakan
ujian baginya agar turut prihatin, berempati menolong dan menguatkan
iman mereka. Sedangkan bagi yang punya kewenangan dan keahlian
tertentu, diharuskan mengadakan penyelidikan di lapangan, serta
diadakan penelitian ilmiah tentang apa yang menyebabkan terjadinya
musibah-musibah itu, dan atas ulah perbuatan siapa?
Pihak mana yang
menyebabkan orang-orang bisa mati dan terbunuh? Proyek-proyek apa yang
menimbulkan hutan-hutan semakin gundul, banjir, longsor dan seterusnya?
Lantas di posisi manakah seharusnya pemerintah berpihak: kepada yang
dikorbankan ataukah justru yang mengorbankan? Dan ada benarnya bahwa
setiap nasib berada di tangan Allah, tetapi yang ditugaskan Allah buat
manusia (pihak berwenang) adalah menindak secara hukum, serta mengadili
pihak-pihak yang bertanggungjawab atas rusaknya tatanan sistem, sebagai
contoh pelajaran demi terciptanya perubahan dan perbaikan di masadepan.
Dengan itu sudah menjadi kewajiban pemimpin untuk memahami persoalan
itu secara multidimensi,
karena akan menjadi celaka bagi suatu bangsa
bila pemimpinnya berpikir sepotong-sepotong, ketika di satu sisi ia
menyuruh rakyat agar bersikap tabah dan sabar, namun di sisi lain ia
kurang peka memahami, bahkan memihak proyek-proyek kaum penjajah (yang
memang gemar menebar ketakutan), lantas memanfaatkan penderitaan rakyat
dengan memborong produk-produk mahal yang memang telah mereka
persiapkan sebelum musibah-musibah itu terjadi, hingga rakyat semakin
terpuruk karena terkurasnya kas negara (untuk hal-hal yang kurang
perlu, atau harga-harga yang dimanipulasi). Karena itu ada benarnya
bila nasib suatu bangsa berada dalam takdir Allah, dan setiap yang
berbuat jahat akan mendapatkan balasannya, tetapi berhati-hatilah
dengan pola pikir semacam ini, karena selama rakyat kita di bawah
naungan pemimpin yang tidak punya keberanian untuk mengadili
pihak-pihak yang paling bertanggungjawab atas timbulnya kerusakan
darat, laut dan udara, maka selama itu pula kata-kata "adil-makmur"
hanya berfungsi sebatas reifikasi atau permainan bahasa, karena
tindakan-tindakan kita masih belum mendekati kehendak dan cita-cita
Allah Yang Maha Politis dan Maha Pencipta Perubahan. (
gemanusa banten)
Ringkasan lain tentang Memperjuangkan "politik Allah" yang pro-perubahan dan perbaikan